Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 112 Hukuman


__ADS_3

Dengan angkuhnya Andini menghampiri Dina, yang berusaha untuk tenang tak tersulut emosinya. Ia belum pernah bertemu dengannya lagi sejak acara perusahaan Toni.


Bimo menatap Dina yang terlihat biasa saja, kemudian menatap ke arah Andini. Bimo tidak tahu apa yang dimaksud Andini, ia belum mengetahui siapa Toni yang dimaksud. Selama ini Bimo sering melihat Dina diantar jemput cowok namun ia tak pernah melihatnya dengan jelas.


"tampan juga....seleramu patut diacungi jempol" ucap Andini. Dina diam tak menghiraukan apa yang diucapkan oleh Andini. Andini terlihat seperti sedang mengetik sesuatu di ponselnya kemudian memasukkannya ke tasnya.


"aku sudah memberitahu Toni apa yang sedang kamu lakukan" ucap Andini pongah


Dina terkekeh "kamu kira Toni akan marah? Aku tidak seperti kamu yang suka mengobral tubuhmu"


"kau...! Kita lihat saja...kamu pasti akan segera dicampakkan oleh Toni!" Andini setengah berteriak membuat pengunjung resto itu menatap mereka


Bimo masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Bimo ingin menolong Dina, namun ia urungkan, jika Dina putus dengan pacarnya karena masalah ini, maka ia memiliki kesempatan untuk mendekati Dina lagi.


"asal kamu tahu...Toni yang mengejarku, berkali-kali aku menolaknya namun ia tetap mengejarku" Dina tersenyum sinis


"aku enggak percaya Toni mengejarmu, apa yang dia lihat dari kamu, pasti kamu pakai guna-guna" cibir Andini


"aku mau kembali ke kampus, kuliahku lebih penting daripada berbicara dengan cewek enggak bener seperti kamu" Dina beranjak berdiri


"tunggu Din...masalah kita belum selesai" Bimo akhirnya membuka suaranya


"kita sudah selesai mas...tak ada yang perlu dibicarakan lagi...!"


"setidaknya biarkan aku mengantarmu ke kampus..."


"tidak perlu, aku sudah dijemput" ucap Dina datar "terima kasih ya An...karena kamu Toni menjemputku lebih awal" Dina melihat Toni memasuki resto dengan tatapan penuh kilatan amarah


"oh...syukurlah...kamu datang Ton..." ucap Andini hendak memegang lengan Toni namun ditepis oleh Toni


"kamu baik-baik saja kan Din?" ucap Toni lembut namun dengan tatapan marah


Dina hanya menggeleng, ia takut Toni akan tersulut emosinya melihat ada Bimo yang sedang duduk tenang. Dina memegang lengan Toni sedikit meremasnya dan menggeleng lagi pada Toni.


"jangan ganggu Dina lagi, sudah cukup kamu membuatnya sedih!" ucap Toni tegas dengan tatapan tajam


Bimo tergelak melihat reaksi Toni yang menurutnya berlebihan "kita lihat saja nanti Dina akan tetap bersama kamu, atau aku berhasil merebut hatinya kembali"

__ADS_1


Tangan Toni terkepal, matanya memerah "sayang....sudah..." ucap Dina lembut. Andini merasa menang karena berhasil membuat Toni marah, dan terlihat dingin pada Dina.


"Ton...sebaiknya kamu putusin pacar kamu yang enggak setia itu" ucap Andini dengan nada manja


"tutup mulut kamu!" Toni menatap Andini tajam "ayo Din..." Toni menarik tangan Dina keluar dari resto.


Bimo menatap punggung Dina yang perlahan menjauh bersama Toni. Bimo merasakan sesak di dadanya. Ia menyesal tak pernah memperlakukan Dina dengan baik. Tak pernah memberi Dina kebebasan untuk bergaul. Akibatnya Dina memutuskan hubungan mereka.


"aku bisa membantumu membuat Dina kembali padamu" ucap Andini duduk di hadapan Bimo


"tidak perlu...aku bisa sendiri...lagipula Dina tak akan pernah kembali padaku" Bimo beranjak dari duduknya dan meninggalkan Andini yang tampak emosi.


Toni membawa Dina ke rumahnya, sepanjang perjalanan Toni hanya diam, tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. "Toni...antar aku ke kampus...ada yang harus aku kerjakan..." ucap Dina sambil merengek


Namun Toni hanya diam ia membelokkan mobilnya masuk ke dalam komplek perumahannya. Dina hanya bisa pasrah, salahnya juga mau pergi dengan Bimo.


Toni turun dari mobil kemudian menarik tangan Dina masuk ke dalam rumah dan mendorong Dina ke sofa di ruang keluarga. Toni mencium bibir Dina dengan kasar meluapkan rasa kesalnya.


Dina memberontak memukuli dada Toni "Kamu ini kenapa?!" Dina mendorong Toni. Toni diam menatap Dina. Dadanga berkecamuk, ia ingin marah pada Dina namun tak bisa.


"kamu marah?" tanya Dina mencoba membuat emosi Toni mereda. Toni diam, dia masih menatap Dina dengan sorot mata tajam.


"mana bisa aku marah sama kamu" Toni mengerucutkan bibirnya


"itu tadi..." Dina kesal


"untuk apa kamu bertemu dengan mantanmu?! aku tidak pernah membatasi pergaulanmu tapi jangan bertemu mantan-mantanmu!"


"oh...cemburu?" goda Dina


"nggak...!"


Dina terkekeh "katanya aku boleh melakukan apapun, pergi dengan siapapun asal jaga diri dan jaga hati...kenapa tiba-tiba marah"


"Dina...!" bentak Toni


"kenapa bentak aku?" Dina semakin kesal "Ton...dulu aku pernah bilang jika kamu membentakku atau berbuat kasar padaku, aku akan pergi darimu!"

__ADS_1


"maaf...maaf...aku tidak akan mengulanginya lagi..." Toni menggenggam tanga Dina dan menciuminya "sekarang kamu harus jujur, untuk apa kamu bersama mantanmu yang posesif itu...?!" nada bicara Toni sedikit meninggi


Dina menghela nafas, ia menceritakan semuanya pada Toni tanpa ada yang ia kurangi atau tambahkan. Toni menahan emosi mendengar cerita Dina.


"jika Andini tidak menghubungi aku, kamu pasti enggak akan cerita" Toni mengerucutkan bibirnya


"untuk apa aku menceritakan hal yang nggak penting, buat aku dia masa lalu aku yang nggak penting, cukup dua kali aku melakukan kesalahan, enggak akan ada yang ketiga kalinya!" Dina kesal


"tapi kamu tetap harus dihukum karena sudah membuat aku emosi!" Toni beranjak dari duduknya kemudian mengangkat tubuh Dina menaiki tangga.


"mau apa kamu Ton...?!" Dina panik


"menghukum kamu!" Toni menarik satu sudut bibirnya ke atas


Sesampainya di kamar Toni merebahkan tubuh Dina di kasurnya kemudian ia menindihnya, Dina panik ia memberontak "kamu aku hukum menemani tidurku yang tadi tertunda" Toni menggulingkan badannya ke samping kemudian ia memeluk Dina erat


"tapi Ton...laporanku....tugas-tugasku bagaimana?"


"gampang.... nanti aku bantu..." Toni memejamkan matanya


"tapi aku butuh referensi yang ada di perpustakaan Ton" Dina masih meronta


Toni menulikan pendengarannya, ia semakin mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya"jangan banyak bergerak ..atau aku akan melakukan hal yang aku inginkan saat ini"


Dina langsung terdiam, ia takut Toni melakukan perbuatan yang tak ia inginkan. Dina berpikiran macam-macam, ia teringat Toni sudah pernah melakukannya dengan Andini, ia takut akan terjadi padanya, Dina belum siap akan hal itu.


.


.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


Kira-kira bakal terjadi ga ya...?hmmm....


Jangan lupa like, vote dan komennya ya bestie. Happy Satnite


__ADS_2