
Pintu kamar terbuka, dan Toni masuk hanya mengenakan boxer untuk menutupi bagian bawahnya saja. Dina baru menyadari tubuh tunangannya itu semakin hari semakin bagus.
"sudah bangun?" Toni berjalan menghampiri Dina yang masih duduk di ranjang.
"dari mana saja?"
"dari dapur sayang...." Toni merangkak naik ke atas tenpat tidur
"rasanya tenang ya....tanpa deringan ponsel dan juga telepon" Dina terkekeh
"iya...sudah lama aku tidak menikmati hari tenang seperti ini" Toni mengecup singkat bibir Dina "ayo sarapan dulu, aku sudah memasak untuk sarapan kita" Toni menarik tangan Dina, namun Dina melepaskan tangannya
"kenapa?" Toni mengerutkan dahinya
"aku pakai baju dulu" Dina menurunkan kakinya dari ataas tempat tidur
"buat apa memakainya kalau setelah ini dilepas lagi" Toni tersenyum nakal "sudah pakai ini saja" Toni memberikan ****** ***** milik Dina, sedangkan Dina mengerucutkan bibirnya, ia merasa kesal, ia tak menuruti Toni, ia mengambil kemeja yang Toni pakai semalam langsung memakainya
"begini lebih baik" ucap Dina kemudian keluar dari kamar diikuti Toni. Mata Dina berbinar ketika melihat makanan sudah tersaji di meja makan, semalam ia belum makan apa-apa karena terlalu asyik mendaki puncak kenikmatan bersama Toni.
"kenapa banyak sekali makanannya?" Dina menarik kursi dan duduk
"agar tenagamu pulih kembali, karena setelah ini kita melanjutkan yang semalam" Toni tersenyum jahil
__ADS_1
"dasar otak mesum" Dina mengerucutkan bibirnya
"aku sudah berjanji akan mengulangi kenanangan pertama kita di sini, jadi bersiaplah.. ." Toni mulai mengisi piringnyanya dengan pasta dan salad yang telah ia masak. Sedangkan Dina memililih memakan steaknya terlebih dahulu.
Masakan Toni benar-benar memanjakan lidahnya. Sampai-sampai makanan yang dimasak Toni habis tak bersisa. Toni tersenyum, melihat Dina yang menghabiskan semua makanan yang ia masak. Kini Toni sudah sepenuhnya sadar, jika Dina selama ini sudah menyerahkan sepenuhnya hatinya padanya.
Tanpa Dina sadari, sebelum Dina bangun ia sempat memeriksa tas milik Dina, ia tahu kebiasaan Dina selalu membawa pilnya kemanapun ia pergi. Namun pagi ini ia tidak menemukannya di tasnya, Toni berpikir jika Dina memang sudah berhenti meminum pil itu.
Hati Toni menghangat, ketika ia menghitung terakhir kali Dina datang bulan kapan, dian ini sudah masuk ke masa suburnya. Sekali lagi Toni berpikir jika Dina telah siap memiliki anak dengannya.
Setelah merapikan kembali tas Dina, dengan penuh semangat ia memasak makanan yang sehat, dan juga ia memperbanyak daging agar Dina bisa secepatnya hamil, dari yang pernah ia baca jika menginginkan anak laki-laki maka mereka harus banyak makan protein, dana pagi ini Toni sengaja memasukkan banyak protein dalam makannan mereka.
Toni juga bertekat, setelah menyelesaikan sarapan mereka, ia kan kembali lagi menggempur Dina agar Dina cepat hamil. Dalam pikirannya, pasti akan sangat bahagia, saat pernikahan mereka esok hari itu juga mereka mendapat kabar bahagia tentang kehamilan Dina.
Dina membereskan piring-piring bekas mereka pakai kemudian membawanya ke dapur untuk ia cuci. Toni mengekori Dina ke dapur, ia sudah membulatkan tekatnya akan membuat Dina secepatnya hamil, jika perlu besok ketika ada waktu di kantor ia akan mengulanginya lagi.
"sshh....geli sayang...." protes Dina sambil masih mencuci piring. Namun Toni tak mennghiraukannya, ia malah menelusupkan tangannya ke dalam kemeja yang dipakai Dina dan bermain-main di dada Dina
"kamu itu nggak liat aku sedang apa?" gerutu Dina namun ia juga menikmatinya. Toni memeluk Dina menyandarkan dagunya di bahu Dina namun itu hanya sebentar.
Tangan Toni mulai nakal, tangan kirinya bermain2 di gundukan kenyal milik Dina. Sedang yang kanan, bermain-main di bawah sana. Dina tak bisa fokus dengan apa yang ia kerjakan.
"sshh....sa...yang...." desah Dina. Toni memasukkan satu jarinya dan bermain-main di bawah sana. Merasakan sudah basah di bawah sana, Toni memasukkan dua jarinya dan mengobrak-abrik milik Dina hingga Dina hanya bisa berpegangan pada meja dapur menikmati setiap sentuhan itu.
__ADS_1
Toni memang pandai bermain-main, ia membuat pertahanan Dina runtuh. Tubuh Dina mengejang, suara merdu keluar dari bibirnya bersamaan dengan cairan hangat yang membasahi tangan Toni.
"masih mau menolak? Hem...?" ucap Toni sambil mengecup leher Dina. Dina tak bisa berkata-kata lagi ia hanya bisa menikmati setiap sentuhan.
Karena Dina hanya Diam Toni pun mendudukkan Dina di meja dapur, kemudian ia memasukkan senjatanya pada milik Dina. Yang ada di kepalanya hanya ia harus memenuhi rahim Dina dengan bibit unggul miliknya. Ia ingin memanfaatkan liburan kali ini dengan menghadirkan Toni junior.
Toni tak kenal lelah demi membuat Toni Junior hadir di dalam rahim Dina. Mereka berpindah-pindah tempat, hingga kaki Dina terasa lemas, bahkan hanya untuk menyangga tubuhnya saja ia tak sanggup.
Dan terakhir Toni membawa Dina ke sofa dan menyemburkan benih-benih bibit unggulnya, sambil berharap semoga secepatnya menjadi Toni junior.
"kamu sengaja ya....mana sepertinya banjir lagi" ucap Dina lirih. Toni hanya tersenyum "anggap saya kita mencicil honeymoon kita, tinggal enam belas hari lagi sayang...." ucap Toni mengusap wajah Dina yang penuh dengan keringat.
"hemm...aku lelah banget....tapi harus segera pulang, kalau nggak papa bisa marah-marah, karena sebenarnya aku sudah dilarang bepergian keluar kota" ucap Dina lirih karena kehabisan tenaga
"baiklah...kita mandi, setelah itu kita makan di resto saja, kamu makan yang banyak biar pulih lagi" ucap Toni kemudian menggendong Dina masuk ke kamar mandi dan memandikannya.
Setelah mengisi perutnya dan Dina sudah terlihat segar kembali, Toni mengajak Dina pulang. Sepanjang perjalanan Toni tak melepaskan genggamannya. Sesekali ia menciumi tangan Dina, yang tengah tertidur pulas.
Toni tersenyum, dalam hatinya berharap semoga Toni Junior segera tumbuh di rahim Dina. Padahal apa yang ia pikirkan berbanding terbalik dengan kenyataan. Semoga saja pikiran Toni tak membuat singa betina mengamuk.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g