
Saat sudah sampai di dekat rumahnya, Toni membelokkan stir mobilnya ke rumah Roy. Entah kenapa ia ingin bercerita pada sahabat yang sudah jarang ia temui.
Toni turun dari mobilnya dan berjalan memasuki rumah Roy. Ia sudah terbiasa datang ke rumah Roy dan langsung masuk ke dalam rumah.
"tante Roy ada?" sapa Toni pada mamanya Roy
"oh...ada...ada....langsung masuk saja" ucap mamanya Roy sambil melanjutkan pekerjaannya.
Toni berjalan memasuki kamar Roy "Roy..."
"tumben ke sini" cibir Roy
"ckkk....aku pulang saja kalau begitu..." Toni membalik badannya
"kalau inget aku berarti ini masalah Dina" Roy terkekeh
"sok tau kamu...!" Toni merebahkan tubuhnya di atas kasur
"biasanya kan memang begitu"
"aku baru saja pergi dengan Dina..." ucap Toni dengan senyum mengembang
"tumben....bukannya kamu sudah punya pacar?"
"sudah putus...dia tidak lebih baik dari Fara...!" jawab Toni ketus
Roy tergelak "terus siapa yang lebih baik?"
"sudah pasti Dina" Toni menatap langit-langit kamar Roy
Tawa Roy semakin kencang "masih belum bisa pindah ke lain hati?"
"sudah tahu tanya!" Toni melempar Roy dengan bantal
"terus mau kamu bagaimana? Dina sudah punya pacar, tak mungkin dia meninggalkan pacarnya demi kamu" cibir Roy
"kamu ini....bukannya membantu malah meledek" Toni kesal
"Dina sudah bahagia, jangan kamu usik lagi..." ucap Roy sambil mengembalikan bantal yang tadi dilempar oleh Toni.
Toni menghela nafasnya "hanya dengan Dina aku merasa bahagia Roy"
Roy duduk di tepi tempat tidurnya "aku sudah jarang bertemu Dina, aku tak sekarang Dina seperti apa, yang aku tahu Dina itu setia, terakhir kali dia bercerita mantannya mendekatinya lagi, bahkan melamarnya"
"mantan? Siapa?!" Toni tak terima
"mantan dia setelah putus darimu" ucap Roy datar
__ADS_1
"hah...? Terus?!" Toni bangun dari tidurnya
"Dina menolaknya, dan cowok itu masih tetap mendekatinya" Roy menatap Toni yang terlihat kebingungan "Dina itu setia Ton, ia tak akan mudah kamu dekati"
"aku akan berusaha mendapatkan dia lagi Roy, bagaimanapun caranya"
"jangan terlalu memaksanya, semakin kamu memaksanya ia akan semakin menjauh"
Toni menghela nafasnya "iya aku tahu, tapi hari ini awal yang baik untukku"
Toni pulang ke rumahnya, ia memikirkan semua perkataan Roy. Toni mengakui Dina memang setia dengan pacarnya. Terbukti setelah sekian lama mereka masih tetap berpacaran padahal mereka harus menjalani hubungan jarak jauh.
.
Keesokan harinya, Toni sedikit kawatir dengan Dina karena sempat kehujanan bersamanya. Dirinya tak tenang, ingin sekali menelpon Dina tapi ia ragu.
Toni membuka ponselnya dan teringat ia telah menyimpan nomor ponsel Dina. Toni mulai mengetik pesan singkat untuk Dina
📨 hai Din...ini aku Toni, hari ini kamu baik-baik saja kan? Ini nomor ponselku disimpan ya
Toni menunggu balasan dari Dina dengan perasaan cemas. Ia takut Dina tak akan membalas pesan singkatnya. Toni mondar-mandir di dalam kamarnya sambil sesekali melihat ponselnya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Toni segera membuka ponselnya.
✉ iya Ton, aku simpan, pagi ini aku sedikit demam, tapi sekarang sudah membaik
Toni merasa bersalah karena sempat membuat Dina kehujanan. Ia mengetik pesan singkat lagi untuk Dina
📨 gara-gara kehujanan kemarin ya? Maaf ya Din
^^^✉ mungkin kecapekan saja^^^
📨balik ke kota J kapan? Aku nanti sore mau ke tempat kakakku, bareng aku saja ya?
Tak ada balasan lagi dari Dina, Toni memutuskan untuk membereskan barang bawaannya yang akan ia bawa ke kota J. Sesekali ia mengecek ponselnya tapi masih belum ada balasan dari Dina.
Ponsel Toni berbunyi, ia buru-buru mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan singkat masuk, ia membukanya dan merasa kecewa
📩 kamu pindah rumah ya? Kamu kapan balik ke kota J? Aku ingin bertemu
Andini yang mengirimkan pesan singkat untuknya. Toni meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas pesan singkat Andini.
Jam menunjukkan sudah pukul tiga lebih empat puluh lima menit. Ponsel Toni kembali berbunyi, dengan rasa enggan ia membuka pesan singkat di ponselnya.
✉ aku ke kota J sore ini, iya aku mau bareng kamu.
Toni bersorak kegirangan, setelah lama menunggu, Dina membalas pesan singkatnya. Karena tak sabar, ia pun menelpon Dina.
__ADS_1
Tak ada pikiran buruk, ia begitu senang Dina mau pergi dengannya lagi.
^^^📲Halo^^^
"halo Din, aku jemput jam berapa?"
^^^📲hmm....memangnya kamu berangkat jam berapa?^^^
"terserah kamu, aku kapan saja bisa, hanya mengantar barang saja ke kos kakakku"
^^^📲oh...baiklah...jam setengah lima atau jam lima begitu ya..."^^^
"oke, aku siap-siap dulu"
Dengan semangat empat lima, Toni bersiap-siap secepat mungkin, ia tak mau Dina menunggunga terlalu lama. Lima belas menit ia sudaj selesai bersiap.
Ia turun dari kamarnya dengan keadaan rapi. Rumahnya sepi, hanya tinggal mbok Nah saja.
"mas Toni sudah mau berangkat?" mbok Nah menghampiri Toni yang sedang membuka pintu garasi
"iya mbok, mau ke rumah Dina dulu..." ucap Toni dengan riang gembira
"memangnya perginya dengan non Dina?"
"iya mbok....sudah ya...aku berangkat dulu, takut Dina menunggu lama" Toni menyalakan mesin mobilnya kemudian perlaham meninggalkan rumahnya.
Lima belas menit kemudian, ia telah sampai di rumah Dina. Toni mengetuk pintu rumah Dina, dan mamanya Dina yang membuka pintunya.
"sore tante...." sapa Toni sopan
"sore..."
"Dina sudah sehat tante?"
"tante lihat sih masih pucat....kamu kesini jemput Dina?"
"iya tante....tadi Dina bilang mau berangkat bareng saya"
"kamu duduk dulu, tante panggilkan Dina dulu...." mamanya Dina masuk ke dalam rumahnya.
Dengan perasaan berbunga-bunga Toni menunggu Dina di teras rumahnya. Ia tak pernah menyangka, apa yang ia harapkan selama ini akhirnya bisa terwujud.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g