Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 216 Kursi roda


__ADS_3

Pagi harinya, Dina sudah merasa lebih baik, ia ingin berangkat kerja namun mobilnya berada di kantor, sementara papanya sudah berangkat dari pagi. Mau naik motor tapi dilarang oleh mamanya, alasannya kakinya belum cukup kuat menumpu motor.


Dina sudah rapi dengan setelan kerjanya, namun ia bingung harus meminta tolong pada siapa untuk mengantarnya berangkat kerja. Dina mengambil ponselnya, terpaksa ia menghubungi Toni tak ada pilihan lain ia meminta Toni menjemputnya.


Dina tahu akan terjadi perdebatan di antara mereka berdua, dan akhirnya dimenangkan oleh Dina karena ia memiliki alasan yang kuat untuk masuk kerja.


Lima belas menit menunggu, Toni pun tiba di rumah Dina. Setelah berpamitan pada calon ibu mertuanya, Toni menggendong Dina masuk ke dalam mobil.


"aku bisa berjalan sendiri" protes Dina


"jika kamu tetap mau berangkat ke kantor, kamu cukup diam ikuti apa yang aku mau" ucap Toni kemudian melajukan mobilnya ke kantor.


Dina mengerucutkan bibirnya, ia mendesah kesal karena terlalu banyak aturan padahal hanya mau pergi ke kantor. Setengah jam berlalu mereka telah sampai di gedung milik Wijaya Group.


Dina melepas sabuk pengaman, dan hendak turun dari mobil namun ditahan oleh Toni.


"tunggu sebentar" Toni membuka pintu bagasi kemudian menutupnya kembali


Dina terperangah di hadapannya Toni sedang mendorong kursi roda


"aku tidak lumpuh....aku masih bisa berjalan!" ucap Dina ketus


"kamu naik ke kursi roda, atau aku antar kembali pulang?"


"baiklah..." Dina terpaksa menuruti Toni. Toni dengan sigap menggendong Dina dan mendudukkannya di kursi roda.


"parkirkan mobilku" Toni melemparkan kunci pada satpam gedung. Kemudian ia mendorong kursi roda menuju lift. Semua orang menatap heran pada Dina. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Dina hingga harus memakai kursi roda itu

__ADS_1


Toni membawa Dina ke ruangannya "kenapa ke sini?" protes Dina


"kamu bekerjalah di sini, agar aku bisa menjagamu" ucap Toni tak mau dibantah


Toni pun menekan tombol telepon dan memangil sekretarisnya "tolong bawakan laptop serta semua berkas yang ada di ruangan Dina ke sini" ucap Toni di telepon


Lima menit menunggu, Rama masuk membawa setumpuk dokumen serta laptop milik Dina "letakkan di mejaku"


Rama mengangguk, menuruti apa yang bosnya perintahkan setelahnya ia keluar kembali ke meja kerjanya.


"hari ini kita berbagi meja kerja..." ucap Toni mendorong kursi roda Dina ke depan meja kerjanya.


Dina mengalah, itu lebih baik daripada ia tak boleh masuk kantor oleh Toni. Ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum acara ulang tahun perusahaan digelar.


Toni memperhatikan Dina yang terlihat sangat serius jika sudah bekerja, sambil sesekali menelpon. Ada rasa bangga di hati Toni, Dina benar-benar cekatan dan bisa diandalkan. Tak salah papanya menunjukknya sebagi asistennya. Karena tanpa Dina Toni tak akan bisa cepat belajar menangani perusahaan yang memiliki beberapa anak perusahaan di berbagai bidang.


"aku ingin ke kantin...aku lapar...." ucap Dina masih acuh tak acuh


"tunggu sebentar...." ucap Toni


Tak lama pintu diketuk, Rama membawa beberapa kotak makan dan menyerahkan pada Toni.


"ayo makan dulu..." Toni berjalam ke arah sofa dan meletakkan makanan itu di meja. Toni mendorong kursi roda Dina ke sofa, kemudian ia mulai membuka satu per satu kotak yang tadi di antarkan oleh sopir papanya.


"ini semua masakan mbok Nah....aku sengaja memintanya memasak makanan kesukaan kamu agar kamu cepat pulih" ucap Toni mulai menyuapkan makanan ke bibir Dina


"aku bisa makan sendiri"

__ADS_1


"ayolah sayang....sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini? Pernikahan kita tidak akan lama lagi..." ucap Toni sedikit frustasi


"jika kamu keberatan, kamu bisa membatalkannya" ucap Dina acuh, padahal dalam hatinya ia berkata sebaliknya. Dua hari ini mendapat perhatian dari Toni membuat ia kembali luluh, namun gengsinya terlalu tinggi, ia tak mau mengakui jika kini ia sudah memaafkan Toni.


"aku tidak akan membatalkannya, sudah sejauh ini, aku tak akan menyerah begitu saja" Toni menyuapkan makanan ke mulut Dina dan tak ada penolakan sama sekali. Hingga makanan Dina habis tak bersisa, Toni tersenyum puas melihat Dina yang lahap makannya.


.


Ulang tahun perusahaan tinggal satu hari lagi, Dina sudah sepenuhnya pulih. Kakinya bergerak ke sana ke mari dengan lincah di dalam ballroom hotel berbintang lima milik Wijaya Group. Dina memastikan semua siap sesuai kemauannya.


Dina memang selalu perfeksionis, ia ingin segala sesuatunya berjalan sempurna. Toni yang baru datang ke ballroom itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Dina yang bergerak ke sana ke mari memeriksa semuanya.


"dari awal aku tidak salah memilih menantu" Yanuar menepuk bahu Toni sambil menatap Dina yang tampak sibuk memeriksa dan sesekali memerintah para pekerja.


"aku yakin di tangan kalian Wijaya Group akan berkembang lebih baik lagi"


"aku juga tidak salah memilih calon istri, aku sungguh malu dengan diriku yang sering menyakiti hatinya" ucap Toni sendu


"aku tahu Dina itu tulus....karena itu aku hanya menginginkan dia jadi menantuku, jika kamu membawa wanita lain, aku akan mencoret namamu dari kartu keluarga" ucap papanya Toni tegas


Toni menelan ludahnya susah payah, ia memang tak akan membawa wanita lain untuk dijadikan istri namun perkataan papanya mampu membuat ia ketakutan.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2