
Sedari tadi hanya tak ada satupun kata yang terucap dari bibir Dina. Dina diam seolah-olah tak menganggap Toni ada. Toni merasa sedih, ia diabaikan kehadirannya. Tapi jika Toni meninggalkan Dina, dia akan menyia-nyiakan kesempatan jika dirinya bisa berubah. Toni hanya ingin memperbaiki semua yang telah ia rusak.
Ia ingin Dina menganggapnya ada, ia ingin Dina bisa menerimanya seperti dulu. Mungkin juga ini kesempatan terakhir baginya untuk merebut perhatian Dina, sebelum mereka kuliah nanti.
"kamu butuh apa Din? Biar aku ambilkan, mau minum mungkin?" tanya Toni lembut yang duduk di sebelah brankar Dina.
"tolong bantu menaikkan bagian atas tempat tidurku Ton" ucap Dina lemah
Toni dengan cekatan memutar tuas untuk menaikkan bagian kepala tempat tidur. Kemudian ia merapikan bantal agar Dina bisa tidur dengan nyaman.
"sudah?" tanya Toni lembut
"tolong minumku, tanganku tidak sampai" Dina berusaha meraih minum yang berada di nakas sebelah brankar Dina
Toni mengambil botol air mineral dan menuangkannya ke dalam gelas kemudian membantu Dina minum. Dengan telaten Toni memegang gelas kemudian mengambilkan tisu untuk membersihkan mulut Dina.
"tidurlah aku akan menjagamu" ucap Toni sambil mengusap-usap dengan lembut rambut Dina. Tak lama kemudian Dina tertidur, Toni masih tetap mengusap-usap rambut Dina dengan penuh kasih sayang.
"apa yang sudah membuat kamu seperti ini Din? Sampai kamu sakit seperti ini, apa cowok tak tahu diri itu yang sudah membuatmu seperti ini?" gumam Toni. Setelah memastikan Dina benar-benar terlelap, Toni bangkit berdiri dan mengecup kening Dina.
Toni berjalan keluar ruang rawat inap Dina menuju ke kantin karena waktu menunjukkan hampir jam makan siang. Ia membeli makan dan beberapa camilan untuk ia nanti ketika di ruangan Dina. Atau mungkin Dina juga mau memakannya
Setelah membayar makanannya, Toni kembali ke ruang rawat Dina. Ketika ia membuka pintu bertepatan dengan petugas dapur rumah sakit yang juga akan mengantarkan makan untuk Dina.
"saya permisi dulu" ucap petugas itu sopan setelah mengantarkan makan siang Dina
"iya terima kasih" ucap Toni
Toni menaruh makanan yang ia beli tadi di meja yang terdapat di sudut ruangan itu. Kemudian ia mendorong meja makan pasien mendekat ke brankar Dina, yang ternyata sudah bangun.
"kamu dari mana? Aku kira kamu pulang" ucap Dina datar
"aku baru saja dari kantin" ucap Toni lembut "tidak mungkin aku meninggalkanmu tanpa ada yang menjaga kamu"
"ayo makan sekarang mumpung masih hangat" Toni membuka satu per satu makanan yang tadi diantar oleh petugas.
__ADS_1
"nanti saja Ton" ucap Dina
"ayo, biar kamu cepat sembuh" Toni mengambil satu suap bubur nasi kemudian menyodorkan ke mulut Dina
Mau tidak mau Dina membuka mulutnya. Sesuap demi sesuap bubur nasi itu masuk ke dalam perut Dina dan tak terasa tinggal setengahnya saja. Toni tersenyum melihat Dina mau makan dari suapannya.
"sudah Ton" Dina mendorong piring yang dipegang Toni. Toni pun meletakkan piring buburnya kembali di meja dan mengambil gelas air putih dan diberikan kepada Dina.
Setelah itu Toni mengambil obat yang baru saja diantar oleh perawat dan memberikannya kepada Dina. Tak ada lagi penolakan dari Dina itu membuat Toni senang. Usahanya sedikit-demi sedikit membuahkan hasil.
Kemudian Toni menarik kursi dan duduk lagi di sebelah brankar Dina sambil membuka makanan yang ia beli tadi. Ia sangat kelaparan, karena tadi pagi belum sempat sarapan.
Dina melihat Toni yang membuka makanan, entah menagapa ia justru merasa bersalah terhadap Toni. Toni dengan sabar menemaninya merawatnya sedangkan Dendy malah tak menampakkan dirinya di rumah sakit.
"kamu makan apa Ton?" tanya Dina melirik ke arah bungkusan makanan Toni
"oh...ini nasi sama ayam goreng saja, kamu mau?" ucap Toni sambil menunjukkan bungkusannya
"tidak Ton.." Dina kembali merebahkan tubuhnya
"kamu mau apa Din?" Toni bangkit berdiri dan segera mendekati Dina
"aku mau ke toilet" jawab Dina
Toni dengan sigap membantu Dina untuk turun dari brankar dan mengambil kantong infus yang tergantung di tiang sebelah brankar Dina.
Toni memapah Dina, tangan kanannya memegang badan Dina dan tangan kirinya memegang kantong infus. Toni membukakan pintu toilet kemudian menggantungkan kantong infus di tempat uang tersedia.
"kalau sudah selesai, panggil aku" ucap Toni keluar toilet dan menutup pintu rapat-rapat. Toni berdiri di depan pintu toilet menunggu Dina kalau-kalau memanggilnya. Tak lama terdengar pintu terbuka
"sudah kubilang panggil aku saja kalau sudah selesai" ucap Toni mengambil kantong infus dari tangan Dina. Toni melihat ada darah yang masuk ke selang infus Dina "tuh...kan darahmu masuk ke dalam selang" Toni memapah Dina kembali ke brankarnya setelah memastikan Dina nyaman, Ia kembali duduk di kursi.
Terdengar pintu ruangan terbuka, tampak seorang dokter muda yang menurut Toni tampan masuk bersama seorang perawat. Ia memeriksa Dina, memijat-mijat perut Dina sambil mendengarkan dengan stetoskop.
"bagaimana kondisi Dina dok?" tanya Toni kawatir
__ADS_1
"sepertinya lambung Dina ini luka, dan sementara waktu harus istirahat total dan makan-makanan yang lembut serta tidak boleh terlalu stres" ucap dokter itu
"baik dok terima kasih" ucap Toni.
Dokter dan perawat itu 'pun keluar ruangan Dina. Toni menggeser kursinya menghadap brankar Dina. Ia duduk dan memandangi wajah pucat Dina. Ia merasa iba denga kondisi Dina, entah apa yang dipikirkan Dina sampai ia harus dirawat di rumah sakit.
"kamu itu stres memikirkan apa hm?" tanya Toni lembut
"tidak ada" jawab Dina singkat. Toni menghela nafasnya, sepertinya Dina masih belum bisa memaafkannya.
"kalau kamu ada masalah cerita, mungkin aku bisa membantumu" ucap Toni, tapi Dina hanya diam saja. "kalau aku tidak bisa membantumu, setidaknya ada yang mendengar ceritamu" Hening...mereka berdua tidak ada satupun yang membuka mulut mereka.
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Tampak mamanya Dina masuk ke ruang rawat Dina.
"maafkan tante Ton baru ke sini, tadi menunggu Alan pulang dulu" ucap mamanya Dina
"tidak apa-apa tante" ucap Toni.
"oh...ya Dina sudah makan?" tanya mamanya Dina mendekati brankar Dina.
"sudah tante, Dina sudah makan dan minum obat, tadi dokter juga sudah ke sini" jawab Toni
Kemudian Toni menceritakan apa yang dikatakan dokternya Dina tadi. Mamanya Dina merasa sedih melihat Dina terbaring lemah di rumah sakit. Tidak biasanya Dina sakit sampai harus dirawat di rumah sakit.
Dina melihat kedekatan di antara mamanya dan Toni. Mamanya begitu percaya pada Toni untuk menjaga dirinya di rumah sakit, sebuah hal yang tidak biasa.
Kedua orangtuanya begitu pemilih, tidak semua teman Dina mereka suka. Hal itulah yang membuat Dina enggan ada teman-temannya yang main ke rumahnya.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1