
Toni memilih sementara waktu menjaga jarak dengan Andini. Ia tak ingin terlalu dekat, dan membuatnya berharap banyak padanya.
Tapi tidak untuk hari ini, ia akan menuruti kemauan Andini. Ia tak mau dianggap orang yang suka mengingkari janjinya. Dengan cepat ia menyelesaikan mandinya, dan bersiap karena ia harus menemui klien yang akan bekerja sama mengembangkan perusahaannya.
Toni keluar dari kamarnya dan mendapati Andini sudah rapi kembali. Ia menatap datar Andini, kembali lagi pada sikapnya dulu setelah ia putus dari Dina.
"sudah siap Ton..." tanya Andini dengan senyum mengembang
"ayo berangkat sekarang, aku harus bertemu orang di mall X" ucap Toni datar berdiri di depan Andini
Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari rumah kontrakan Toni. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Toni.
Toni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota J. Lima belas menit perjalanan mereka berdua telah sampai di tujuan.
"kamu kalau mau jalan-jalan, jalan-jalan saja dulu, aku mau bertemu klien di resto 'K ' nanti aku temani kamu kalau sudah selesai" ucap Toni sambil mematikan mesin mobilnya
"tapi Ton...aku lapar....aku ikut dengan kamu ya...." rengek Andini
"An...aku bertemu klien bukan sekedar makan siang, tolong mengertilah..."
"aku ikut...." Andini merajuk kembali
"baiklah...tapi kamu duduk di meja lain ya....aku harus fokus dengan klienku" ucap Toni sambil membuka pintu mobilnya. Ia menyudahi perdebatan yang ia rasa tak akan selesai jika ia tak mengalah
Andini turun dari mobil sambil membanting pintu mobilnya Toni. Toni memejamkan matanya, ia menahan emosinya, jika bukan karena anak orang kepercayaan papanya, Toni tak akan mau mengenal Andini dan terjerumus pada hubungan yang tak menyenangkan baginya.
Toni berjalan dengan santai, tak menghiraukan Andini yang sedang merajuk. Kini baginya tak penting menjaga perasaan Andini. Setelah semalam, kini ia tahu sifat asli Andini yang selama ini baik di depannya.
Dengan perasaan kesal, Andini mengikuti Toni. Toni berjalan masuk ke sebuah restoran yang tergolong mewah di kota itu. Andini mengekori Toni, meskipun ia kesal terhadap Toni, tapi ia berjalan dengan angkuhnya memasuki restoran mewah yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
"kamu duduk di sana saja aku mau bertemu dengan klien" ucap Toni datar
"tapi Ton....!"
"nanti aku temani jalan-jalan" ucap Toni singkat. Ia tahu pasti Andini ingin ikut bersamanya bertemu dengan kliennya
Mau tidak mau Andini mengikuti apa yang Toni katakan. Sudah sejak lama ia ingin makan di situ, jika ia membantah Toni takutnya nanti berubah pikiran, dan ia ditinggalkan Toni di sana.
Toni berjalan ke sebuah kursi di sudut resto tersebut, ia menunggu kliennya, sedangkan Andini duduk di sudut yang lain di resto tersebut.
__ADS_1
Dua setengah jam lamanya Andini menunggu Toni dengan rasa kesal. Ia bolak-balik menatap ke arah Toni yang sedang serius berbicara dengan kliennya. Ingin rasanya ia beranjak dan menarik Toni dari sana.
Toni menyadari jika Andini sedang sangat kesal menunggunya, tapi ia tak peduli. Ia lebih memikirkan masa depan usaha papanya di kota itu.
Tiga jam pertemuan itu akhirnya Toni selesai, ia pun menghampiri Andini yang terlihat putus asa. "Ayo..." Toni berdiri di hadapan Andini dengan wajah datar serta kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
"kenapa lama sekali?" rengek Andini
"siapa suruh kamu ikut"
"pokoknya kamu harus menemani aku jalan-jalan" ucap Andini dengan nada manjanya
"ayo..." Toni membalik badannya, dengan perasaan kesal Andini mengikutinya
"Toni...tunggu...!"
Toni tak menjawab ia berhenti menunggu Andini, Andini menghampirinya kemudian melingkarkan tangannya di lengan Toni bergelayut manja
Andini mengajak Toni masuk ke sebuah toko pakaian, ia memilih-milih baju dan membawanya ke kasir. "Ton....kamu yang bayar ya...." rayu Andini
"aku?!" Toni dengan nada terkejutnya. Baru saja sehari mereka berpacaran tapi Andini sudah meminta dibelikan barang-barang.
"aku akan membayarnya tapi hanya satu..." Toni mengambil satu buah baju dan membayarnya
"terus sisanya?" protes Andini
"terserah kamu..." jawab Toni acuh kemudian ia membelikan baju yang telah ia bayar pada Andini
.
Hari-hari berlalu, Toni dibuat pusing dengan tingkah laku Andini. Ia selalu merengek minta di antar jemput ke kampusnya. Padahal Toni sengaja membolos kuliah karena ia harus mempersiapkan kerja sama kantor cabangnya dengan Pak Ferdi klien yang ia temui kemarin hari minggu.
Toni menyerah, ia tak menanggapi rengekan Andini, ia memilih fokus dengan pekerjaannya. Bahkan ia pulang ke kota K ia tak memberitahu Andini.
"Ton...papa dengar kamu sukses melobi Pak Ferdi ya..." ucap papanya ketika sedang makan malam
"iya pa..."
"sebagai penghargaan atas kerja kerasmu, papa akan membelikan rumah untukmu di kota J"
__ADS_1
"aku akan membeli sendiri pa, jika uang tabunganku sudah cukup"
"jangan begitu....papa menghargai jerih payahmu memajukan usaha papa, apalagi Pak Ferdi itu orang yang sulit untul didekati, dulu pak Herman saja gagal mengajukan kerja sama dengannya"
"baiklah pa...tapi Toni yang akan mencicilnya"
"jangan Ton...itu hadiah untukmu..."
"tidak pa...aku ingin memiliki rumah sendiri dari hasil kerja kerasku, kalau aku tidak boleh mencicilnya, papa potong saja dari gajiku tiap bulan untuk mencicil rumah itu"
"baiklah..." Pak Yanuar mengalah, ia tahu Toni ingin bisa memiliki sesuatu dari kerja kerasnya selama ini.
"ada satu syarat lagi pa..."
"apa itu?"
"jangan sampai ada orang lain yang tahu kalau aku pindah rumah"
"baiklah...aku akan menyuruh om Herman untuk mengurus semuanya"
"jangan pa...biar aku sendiri yang mencarinya..."
"memangnya ada apa? Bukankah kamu dekat dengan anak om Herman?"
"sudahlah pa...tidak perlu dibahas lagi..."
Toni meninggalkan meja makan. Papanya hanya menatap dengan penuh rasa heran. Kenapa anak laki-lakinya itu menjadi anak yang misterius.
Di kamarnya Toni merenung, bagaimana cara memutuskan Andini. Ia merasa sangat terganggu dengan kehadiran Andini. Ia dulu berpikir Andini adalah cewek yang baik, ternyata semakin ke sini ia semakin tahu sifat asli Andini.
Ia merasa tak ada yang sebaik Dina. Tak ada yang bida menggantikan posisi Dina. Tapi ia tak tahu bagaimana cara untuk mendekati Dina lagi, ia tak tahu keeberadaan Dina sekarang.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya bestie...