
Hari berikutnya, Dina sengaja berangkat agak siang, sejak masalah dengan Yuni kemarin Dina merasa semakin malas berada di kelasnya. Ia hanya ingin masuk kelas saat pelajaran dan ketika istirahat ia tak ingin berada di kelasnya.
Ia masuk ke dalam kelas berjalan ke meja biasa tempat dia duduk. Tapi ada sesuatu yang berbeda, Putra duduk di kursi biasa duduk. Dina menghampiri Putra yang duduk tenang menatap ke arahnya.
"kenapa kamu duduk di sini Put?" Dina meletakkan tasnya di kursinya
"Yuni yang menyuruhku, dia mau duduk di depan dengan Jaka" jawab Putra datar
"oh..." ucap Dina dengan ekspresi datar menatap ke arah meja Jaka. Hanya karena masalah berpacaran dengan Dendy, Yuni jadi membencinya.
Dina tak tahu salahnya dimana apakah berpacaran dengan cowok yang menyukainya adalah kesalahan. Ataukah Yuni cemburu, karena banyak cowok-cowok yang menyukai Dina.
.
Istirahat jam sore Toni keluar dari kelasnya, seperti biasa ia pulang ke rumah untuk makan siang. Toni berjalan menyusuri taman depan kelas tiga. Ia melihat Dina berjalan menuju kantin belakang kelasnya. Entah kenapa Toni ingin sekali bertemu dengan Dina dan mengobrol dengannya.
Toni berjalan menyusul Dina "Din....Dina..." teriak Toni tapi Dina seperti tak mendengarnya. Toni bergegas menyusul Dina ke kantin dan mendapati Dina sudah duduk menikmati nasi pecel favoritnya.
"aku duduk di sini ya Din..." ucap Toni sambil meletakkan segelas es teh di meja
"hem..." jawab Dina tanpa menoleh ke arah Toni
"sendiri Din....?" ucap Toni
"seperti yang kamu lihat " ucap Dina tanpa menatap Toni melanjutkan makannya.
"Din...gimana pengumumannya? Lolos seleksi program unggulan tidak?" tanya Toni menatap Dina dengan tatapan penuh damba
"enggak Ton" jawab Dina tanpa menatap ke arah Toni
"terus... Rencana kamu apa?"
"ya ikut tes masuk perguruan tinggi negeri lah..." jawab Dina sambil mengambil gelas es jeruknya
__ADS_1
Toni menghela nafasnya, Dina masih saja bersikap acuh padanya. Tapi setidaknya Dina mau berbicara padanya itu sudah cukup, meskipun sebenarnya ia ingin berbicara lebih lama lagi dengan Dina.
Dina meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke atas meja kemudian bangkit berdiri ke arah ibu kantin hendak membayar makanannya.
"sudah aku bayar Din..." ucap Toni menghampiri Dina
"benar bu?" tanya Dina ke ibu kantin
"iya benar Non" ucap ibu kantin dengan senyum mengembang
"ck...kenapa kamu bayar Ton?" ucap Dina dengan nada kesal
"sudah kebiasaan Din" jawab Toni dengan senyum mengembang
"terima kasih" ucap Dina datar berjalan melewati Toni yang masih berdiri di depan ibu kantin
"itu non Dina kenapa mas? Enggak biasanya ketus begitu?" tanya ibu kantin
"pasti mas Toni...semoga mas Toni berjodoh dengn non Dina, wajah mas Toni sama non Dina mirip biasanya kalau mirip begitu berarti jodoh" ucap ibu kantin panjang lebar
"amin...." ucap Toni dengan senyum manisnya
Memang sudah banyak yang mengatakan jika Toni dan Dina wajahnya mirip dan mereka pasti berjodoh, tapi nyatanya sikap Dina membuat Toni meragukan semua perkataan orang.
Toni keluar dari kantin ia tidak jadi pulang, ia memutuskan kembali ke kelasnya. Saat keluar dari kantin, ia melihat Bian keluar dari ruang kepala sekolah. Toni menatap datar pada Bian, ia tidak tahu ada urusan apa Bian menghadap kepala sekolah.
Beberapa hari berlalu, Toni tak melihat lagi Bian di sekolah sejak hari diman Bian keluar dari ruang kepala sekolah. Toni tak mau ambil pusing, bukan urusannya juga.
"Ton...kamu sudah tahu belum?!" Roy berjalan tergesa-gesa menghampiri Toni yang duduk sambil bermain gitar di kamarnya
"tahu apa Roy?" tanya Toni
"Fara meninggal!" ucap Roy dengan nafas tersengal-sengal karena berlari menaiki tangga rumah Toni
__ADS_1
"hah...! Serius kamu Roy?!" Toni tersentak, segala pikiran berkecamuk di kepalanya.
"serius Ton..." Roy berusaha menetralkan nafasnya
"dari mana kamu tahu?! Meninggal karena apa?!" Toni berusaha menetralkan degup jantungnya karena takut Fara meninggal karena dirinya
"aku tahu dari Deni" Roy duduk di lantai bersandar pada tempat tidur Toni "Kemarin Bian dan Fara pergi berdua naik mobil ke kota B katanya papanya serangan jantung, di jalan mereka kecelakaan dan Fara meninggal di tempat" terang Roy dengan tatapan sedih
"hah?!" Toni merasa lega, tapi juga ikut bersedih bagaimanapun juga Bian adalah temannya. Terlepas dari permasalahan mereka berdua, Toni tidak menginginkan kematian mereka.
"terus Bian bagaimana?" Toni menatap Roy
"belum ada kabar lagi, terakhir katanya dia koma, kamu tahu sendiri Bian kalau bawa mobil bagaimana" ucap Roy
Toni termenung, ada perasaan bersalah dalam hatinya, karena sempat menyakiti Fara "aku minta maaf Far...karena telah menyakitimu" batin Toni
"Fara dimakamkan dimana?" tanya Toni
"di kota B, kamu belum tahu kalau Bian juga sebenarnya sudah mengurus kepindahannya ke kota B?" Roy menatap serius pada Toni
"aku tidak tahu Roy, aku hanya sempat melihat Bian keluar dari ruang kepala sekolah tempo hari" Toni mengedikkan bahunya
"aku teringat Fara waktu itu, dia tampak kasihan tapi mengingat semua perlakuannya padaku saat itu aku merasa senang, tapi kali ini aku juga turut sedih Fara meninggal begitu cepat" ucap Roy menerawang jauh
Toni terdiam, ia juga tak menyangka Fara pergi begitu cepat. Toni tahu jika Fara itu sebenarnya kurang perhatian dan salah pergaulan. Andai Fara dan Bian tak pernah menyakiti hatinya ia tak akan membalas perbuatan Fara yang telah membuat hubungannya dengan Dina semakin memburuk.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1