
Setelah menyelesaikan masalah Hotel Jaya Dina dan Toni pun kembali ke kota K. Mereka kembali lagi bergelut dengan segudang permasalahan yang tiba-tiba saja datang di anak perusahaan mereka.
Toni tak habis pikir, kenapa masalah bertubi-tubi di saat hari pernikahan mereka semakin dekat. Fokus Toni terpecah, antara persiapan pernikahan mereka dan juga mengurusi masalah perusahaan yang datang silih berganti.
"aku lelah sekali....rasanya ingin libur tanpa harus memikirkan pekerjaan barang sehari saja" ucap Dina menyandarkan punggunggnya di kursi
"bagaimana kalau kita liburan di vila, aku juga sudah lama tidak melihat perkembangan restoran" ucap Toni lembut berdiri di belakang Dina dan mengecup puncak kepala Dina.
"hmmm...ide bagus....di sana jauh lebih tenang...." ucap Dina "tapi aku bingung bagaimana meminta ijin pada orang tuaku"
"seperti biasa kamu harus pergi bertemu klien di luar kota" Toni membelai rambut Dina
"kalau begitu jangan di akhir minggu, aku takut papa marah" ucap Dina mengerucutkan bibirnya
"kita pergi di hari jumat siang, dan kembali di hari sabtu sore" Toni memutar kursi Dina, Dina tersenyum kemudian mengecup bibir Toni
"kalau begitu aku selesaikan pekerjaanku dulu, agar besok kita bisa berlibur dengan tenang" Dina beranjak dari kursinya kemudian berjalan meninggalkan ruangan Toni.
Hari jumat siang, Dina dan Toni pergi ke kota J. Mereka pergi ke vila mereka. Vila yang berada di pegunungan dan juga jauh dari keramaian meskipun bersebelahan dengan restoran milik Toni namun ia sengaja membuat Vila itu tetap tak terganggu dengan aktivitas restoran.
Toni memarkirkan mobilnya di restoran, kemudian ia masuk menggandeng tangan Dina. Semua karyawan menunduk saat Toni dan Dina melewati mereka. Mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam ruangan menejer restoran.
"bagaimana kondisi restoran?" tanya Toni
"ini laporan bulan ini Bos..." menejer itu menyerahkan map yang berisi laporan perkembangan resto
"bagus....aku tidak salah memintamu mengelola restoran ini..." Toni menutup map yang ia baca "apa semua permintaanku telah kalian siapkan?"
__ADS_1
"sudah semua bos...."
"baiklah aku ke vila, jangan ada yang ke sana kecuali aku yang meminta" ucap Toni tegas.
"baik bos....selamat berlibur...." ucap menejer itu sopan
"ayo sayang...." Toni menarik tangan Dina dan menggandengnya berjalan keluar ruangan menejer restoran. Toni membawa mobilnya ke vila, ia tak ingin terlalu repot jika ingin pergi sewaktu-waktu.
Toni dan Dina masuk ke dalam Vila, tak banyak berubah hanya interiornya saja yang diperbarui namun tidak terlalu banyak. Di Vila itu terasa sangat tenang, karena Toni sengaja membuat seolah-olah berada di tengah hutan dengan banyak pohon besar yang mengelilinginya.
Toni dan Dina pun juga mematikan ponsel mereka, mereka ingin sehari saja menikmati liburan ini setelah hampir dua minggu harus menyelesaikan masalah perusahaan yang datang silih berganti.
Dina mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu, banyak kenangan indah di vila itu. Bahkan di vila itulah, ia menyerahkan mahkota kebanggaannya pada Toni. Bahkan mereka melakukannya tak hanya sekali. Mengingat hal itu membuat pipi Dina bersemu merah.
"kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Dan pipimu terlihat merah" ucap Toni dengan tatapan teduh.
"kamu tidak bisa berbohong sayang..." Toni duduk di sebelah Dina
"aku hanya teringat, di Vila ini pertama kalinya kita bercinta" ucap Dina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"hemm....jadi begitu....bagaimana kalau kita ulangi lagi, aku masih ingat semuanya saat pertama kali memasukimu" ucap Toni lembut kemudian mencium bibir Dina dengan lembut.
Dina pun membalas ciuman itu. Benar-benar lembut, membuat mereka berdua hanyut dalam perasaan mereka masing-masing, dan semakin lama semakin menuntut. Toni tahu Dina menginginkannya, ia pun melepas ciumannya dan menggendong Dina masuk ke dalam kamar.
Kamar yang menjadi saksi bisu akan pengalam pertama Dina, saksi bisu akan luapan rasa cinta antara Dina dan Toni. Kamar itu masih sama, dinding-dindingnya terbuat dari kaca, serta atapnya pun juga dari kaca.
Toni merebahkan tubuh Dina di tempat tidur kemudian ia membuka semua tirai, agar kesan alam lebih menyatu seperti saat mereka pertama kali bercinta.
__ADS_1
Hari sudah mulai gelap, membuat suasana semakin romantis. Toni pun memulai menyentuh Dina seperti saat pertama kali mereka melakukannya. Toni masih mengingat semua yang ia lakukan ketika pertama kali melakukannya.
Di luar sudah gelap, sinar bulan dan bintang pun mulai menerangi kamar mereka, memberikan sensasi tersendiri, seolah-olah mereka sedang menyatu dengan alam.
Toni mulai memasukkan benda tumpul miliknya dengan perlahan, sama seperti pertama kali ia memasuki Dina. Dina semakin terbuai, ia sudah tak bisa lagi menggambarkan perasaannya kini. Yang ia rasakan hanyalah nikmat dan tak ingin berhenti.
Bulan dan bintang menjadi saksi percintaan mereka berdua yang begitu menggairahkan. Suara-suara merdu bersahut-sahutan di dalam kamar itu. Mereka berdua tak ingin segera menyudahi aktivitas mereka berdua.
Dina benar-benar dibawa pada ingatannya saat pertama kali mereka melakukannya. Diiringi suara-suara binatang di luar vila itu. Toni memang sungguh pecinta ulung. Hingga entah berapa kali mereka berdua mendapatkan puncaknya seakan tak pernah puas.
Malam telah larut, mereka berdua telah terlelap karena tenaga mereka telah habis terkuras untuk mendaki puncak kenikmatan. Hanya suara-suara bintang malam yang menemani tidur mereka.
Kicauan burung mulai bersahut-sahutan menandakan bahwa sang mentari telah bangun dari peraduannya. Dina mulai membuka matanya dan meraba kasur di sampingnya namun kosong. Dina pun duduk, menarik tasnya yang ia letakkan di atas meja nakas.
Dina mengingat semalam karena terlalu terbuai dengan sentuhan Toni ia melupakan meminum pilnya, pagi ini ia harus meminumnya. Dina membuka tasnya, namun tak menemukan pil itu, ia membuka dompet, dan bagian tersembunyi dalam tasnya namun tak menemukannya juga.
"sepertinya aku lupa membawanya" batin Dina, sambil menghitung sesuatu kemudian ia membulatkan matanya "ini sudah masuk masa suburku, sesampainya di rumah aku harus segera meminumnya" Dina meletakkan tasnya kembali dengan perasaan campur aduk. Namun ia meyakinkan dirinya, selama ini kadang ia melupakan meminumnya namun tak terjadi apapun padanya.
Ia mengingat-ingat kembali beberapa bulan terakhir, ia terkadan lupa meminumnya dan langsung meminumnya beberapa pil sekaligus setelah dirinya ingat, dan sampai sekarang tak ada tanda-tanda jika dirinya hamil.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1