
Setelah selesai sarapan, Toni kembali ke kamarnya, hari ini ia ingin ke sekolah membawa motor. Merasa telah membalas sakit hatinya pada Bian, ia ingin mengajak Dina keluar, makan di tempat favorit Dina.
Toni mengambil kunci motor dan tasnya kemudian turun, melewati ruang keluarga. "Ada masalah apa kamu dengan anaknya Heru?!" tanya papanya Toni dengan wajah marah
"masalah kecil pa...masalah anak muda..." jawab Toni santai sambil berlalu dari hadapan papanya
"Toni...! papa belum selesai bicara!" bentak papanya Toni
"Ada apa lagi pa?!" ucap Toni malas
"masalah apa, sampai anak Heru kemari marah-marah seperti itu?!"
"hanya masalah basket pa..."Toni menjawab dengan nada kesal
"basket? Kamu main basket lagi?" papanya Toni mengerutkan dahinya
"enggak pa...kemarin Bian mengajak aku ikut turnamen, tapi aku tidak bisa datang, karena tiba-tiba ada urusan ke kota J" kilah Toni.
Toni tak ingin papanya tahu masalahnya. Ia tak mau membuat papanya marah besar, dan berakibat semua fasilitas yang ia pakai diambil oleh papanya.
"bagus...kamu jangan dekat-dekat dengan anak Heru itu!" ucap papanya sambil berlalu meninggalkan Toni. Toni bergegas berangkat ke sekolah, dia sudah menyiapkan dirinya jika Bian membuat masalah di sekolah.
Toni masuk ke dalam parkiran, dan melihat motor Dina sudah terparkir, ia pun memarkirkan motornya dekat dengan motor Dina. Toni berjalan menyusuri lorong kelas-kelas tiga.
Ketika berada di depan kelas Bian, Toni berhenti sejenak dan menatap datar pada Bian dan teman-temannya yang juga menatap dirinya dengan kilatan amarah di mata mereka.
Toni berjalan santai masuk ke kelasnya, sudah ada Roy yang menunggunya dengan perasaan cemas.
"Bian sepertinya marah besar..." ucap Roy terdengar was-was
"biarkan saja..." ucap Toni datar
"kenapa kamu bisa santai begitu?!" Roy tak percaya dengan apa yang ia dengar
"lantas aku harus ikut marah-marah begitu?!" jawab Toni ketus
"aku hanya tak ingin terjadi apa-apa padamu Ton..."
.
Bel tanda jam istirahat pertama telah berbunyi. Dina memilih untuk duduk-duduk di kursi taman depan kelasnya. Yuni menyusulnya dan ikut duduk di samping Dina.
__ADS_1
"Din, kamu pacaran sama adiknya Gilang?" tanya Yuni
Dina menoleh ke arah Yuni, dia heran tahu dari mana Yuni kalau Dina berpacaran dengan Dendy.
"memangnya kenapa Yun?" Dina mengernyit
"Dendy itu enggak baik Din" ucap Yuni
"maksud kamu?"
"dia itu sudah punya pacar, pacarnya satu sekolah sama dia"
"dari mana kamu tahu aku pacaran sama dia?"
Dina makin dibuat bingung dengan ucapan Yuni. Sebenarnya apa mau Yuni kenapa dia berbicara seperti itu kepadanya.
"temanku bercerita, pacarnya memutuskannya karena suka sama anak sekolah kita namanya Dina" ucap Yuni
"terus apa hubungannya sama aku Yun?" Dina mengerutkan dahinya
"pacarnya itu namanya Dendy, dan Dina yang dia maksud itu kamu"
"hah..." Dina terkejut setahu dia Dendy tidak punya pacar waktu itu apakah yang dimaksud Yuni adalah Nana yang mengaku sebagai pacar Dendy.
"kok kamu tahu?" Yuni kaget Dina mengetahui nama temannya
"aku pernah ketemu dia, dia bilang Dendy calon pacarnya belum jadi pacarnya" jawab Dina dengam senyuman
"tetap saja kamu merebut Dendy dari dia"
"terserah apa anggapanmu Yun, yang jelas aku tidak merebut siapapun dari pacarnya" ucap Dina kesal meninggalkan Yuni yang masih duduk terdiam menerima kenyataan orang yang dia bela ternyata berbohong. Niat hati membantu teman dekatnya waktu SMP malah dia mendapat malu.
Dina merasa tak ada gunanya ia menjelaskan siapa Dendy kepada Yuni. Yuni telah termakan hasutan temannya jadi mau dijelaskan seperti apapun juga tetap tidak akan menerima penjelasan Dina.
Dina memutuskan untuk ke perpustakaan, tapi perpustakaan sungguh ramai, Dina memutuskan untuk kembali saja ke kelasnya. Ketika kembali ke kelas dia tidak sengaja bertemu dengan Toni. Tapi mereka tidak saling menyapa. Bahkan hanya sebuah senyuman pun tidak.
Dina tidak mau ambil pusing, karena memang itu yang dia harapkan. Padahal nyatanya Toni sedang menahan rasa bersalahnya kepada Dina. Dina masuk ke kelasnya di sana tidak ada Yuni entah dia kemana. Dina duduk di bangkunya dan memilih untuk mengobrol dengan Putra.
.
.
__ADS_1
Jam istirahat pergantian jam sore pun tiba. Dina bergegas keluar kelas dia ingin ke tempat saudara mamanya, karena sudah lama tidak ke sana. Waktu berjalan ke arah gerbang sekolah Dina bertemu lagi dengan Toni. mereka masih tidak saling menyapa.
Dina berjalan keluar dari gerbang sekolahnya, dia menengok ke kiri dan ke kanan memastikan apakah Dendy sudah menunggunya, tapi tidak ada Dendy di situ. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk kembali ke tempat parkir untuk mengambil motornya.
Dina terkejut, ternyata motornya terparkir tidak jauh dari motor Toni.
"mau kemana Din?" tanya Toni sambil menyalakan motornya
"mau ke tempat saudaraku" jawab Dina singkat
"bareng sama aku saja, aku juga mau pulang"
"enggak usah Ton, aku bisa naik motor sendiri" ucap Dina datar
"Din, aku minta maaf soal kejadian di resto S tempo hari, kalau kamu memang tidak bisa menerimaku lagi seenggaknya kita masih bisa berteman 'kan?" ucap Toni kembali mematikan mesi motornya
"aku sudah melupakannya Ton"
"enggak apa-apa 'kan kalau seorang teman mau mengantar kamu pulang?" ucap Toni lembut
"ayo, naik aku antar kamu"
Dina tampak berpikir, sebenarnya dia malas naik motor sendiri ke tempat saudaranya tapi dia juga memikirkan perasaan Dendy kalau tahu dia berboncengan dengan Toni.
"tidak Ton, terima kasih" Dina naik ke atas motornya dan mulai menyalakan mesinnya
"ya sudah hati-hati di jalan kalau begitu, kalau kamu mau...mampir ke rumahku ya, pintu rumahku selalu terbuka lebar untuk kamu" ucap Toni dengan senyum mengembang kemudian dia melajukan motornya keluar gerbang.
"kenapa kamu semakin jauh Din...aku sudah membalaskan sakit hati kita...tak adakah kesempatan untukku dekat denganmu walau hanya sebagai teman dekat Din?" batin Toni memperhatikan Dina yang semakin lama menghilang di balik tembok sekolah.
Sejak peristiwa di resto S sikap Dina kepada Toni berubah lagi. Ia tak lagi ramah terhadap Toni. Andaikan ia tak terpancing emosinya, dan berbicara sedikit membentak Dina pasti Dina tak akan marah padanya.
Andai saja ia tak berusaha mengejar-ngejar Dina lagi, pasti Dina tak akan merasa risih jika berada di dekatnya. Toni menyesali semua, ia merenungkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Bersikap biasa saja atau dia akan merebut Dina dari pacarnya. Toni pikir setelah rasa sakit hatinya terbalaskan semua akan membaik, tapi ternyata semua tetap sama, tidak lebih baik dan tidak lebih buruk.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g