Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 101 Serumah


__ADS_3

Ridwan datang membawa setumpuk dokumen yang diminta oleh Toni. Ia meletakkannya di meja yang ada di ruang keluarga. Kemudian ia menghampiri Toni yang masih berada di meja makan bersama Dina.


"pagi mas..." ucap Ridwan sopan


"eh...Wan...yang aku minta sudah kamu bawa?" tanya Toni


"sudah...semua sudah saya letakkan di meja tengah seperti biasa" jawab Ridwan


Dina hanya memperhatikan percakapan antara Toni dan Ridwan. Ia tak pernah mengenal Ridwan sebelumnya, hanya saja ia merasa wajahnya tidak asing baginya.


"oh...iya...Din...kenalkan ini Ridwan..." ucap Toni datar


Ridwan menghampiri Dina dan mengulurkan tangannya. Mereka berkenalan saling menyebutkan namanya.


"sepertinya aku pernah bertemu denganmu...tapi dimana ya...?" Dina mencoba mengingat-ingat


"dia ini anak sopir kantor papa Din...mana mungkin kamu pernah melihatnya" Toni dengan nada cemburu


Ridwan tersenyum "mungkin dulu waktu ke kos Raya mas...kos Raya dulu di sekitar kampus mbak Dina"


"ah...iya mungkin saja..." ucap Dina tersenyum mengembang


"kalau tidak ada perlu apa-apa lagi saya kembali ke kantor mas..." ucap Ridwan sopan


"iya...nanti kalau saya butuh apa-apa saya telepon kamu" ucap Toni datar


"oh...iya mas...tadi sebelum ke sini mbak Andini tiba-tiba ke kantor lagi mencari mas Toni" bisik Ridwan di telinga Toni


"hmmm...."


"saya permisi dulu mas...mbak Dina" Ridwan berjalan meninggalkan mereka berdua dan kembali ke kantornya.

__ADS_1


Dina masih duduk memperhatikan Toni yang terlihat sedang mengetik sesuatu di ponselnya. "Ton...aku ke atas dulu mau mandi..." ucap Dina beranjak berdiri


"minum dulu obatmu, istirahat sejenak setelah demammu turun baru mandi" ucap Toni lembut sambil memberikan obat dan vitamin Dina


Dina menghela nafasnya, ia hanya demam namun Toni memperlakukannya seolah-olah ia sakit parah. Dina mengambil obat yang disiapkan Toni kemudian meminumnya.


Kemudian ia beranjak berdiri dan mulai melangkah namun kepalanya masih terasa pusing ketika ia berdiri terlalu lama. Dina berjalan pelan, ia ingin menjangkau kursi di ruang keluarga bermaksud untuk istirahat sejenak.


Toni dengan sigap memapah tubuh Dina yang terlihat oleng. Ia takut Dina akan jatuh pingsan lagi. Toni membantu Dina duduk di sofa di ruang keluarga.


"kalau mau mandi tunggu badanmu membaik dulu, aku ke atas dulu kamu di sini saja" Toni meninggalkan Dina di ruang keluarga.


Dina bosan, ia menyalakan tv yang ada di depannya. Ia menghibur dirinya, biasanya jika di kos jika ia merasa kesepian ia tinggal menyalakan musik untuk menemaninya, kali ini berbeda, ia berada di rumah Toni.


Lima belas menit kemudian, Toni turun dan ia sudah terlihat segar dan membawa tas Dina yang berisi baju gantinya. Ia menghampiri Dina yang berada di ruang keluarga "kalau sudah kuat berdiri, kalau mau mandi, kamu mandi saja di kamar depan, bajumu aku taruh di sana ya..." ucap Toni dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Dina


Toni duduk di sebelah Dina "kalau bosan nyalakan musiknya aku mau memeriksa dokumen-dokumen ini sebentar ya..." ucap Toni lembut, lagi-lagi Dina hanya mengangguk.


"kamu kapan wisuda?" tanya Dina mengusir rasa bosannya karena Toni asyik membaca tumpukan kertas yang tadi di bawa Ridwan


"akhir bulan...kamu mau kan datang jadi pendamping wisudaku?" ucap Toni lembut menatap Toni


"aku enggak janji Ton..."


"minggu depan aku ajak ke acara perpisahan teman-teman seangkatan mau kan?" ucap Toni penuh harap


"dimana?"


"di restoran milik temanku, di dekat kampusku" ucap Toni harap-harap cemas


Dina berpikir sejenak, ia sudah lama tidak keluar di malam hari menikmati acara konser atau live music di resto. Sejak putus dari Bimo, ia menyibukkan dirinya dengan belajar dan kegiatan kampus agar tak merasa kesepian dan memikirkan cowok.

__ADS_1


Toni melanjutkan pekerjaannya kembali, ia begitu sibuk dan fokus dengan lembaran-lembaran kertas di hadapannya. Dina bosan, akhirnya ia pun tertidur.


Toni tersenyum melihat Dina yang tertidur kembali. Ia meletakkan dokumen yang ia pegang kemudian ia berdiri menghampiri Dina. Kemudian ia menggendong Dina dan membawanya ke kamar yang terletak di dekat ruang keluarga.


Toni membaringkan Dina di tempat tidur kemudian mengecup dahi Dina. "kita ini sudah seperti suami istri" Toni terkekeh kemudian ia meninggalkan Dina dan melanjutkan pekerjaannya.


Toni larut dalam pekerjaannya, satu bulan lebih ia tidak datang ke kantornya banyak dokumen yang harus ia periksa. Bukan perusahaan besar, hanya anak perusahaan namun Toni bertekat membuat perusahaan itu besar seperti perusahaan papanya.


Dari awal kuliah ia sudah memiliki tekat itu, dan ditangannya anak perusahaan yang tak berkembang itu mulai besar. Namanya mulai dikenal di kalangan pebisnis di kota J.


Anak muda, baru berusia 21 tahun namun sudah memperlihatkan bakatnya dalam mengelola bisnis keluarganya.


Toni menyadari ada orang yang berjalan mendekat ke arahnya ia pun menoleh dan tersenyum "sudah bangun?" tanya Toni lembut


"aku balik ke kos saja ya...di sini aku bosan..." ucap Dina dengan nada manja


"wajahmu masih pucat Din...istirahat dulu" ucap Toni lembut


"aku di sini hanya makan tidur, kamu sibuk bekerja...enggak ada yang menemani aku, lebih baik aku kembali ke kos saja, setidaknya di kos aku bisa mengerjakan laporanku" ucap Dina sedikit merajuk


"aku di sini hanya mengganggu pekerjaan kamu saja"


"kamu tidak menggangguku Din, aku yang membawamu ke sini, jangan berpikiran kalau kamu itu bebanku"


Dina menghela nafasnya, ia bingung, ia ingin pulang ke kos, sebenarnya jarak rumah Toni dan kos Dina tak terlalu jauh ia bisa saja jalan kaki untuk pulang ke kosnya namun setiap ia berdiri sedikit lama ia masih merasakan pusing.


Lagipula, ia juga harus meminta persetujuan Toni untuk pulang. Ia tak mau dianggap tak tahu terima kasih Toni sudah membantunya dan merawatnya tak sepantasnya ia tiba-tiba pulang ke kosnya.


.


.

__ADS_1


b e r s a m b u n h


__ADS_2