Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 173 Membanggakan anak


__ADS_3

Toni berjalan ke tempat dimana ia meninggalkan Dina dengan para sahabatnya. Dari kejauhan ia melihat Dina sedang berbicara dengan cowok. Toni melebarkan langkahnya, tangannya terkepal, semakin mendekat ia bisa melihat dengan siapa Dina berbicara.


Sorot matanya menajam, ia begitu marah, cemburu tidak suka dengan cowok yang ada di hadapan Dina. Tangannya semakin terkepal, ingin rasanya ia memukul cowok itu agar tak berani lagi muncul di hadapan Dina.


"sayang...." Toni menghampiri Dina. Dina menoleh dan terkejut Toni sudah berada di dekatnya lagi. Sedangkan cowok itu menatap tidak suka pada Toni.


"papa mama kamu sudah menunggu di depan" ucap Toni menahan rasa marahnya, tak menghiraukan Dendy yang ada di sana.


"ah...iya...." Dina tersenyum. Suasana yang begitu canggung ia tak mengira akan seperti ini. Namun itu bukan salahnya juga, ia tak pernah memberitahu Dendy tentang wisudanya.


"Den...aku ke depan dulu ya...terima kasih sudah datang" Dina memaksakan senyumnya kemudian ia menghampiri ketiga sahabatnya itu.


"jangan ganggu Dina lagi, dia sudah menjadi milikku...." ucap Toni dengan kilatan amarah di matanya


"apa kamu yakin cintanya Dina untukmu? Kamu boleh memiliki dia tapi di hatinya tetap masih ada diriku di sana" Dendy terkekeh mencoba tenang menahan emosinya.


"kau...!" Toni mengepalkan tangannya


"sebelum janur kuning melengkung, Dina masih bebas untuk memilih siapa yang pantas untuknya" entah keberanian dari mana Dendy berbicara seperti itu padahal selama ini dia selalu saja mengalah dan memilih menghindari perdebatan.


"kamu tunggu saja undangan dari kami" Toni menyeringai ia yakin Dendy tak bisa berkutik lagi


Toni pun meninggalkan Dendy menyusul Dina yang telah lebih dulu meninggalkan mereka. Meskipun ia telah berhasil membuat Dendy tak bisa berkutik namun ia belum bisa bernafas lega sebelum ia dan Dina menikah.


Dina dan ketiga sahabatnya berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berbincang dengan papanya Toni.


"mama...." Dina merentangkan tangannya kemudian memeluk mamanya


"selamat sayang...." mamanya Dina membelai punggung Dina. Dina mengurai pelukannya kemudian menatap papanya yang terlihat seperti menahan amarahnya.


"selamat Dina..." papanya Toni mengucapkan selamat pada Dina


"terima kasih om..." Dina mengembangkan senyumnya


Ketiga sahabat Dina berkenalan dengan kedua orang tua Dian dan juga papanya Toni.


"aku sudah pesan studio foto kita foto bersama ya...untuk mengabadikan momen ini" ucap Dina pada kedua orang tuanya "kalian juga ikut ya..." Dina menoleh ke arah teman-temannya dan disambut anggukan dan senyuman oleh ketiga sahabatnya itu

__ADS_1


"setelah itu kita makan siang bersama-sama" ucap papanya Toni


"baiklah...." papanya Dina membuka suaranya


"kalian ikut di mobilku saja, biar Dina dan teman-temannya naik mobil Toni" ucap papanya Toni


"tapi kami bawa mobil sendiri Yan..." ucap mamanya Dina tak enak hati


"baiklah...terserah kalian" ucap papanya Toni.


"sayang...." Toni menghampiri Dina


"dari mana saja...aku kira kamu sudah keluar tadi" ucap Dina heran. Sedangkan Toni hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Toni.


Mereka pun berangkat ke studio foto yang telah dipesan oleh Dina. Dina bersama Toni dan ketiga sahabatnya menaiki mobilnya, sedangkan papanya Toni bersama sopirnya, papa dan mama Dina berdua saja, adik-adik Dina ditinggalkan bermain bersama sepupu-sepupunya di rumah Wilson.


Mereka berfoto mengabadikan momen kelulusan Dina dan juga Toni. Bahkan saat Dina dan Toni berfoto berdua mereka terlihat sangat serasi. Senyum terbit dari bibir papanya Toni. Sejak lama ia mendambakan Dina akan menjadi menantunya, kini harapan itu akan segera terwujud.


"Pa...Om dan Tante ke restoran dulu saja, kami masih sedikit lama Dina masih ingin berfoto bersama teman-temannya" ucap Toni sopan


"baiklah...." papanya Toni bangkit dari duduknya "ayo...kita makan siang..." ucap papanya Toni


"ayolah...kita makan dulu....sudah lama kita tidak bertemu lagipula kita harus merayakan kelulusan anak-anak kita" ucap papanya Toni


"tapi Yan..." protes mamanya Dina


"ayolah....Toni sudah menyiapkan syukuran kecil-kecilan untuk hari ini"


Mamanya Dina menghela nafasnya " baiklah...aku nggak ingin membuat Dina kecewa" Mamanya Dina menatap papanya Dina dan dijawab anggukan oleh papanya Dina


"kalian ikuti mobilku, restorannya agak.sedikit jauh dari sini"


Mereka pun akhirnya berangkat menaiki mobil mereka masing-masing. Di dalam mobil papanya Dina terjadi perdebatan antara mama dan papanya Dina.


"kenapa acaranya jadi begini, aku kira hanya acara di kampus terus pulang" gerutu papanya Dina


"pa....apa papa nggak kasihan sama Dina, kalau kita langsung pulang? Nggak tiap hari acara seperti ini" ucap mamanya Dina yang kesal. Ia tahu suaminya itu cemburu karena dirinya bertemu dengan orang yang pernah berusaha merebut hatinya.

__ADS_1


Tak lama mereka pun sampai di restoran milik Toni. Mereka bertiga masuk ke dalam restoran ke tempat yang sudah disiapkan oleh Toni.


"restoran ini Toni bangun untuk Dina...tapi Dina belum mengetahuinya" ucap papanya Toni


"hah....? Apa nggak terlalu berlebihan?" ucap papanya Dina


Papanya Toni tergelak "anak itu memang kadang-kadang hanya berpikir pendek, tapi dia pekerja keras, rumah yang ia tempati sekarang juga restoran ini hasil jerih payahnya sendiri, bukan aku yang memodalinya"


"aku tidak percaya..." ucap papanya Dina tampak sinis


"kalau dia anak manja pasti dia mau aku suruh mengelola perusahaanku yang di kota K, tapi nyatanya dia lebih memilih anak perusahaaan yang dulu sudah mati suri hampir bangkrut, di tangannya kini perusahaan itu berkembang cukup baik" ucap papanya Toni membanggakan anak laki-laki satu-satunya itu


"kamu terlalu membanggakannya..." ucap papanya Dina sengit


Mamanya Dina hanya bisa menghela nafasnya, suaminya itu memang orang yang kaku tidak seluwes papanya Toni. Namun ia pria yang begitu menyayangi anak-anaknya dengan caranya sendiri.


"kamu tidak bangga dengan anakmu? Dina itu pintar lho..." ucap papanya Toni yang tahu jika papanya Dina masih saja cemburu padanya.


"anakku memang pintar" ucap papanya Dina singkat


"Dina itu sering membantu Toni menangani anak perusahaan yang ia pegang sekarang, jadi kamu jangan berpikir macam-macam jika Dina bisa memiliki barang-barang yang terlihat mahal, itu hasil jerih payahnya sendiri selama ini"


"hah...anak itu...aku menyuruhnya kuliah malah bekerja..." papanya Dina tampak makin kesal


"sudahlah pa....asal Dina bisa menjaga diri ya nggak masalah, toh Dina juga bisa lulus dengan nilai bagus juga...jadi jangan bersikap keras lagi paadanya..." akhirnya mamanya Dina membuka suaranya.


Papanya Dina memang selalu membatasi ruang gerak Dina. Banyak larangan yang ia buat untuk Dina. Hingga Dina tak banyak memilik teman. Kadang ia merasa kasihan dengan Dina tapi ia juga tak bisa berbuat apapun untuk membantu Dina.


Ia pun tahu kenapa Dina memilih mendaftar kuliah di luar kota, bukan di dekat rumah mereka. Karena Dina ingin bebas, ia tak ingin dikekang lagi oleh papanya. Dan akhirmya papanya mengijinkan Dina untuk kuliah di luar kota karena merasa terusik dengan omongan tetanga mereka yang selalu menyebut Dina banyak pacarnya.


.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2