
Hampir satu bulan Toni tak pernah ke kota J lagi. Ia sibuk mengejar kuliahnya yang sedikit tertinggal karena masalah yang ia hadapi. Untuk sementara ia bisa melupakan masalahnya dengan Andini.
Meski tidak pernah ke kota J, tapi ia masih memantau semua urusan yang diambil alih oleh kakaknya. Ia tak melepas tanggung jawabnya begitu saja. Papanya bisa menerima alasannya untuk sementara waktu meninggalkan kantornya.
Tapi Toni tidak benar-benar menceritakan semua permasalahannya. Sekaligus ia menunggu rumah baru yang akan ia tempati selesai di renovasi. Ia mempercayakan semuanya pada kakaknya karena kakaknya benar-benar bisa diandalkan.
Ia juga tak memberi kabar pada Andini, ia melarang kakaknya memberitahu keberadaannya saat ini. Vanya pun menjadi kewalahan karena harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari Andini.
"kak..Toni kenapa sudah lama enggak ke sini?" tanya Andini untuk ke sekian kalinya
"aku tidak tahu....dia cuma bilang mau fokus kuliahnya dulu" jawab Vanya kesal
"kenapa dia enggak pamit padaku kak?"
"aku tidak tahu An....aku di sini cuma disuruh papa memeriksa dokumen, aku enggak tahu tentang Toni" Vanya semakin kesal
"tapi aku pacarnya kak....masak iya dia lupa sama aku?!"
"itu masalah kalian An....aku tidak tahu....sudah ya...aku mau pergi dulu!" Vanya kesal, setiap ia datang ke kantor Toni ia selalu didatangi Andini.
Vanya semakin tahu, sifat Andini yang terlalu memaksa, dan ia juga melihat perubahan sikap Andini dulu yang ia kenal dengan sekarang. Ia tak menyangka Andini yang ia kenal dulu anak yang pemalu tidak banyak bicara ternyata hanya pura-pura.
Ia menyayangkan Toni yang memilih Andini menjadi pacarnya. Ia tak mau adiknya mendapatkan pacar yang pandai bersandiwara dan bermuka dua.
.
Tiga bulan berlalu, Toni tak pernah menginjakkan kakinya di kantornya. Ia memang ke kota J tapi ia hanya ke rumah barunya untuk memeriksa dokumen-dokumen kantor yang Vanya bawa.
Selama itu pula ia tak pernah menghubungi Andini. Selama itu pula Vanya harus menghadapi teror dari Andini.
"Ton....sudah saatnya kamu bicara pada Andini" ucap Vanya yang sedang duduk menonton tv sambil menemani adiknya yang sedang memeriksa dokumen-dokumennya.
"aku malas kak berhadapan dengan dia"
"sampai kapan kamu akan begini? Lebih baik kamu putuskan dia secepatnya, kakak bosan menghadapi dia"
"aku juga bingung kak....apa alasannya aku memutuskan dia?"
"apa saja....alasan kan bisa dibuat-buat" Vanya terkekeh
Toni memang memikirkan bagaimaba cara memutuskan Andini, tapi ia bingung tidak tahu bagaimana mengatakannya pada Andini. Ia malas bertemu dengan Andini, ia merasa risih karena Andini yang selalu mencoba menggodanya terus menerus.
__ADS_1
.
Ujian akhir semester telah selesai, tak ada alasan lagi bagi Toni untuk menghindar dari Andini. Papanya menyuruh Toni kembali mengurus kantor untuk mengisi waktu liburnya sebelum mulai kuliah lagi di semester yang baru.
Dengan langkah malas Toni memasuki kantor yang selama empat bulan terakhir tak ia datangi. Sekilas ia melihat Pak Herman duduk di meja depan ruangannya namun ia hanya menatap sekilas.
Sikap Toni pun tak seramah sebelum-sebelumnya. Ia lebih acuh, dan terkesan dingin. Ia sengaja kembali bersikap seperti itu agar tak ada yang mencoba untuk mendekatinya kembali.
Ia merasa cukup satu kali saja ia terjerumus pada hubungan tak sehat dengan orang yang tak pernah ia cintai, dengan orang yang bermuka dua.
Ia kembali disibukkan dengan dokumen-dokumen yang harus ia periksa. Kerja samanya dengan perusahaan Pak Ferdi pun juga lancar. Tak ada seorang pun di kantornya yang tahu jika selama ini ia sering ke kota J meski tak ke kantornya.
Yang mereka tahu, Toni berada di kota K dan kakaknya yang menggantikannya. Vanya di mata para karyawan adalah sosok yang angkuh dan sedikit galak. Jarang ia berinteraksi dengan para karyawan, ia hanya berbicara dengan karyawan masalah pekerjaan.
Sore harinya Toni masih lembur, ia harus menyelesaikaj pekerjaannya yang sudah menumpuk. Ia tak menyadari jika ada yang masuk ke ruangannya.
"kamu kemana saja....?" tanya seseorang mendekati meja kerjanya. Toni tak menatap siapa yang baru saja datang ia sudah tahu, tapi ia tetap acuh
"kenapa diam saja?!"
"aku sedang sibuk...." jawab Toni datar
"aku harus mengurus kuliahku, sekarang pekerjaanku sedang menungguku" Toni masih tak menatap Andini
"tapi aku pacarmu Ton....berbulan-bulan kamu mengabaikan aku, sekarang kamu datang lebih mementingkan pekerjaan kamu daripada aku!!"
Toni meletakkan penanya dan menatap Andini "terus mau kamu bagaimana?"
"kita jalan-jalan menghabiskan waktu yang hilang kemarin" Andini mulai tenang
"kalau aku tidak bisa?"
"harus bisa!"
"An....kamu lihat sendiri, tumpukan dokumen di meja ini...semua harus aku selesaikan"
"besok juga bisa Ton...ayolah...." rengek Andini
"An....kamu tahu aku sedang sibuk, aku harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja.... Kamu tahu sendiri aku kuliah dimana, dan bekerja dimana"
"iya tapi kan kita bisa menghabiskan waktu sebentar saja...." rayu Andini
__ADS_1
"kenapa sejak kita pacaran kamu tidak bisa mengerti aku?"
"kamu lebih mementingkan pekerjaan daripada aku..." rengek Andini
"sebelum-sebelumnya kamu tidak pernah mempermasalahkan jika aku lebih fokus dengan pekerjaanku, ku kira setelah kita pacaran semua akan lebih baik, ternyata aku salah" Toni menghela nafasnya akhirnya ia bisa mengatakan apa yang selama ini ia katakan.
"tak ada yang berubah denganku Ton...." kilah Andini
"dulu kamu pendiam dan cenderung pemalu, tapi aku terkejut di awal kita pacaran, kamu tak seperti yang aku kira"
"itu biasa, dalam pacaran **** itu biasa..." Andini mulai percaya diri
"bagiku tak biasa...." Toni menatap datar pada Andini
"tapi kamu juga menikmatinya... " Andini mendekati Toni dan meraba bahunya
"kamu yang memulai An...." Toni berusaha tak terpengaruh dengan apa yang Andini lakukan
"memang aku yang memulai, tapi kamu juga menikmatinya, ayo kita ulang lagi" Andini melingkarkan tangannya di bahu Toni dan mulai mencium telinga Toni.
"cukup An....!" Toni melepaskan belitan tangan Andini. Andini terkejut, baru kali ini Toni membentaknya. "Aku ingin kita putus...!" ucap Toni
"tapi kenapa Ton?" Andini tak terima
"kita tak sejalan....jika kita bersama hanya akan saling menyakiti" ucap Toni
"tapi Ton...."
"itu keputusanku An....selama ini aku berpikir dan merenung, apakah aku bisa melanjutkan hubungan ini atau tidak, ternyata jawabannya tidak"
"aku tidak terima Ton....!"
"terserah kamu terima atau tidak itu keputusanku" Toni mengambil kunci mobilnya ia keluar dari kantornya meninggalkan Andini yang masih tak terima dengan keputusan Toni
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1