Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 89 Koleksi


__ADS_3

Toni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rendah, ia menikmati perjalanan bersama Dina. "Kamu mau makan apa Din?" tanya Toni lembut


"apa saja...terserah yang traktir" Dina tersenyum


"baiklah.....apa saja kan? Makan di kaki lima gimana?" Tanya Toni tersenyum menatap Dina


"apa saja Ton....aku enggak masalah makan dimana saja" Dina terkekeh


"baiklah...." Toni tersenyum dalam hatinya ia senang, Dina masih tetap seperti dulu tidak pernah malu diajak makan dimana saja


Toni membelokkan mobilnya ke arah restoran yang sering ia kunjungi bersama Vanya. "Kenapa ke sini Ton?" Dina kaget


"memangnya kenapa? Kita mau makan kan?"


"iya....tadi katanya di kaki lima..." Dina mengerucutkan bibirnya


Toni terkekeh "jangan begitu Din....kencan pertama kok makan di kaki lima"


"memangnya kenapa? Sama-sama makan kan?" Dina menghela nafasnya bukannya ia tak mau makan di restoran hanya saja Toni tadi mengatakan akan makan di kaki lima.


"sudah ya...jangan berdebat lagi, aku sudah lapar" Toni mematikan mesin mobilnya kemudian turun , Dina pun ikut turun ia tak mau jika Toni membukakan pintu untuknya.


Toni berjalan masuk ke dalam restoran diikuti Dina. Toni memilih tempat duduk yang terletak di tepi kolam ikan karena tidak terlalu ramai.


"kamu mau pesan apa?" Toni membuka buku menu yang diantarkan oleh pelayan


"hmmm....apa ya....bingung mau makan apa...." Dina membolak-balik buku menu yang ia pegang


"aku pesankan untukmu boleh?" tanya Toni lembut


"ah...iya...terserah kamu saja...." Dina menutup buku menunya.


"kamu enggak berubah Din, enggak pernah meminta yang berlebihan, jika orang lain pasti sudah memesan yang mahal" batin Toni sambil menatap Dina yang sedang sibuk mengetik pesan di ponselnya


"kamu ganti nomor ponsel?" tanya Toni memecah keheningan


"ah....apa Ton?" Dina mengalihkan pandangannya pada Toni


"aku tadi mengirim pesan singkat, tapi tidak ada balasan dari kamu, kamu ganti nomor kah?"

__ADS_1


"oo....itu....enggak....aku enggak ganti nomor, sementara aku museumkan nomor lamaku" Dina terkekeh


"kenapa?" Toni mengerutkan dahinya


"lagi males diteror aja..." Dina kembali memerhatikan layar ponselnya


"teror? Siapa yang meneror kamu?"


"enggak penting, enggak perlu dibahas, aku hanya ingin tenang" Dina memasukkan ponselnya ke dalam tas


"tolong ketik nomor kamu yang baru" Toni menyodorkan ponselnya pada Dina. Dina mulai mengetikkan nomor ponselnya pada ponsel milik Toni.


Pesanan mereka datang, pelayan menata pesanan Toni di meja "kenapa banyak sekali? Kamu ada janji dengan orang?" Dina heran mereka hanya berdua tapi Toni memesan makanan cukup untuk empat orang


"aku kan sudah janji akan mentrakirmu sampai kenyang"


Dina menghela nafasnya "tapi enggak sebanyak ini Ton..."


Toni terkekeh "kalau enggak habis, nanti dibungkus saja buat kamu sarapan besok pagi"


"terserah kamu sajalah Ton..." Dina menyerah percuma berdebat dengan Toni


Mereka mulai makan, sesekali mereka bercanda, tak ada lagi rasa marah di dalam hati Dina. Dina sudah melupakan semuanya, ia kini menikmati masa-masa sendirinya tanpa gangguan cowok manapun.


"ini apa Ton? Kenapa rasanya ada rasa pahit tapi hangat" ucap Dina


"oh...itu ada campuran alkoholnya, enak kan?" Toni juga meminum minumannya


"iya enak....enak Ton....tapi enggak akan bikin aku mabuk kan" Dina dengan raut wajah serius


"kalau kamu minum satu botol ya mabuk Din...tapi kalau untuk campuran begini enggak akan mabuk" Toni terkekeh


Mereka berdua telah menyelesaikan makannya, Toni pun mengajak Dina untuk pergi ke taman yang ada di belakang restoran tersebut. Ia mengajak Dina duduk di tepi kolam di sisi lain ia makan tadi


"kamu yakin enggak ada yang marah jika pergi denganku?" tanya Toni


"memangnya siapa yang marah" Dina menatap langit yang bertaburan bintang


"pacar mungkin" Toni mengedikkan bahunya

__ADS_1


Dina tergelak "justru aku yang harusnya bertanya padamu"


"aku enggak punya pacar Din" jawab Toni serius


"jangan bohong, seorang Toni Wijaya enggak punya pacar enggak mungkin" Dina terkekeh


"aku serius Din....aku enggak punya waktu buat pacaran, waktuku ku habiskan untuk kuliah agar bisa cepat lulus" raut wajah Toni berubah menjadi serius


"enggak perlu marah...kamu enggak perlu menjelaskan apapun padaku" ucap Dina lembut menatap Toni


"kamu sendiri? Masih pacaran dengan yang dulu?" Toni berusaha menahan perasaannya


"aku sekarang dalam tahap koleksi" Dina menahan tawanya


"koleksi maksudnya?" Toni bingung dengan pwrkataan Dina


"iya....aku mau berteman dengan siapapun, kalau ada yang cocok dan benar-benar serius denganku baru akan ke tahap selanjutnya" tatapan Dina menerawang jauh


"entahlah....di umurku sekarang rasanya sudah enggak ingin lagi pacaran seperti dulu waktu masih sekolah, prinsipku sekarang koleksi, seleksi kemudian resepsi" Dina tersenyum menatap bintang-bintang


"prinsip dari mana itu Din, koleksi? Koleksi apa?" Toni penasaran


"aku mencontoh ajarah Wilson" Dina terkekeh "koleksi apa....? Koleksi cowok lah...masak iya koleksi sandal" Dina tergelak


"lantas sudah berapa koleksimu?" Toni menatap Dina dengan wajah serius


"entahlah....sekarang lagi ngumpulin cowok-cowok yang asyik....yang enggak overprotektif yang jelas nyari yang sudah mandiri" Dina menoleh menatap Toni


Toni merasa mendapat peluang untuk mendekati Dina. Ia berencana setelah sidang nanti Toni akan lebih sering menemui Dina. Sebenarnya ia ingin saat ini juga mengutarakan perasaannya tapi ia berpikir ulang.


Dina pasti menganggapnya main-main jika di pertemuan pertama mereka, Toni mengutarakan perasaannya. Selain itu ia juga ingin mengetahui seberapa jauh perubahan Dina.


Ia tak mau kejadian dengan Andini terulang lagi walaupun ia sudah lama mengenal Dina. Kali ini ia ingin lebih berhati-hati tak ingin gegabah seperti waktu lalu.


Karena menyangkut rencana masa depannya. Ia ingin meyakinkan dirinya sendiri jika Dina adalah pilihan yang terbaik untuknya. Dua tahun tak berjumpa ia tak tahu perubahan apa saja yang terjadi pada Dina.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2