
Seminggu kemudian, di hari ulang tahun Roy. Dina berangkat ke resto S bersama Ani. Keluarga Roy memesan sebuah ruangan yang berada di restoran tersebut. Roy hanya mengundang teman-teman terdekatnya saja. Di resto S sudah ada Rani dan Roy dan beberapa teman sepermainan Roy yang Dina tidak kenal karena berbeda sekolah. Di sana juga ada kedua orang tua Roy serta adik perempuan Roy.
Acara sederhana hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat Roy. Roy tampak begitu senang karena di ulang tahunnya yang ke tujuh belas ia bisa merayakan bersama orang-orang terdekat yang ia sayangi.
"Selamat ulang tahun ya Roy..." Dina menyerahkan kado untuk Roy
"terima kasih Din..." ucap Roy dengan senyum mengembang "oh...iya aku sudah mengundang Toni"
Hanya dijawab anggukan oleh Dina, dia tidak mau terlalu berharap Toni akan datang setelah mendengar cerita Roy tentang siapa Bian.
"ayo kita mulai acaranya...." ucap papanya Roy
Mereka semua mulai mengitari meja yang terdapat kue ulang tahun dengan lilin angka tujuh belas yang sudah menyala. Mereka mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan penuh semangat.
Roy mengucapkan doa dalam hatinya sesaat sebelum meniup lilinnya. Suara tepuk tangan begitu riuh mengiringi Roy meniup lilinnya. Dina masih sesekali melihat ke arah pintu masuk menunggu kedatangan Toni, tapi tak kunjung datang.
Tibalah saatnya pemotongan kue ulang tahun, Roy memotong kuenya.
"potongan pertama untuk siapa kak?" tanya adik Roy
"hmmm....sebentar...." Roy berjalan mendekati Dina, dan menyerahkan potongan pertama untuk Dina.
"untuk orang spesial" ucap Roy dengan senyum mengembang. Dina terkejut, tidak menyangka akan mendapatkan potongan kue pertama dari Roy
"terima kasih" ucap Dina dengan kedua sudut bibir terangkat. Bersamaan suara langkah kaki memasuki ruangan tempat Roy merayakan ulang tahun.
Suara riuh tepuk tangan menggema di ruangan itu, bahkan Roy mendapat ledekan dari adiknya. Sedangkan Dina, pandangannya tertuju pada Toni yang baru saja datang dengan wajah datarnya.
Setelah acara pemotongan kue selesai, saatnya acara makan. Roy menghampiri Toni yang duduk menyendiri.
"Ton..."
"selamat ulang tahun ya Roy...maaf aku datang terlambat, selamat juga untukmu dan Dina" ucap Toni tersenyum kecut
"yang pertama terima kasih atas ucapannya, kedua tidak apa-apa acara juga baru dimulai, yang ketiga...." Roy menarik tangan Toni dan menariknya ke tempat Dina duduk
"aku lebih bahagia jika kalian bersama" ucap Roy kemudian ia meninggalkan Dina dan Toni.
__ADS_1
Dina diam tak tahu harus bagaimana, ia sesekali melirik ke arah Toni yang duduk di sebelahnya.
"sepertinya kamu dan Roy sangat serasi" ucap Toni datar
"aku dan Roy bersahabat sejak dulu Ton...." jawab Dina datar
"Roy hanya menginginkan kita bisa bersama-sama seperti dulu Ton..." Dina menghela nafasnya, ini kali pertama sejak mereka putus bisa bicara berdua.
"memangnya kamu mau?" tanya Toni dengan senyum sinisnya
Dina menghela nafasnya, "Roy merencanakan ini semua karena ia tahu kalau aku masih menyayangi kamu"
"jika kamu juga menginginkan hal yang sama, aku juga mau berusaha memperbaiki semuanya" Dina menatap Roy yang duduk di sampingnya
"untuk apa diperbaiki? Kamu yang menginginkan kita putus waktu itu" ucap Toni datar menatap Dina.
Dina menghela nafasnya "coba tanyakan pada diri kamu sendiri, kalau keadaannya dibalik kamu akan bagaimana? Diabaikan, bahkan ketika sakit pun ternyata pacarmu tidak peduli padamu" ucap Dina datar
"kalau memang sudah tidak bisa diperbaiki ya sudah... Aku harap jangan ada penyesalan di antara kita kelak" Dina beranjak meninggalkan Toni yang duduk termenung sendirian.
Dina menghampiri Roy dan teman-temannya yang asyik bercanda.
Terdengar helaan nafas dari Roy, ia juga yang memaksa Dina menyetujui apa rencananya tapi berakhir tidak seperti yang ia harapkan.
"kakak pacarnya kak Roy ya...?" tanya adik Roy
Dina tersenyum "bukan...kakak sahabat kak Roy" ucap Dina lembut
"yah...kenapa tidak pacaran dengan kak Roy sih...? Aku ingin punya kakak perempuan " ucap adiknya Roy yang masih duduk di bangku kelas satu SMP
Semua teman-teman Roy memperhatikan percakapan adik Roy dengan Dina. Mereka juga mengira jika Dina adalah pacar Roy karena mereka tampak dekat dan serasi.
Roy beranjak dari duduknya menghampiri Toni yang masih duduk ditemani Rani dan Ani.
"aku bersusah payah meyakinkan Dina untuk mau memperbaiki hubungan kalian, tapi kenapa kamu mengecewakannya lagi?!" ucap Roy kesal
"kalau kamu mau, ambil saja...aku tidak butuh cewek yang tidak setia!" ucap Toni sinis
__ADS_1
Rani dan Ani saling pandang, mereka berdua bingung dengan ucapan Toni.
"tidak setia bagaimana maksud kamu?!" tanya Rani kesal
"jangan menutup-nutupi apa yang telah Dina lakukan" ucap Toni dengan nada merendahkan
"heh...! asal kamu tahu, Dina menangis setiap hari karena diabaikan olehmu! Kamu asyik pergi dengan teman-temanmu sementara Dina menangis sendirian!" ucap Rani kesal
"kamu tahu?! Sampai sekarang pun Dina masih belum pulih dari lukanya!"
"Dina sudah punya pacar lagi, berarti dia sudah melupakan aku!" ucap Toni santai
"kamu kira dia punya pacar karena dia menyukainya?! Kamu salah besar, ia berbuat seperti itu hanya untuk melupakan kamu! Nyatanya tidak semudah yang Dina bayangkan!" ucap Rani penuh emosi
"maaf Roy aku merusak acara kamu, aku kesal dengan Toni, sudah dikasih apa oleh Bian dan teman-temannya sampai tega memfitnah Dina!" Rani begitu kesal
Roy terkekeh "kenapa kamu yang emosi, lihat...! Dina sedang bercanda dengan teman-temanku" Roy menunjuk di mana Dina berada "aku yang salah, karena yang sudah merencanakan ini semua, aku kira Dina akan bahagia nyatanya sama saja"
"aku pulang dulu" ucap Toni datar kemudian ia meninggalkan restoran S dengan hati yang terasa sesak menahan emosinya. Ia merasa datang ke acara Roy hanya untuk dipermalukan.
Tak bisa dipungkiri, ia juga merasa tertampar akan ucapan Dina dan Rani. Dalam hati Toni terbesit perasaan bersalah kepada Dina. Tapi ia terlalu gengsi untuk mengakui jika ia salah.
Seperti yang sudah diucapkan oleh Bian dan teman-temannya, jika cewek sudah meminta putus, berarti bukan cowok yang salah, melainkan cewek.
Semua kata-kata Bian begitu didengarkan oleh Toni. Bersama Bian, Toni seperti tak punya pendirian dan harga diri sebagai seorang cowok. Ia tak bisa mempertahankan apa yang jadi keyakinannya.
Bahkan ia kehilangan kepercayaan orang-orang yang dekat dengannya. Kata-kata Bian sepertinya telah menghipnotis Toni terlalu dalam. Setiap kata yang diucapkan Bian begitu ia turuti entah itu baik atau buruk.
.
.
.
B e r s a m b u n g
.
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya ya bestie 😘😘😘