Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 188 Ijin Dokter


__ADS_3

Dina terus menyandarkan kepalanya, ia memejamkan matanya. Kepalanya terlalu pusing karena hal yang tak terduga yang baru saja ia tahu hari ini.


Dina memejamkan matanya hingga tak terasa ia sudah sampai di gedung apartemennya. Dina masih juga belum membuka matanya.


Deni melihat di kursi penumpang, ada rasa yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata entah apa itu. Melihat wajah cantik Dina yang terlihat begitu lelah Deni tak tega membangunkannya.


Ia pun memarkirkan taksinya di ujung tempat parkir yang lebih sepi. Deni pun turun, ia tak mau mengganggu Dina, ia juga takut jika tiba-tiba ada bisikan setan mempengaruhinya.


Deni duduk di belakang taksinya menunggu Dina terbangun sesekali menatap ke dalam taksinya memastikan Dina baik-baik saja.


Setengah jam berlalu, Deni pun membuka pintu penumpang, ia menepuk pelan lengan Dina "Din...Dina..." ucap Deni pelan


Dina mulai menggeliat, membuka matanya "uhmm...sudah sampai ya....maaf aku ketiduran" Dina segera menegakkan tubuhnya kemudian keluar dari taksi"


"tidak apa-apa, sepertinya kamu kelelahan aku tak berani membangunkanmu" ucap Deni


"iya...kepalaku pusing, sepertinya aku butuh istirahat" Dina melangkahkam kakinya, namun terhenti ketika Deni memegang dahi Dina "kamu demam Din..."


"iya sepertinya, aku ke dalam dulu ya...terima kasih..." Dina berjalan ke arah lobi apartemen namun baru tiga langkah Dina berhenti dan berbalik badan "soal tadi jangan beritahu Toni ya...aku nggak mau ada keributan lagi" ucap Dina dengan wajah pucat


Deni yang mengerti dimaksud oleh Dina mengangguk tanda menuetujui "namun tentang kondisi kamu sekarang aku nggak berani menutupinya"


Dina pun mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan Deni yang masih mengawasinya dari tempat ia berdiri. "Andaikan kamu bukan tunangan orang yang telah banyak membantuku aku akan menjagamu Din..." gumam Deni


Tak berapa lama, ponsel Deni berdering, ia melihat siapa yang menelponnya ternyata Toni. Toni setiap hari dua kali menelpon Deni untuk memastikan Dina baik-baik saja. Pernah Deni protes ke Toni namun hanya dijawab "Dina itu pandai menyembunyikan masalah Den, jadi aku harus bertanya pada orang lain"


Jawaban itu membuat Deni geleng-geleng kepala, sudah bertunangan namun masih sering menyembunyikan masalah entah akan jadi seperti apa mereka besok setelah menikah.


"ya halo..."


"bagaimana kamu sudah mengantar Dina pulang?"


"sudah...Dina baru saja masuk ke apartemen"


"apa dia baik-baik saja?"

__ADS_1


"sepertinya dia sakit, tadi wajahnya tampak pucat hampir satu jam dia tertidur di taksiku"


"baik terima kasih Den"


.


Di kota J setelah memutuskan sambungan telepon dengan Deni Toni menjadi kawatir. Ia pun menelpon Dina, tiga kali ia menelpon tak ada jawaban dari Dina. Ia semakin gusar pikirannya tidak tenang.


Dina tinggal di kota besar, tak ada sanak saudara di sana apalagi di apartemen tak ada tetangga yang akan menolongnya jika terjadi apa-apa.


"Wan...tolong carikan aku tiket kereta ke kota S lebih cepat lebih baik"


"non Dina kenapa bos?" Ridwan mulai menelpon orang yang biasa membantunya mencari tiket untuk perusahaan Toni.


"sepertinya sakit" ucap Toni gusar


"bos...tiket sudah dapat, keretanya berangkat jam 7 malam ini, sampai sana sekitar dinihari"


"baik...tolong kamu urus perusahaan dua sampai tiga hari ke depan" Toni tampak merapikan barang-barang yang ada di mejanya


"baik bos..."


Tepat pukul satu dinihari Toni sampai di kota S. Deni sudah menunggunya seperti biasa. Toni pun bergegas ke apartemen Dina.


Toni langsung masuk ke dalam apartemen Dina karena ia juga memiliki kunci unit yang ditempati Dina. Ia mencari Dina di lantai dua, terlihat Dina tidur namun masih memakai baju kerjanya. Toni memegang dahi Dina terasa panas, ia pun mengambil air untuk mengompres Dina.


Hingga menjelang pagi demam Dina mulai turun, Toni sedikit lega. Kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Dina dan tertidur sambil memeluk Dina.


Toni sangat lelah, hari ini pekerjaannya sangat banyak, dan lagi melakukan perjalanan yang cukup jauh membuatnya begitu mudah tertidur.


Pagi harinya Dina mulai terbangun, ia kaget ada orang memeluknya ia pun langsung menoleh dan ternyata Toni yang memeluknya.


"sudah bangun?" ucap Toni dengan suara serak


"kenapa kamu ada di sini? Dan kenapa bisa masuk ke dalam?" Dina heran

__ADS_1


Toni bangun, ia tidak menjawab pertanyaan dari Dina dulu, ia meletakkan tangannya di dahi Dina ternyata demamnya kembali lagi.


"Deni memberitahuku kalau kamu sakit, semalam aku telepon nggak terjawab aku kawatir terjadi sesatu pada kamu makanya aku langsung ke sini" Toni bangkit dari tidurnya


"tapi kenapa kamu bisa masuk?"


"kamu lupa? Saat mengurus sewa di bawah kita dapat dua kunci satu kamu pegang dan satu lagi aku pegang" Toni turun ke bawah mengambil obat di kotak obat kemudian kembali ke atas lagi dan menyerahkan pada Dina "minumlah...setelah ini kita ke dokter..."


Dina tak membantah apa yang diucapkan Toni, tubuhnya terlalu lemah jika harus berdebat. Pukul tujuh pagi Toni membawa Dina ke rumah sakig terdekat. Ia pun juga meminta surat keterangan ijin sakit dari dokter.


Setelah selesai periksa dan mengambil obat, mereka berdua pulang tak lupa mampir ke kantor Dina. Toni menitipkan surat ijin sakit Dina ke resepsionis kemudian mereka berdua pulang ke apartemen.


.


Di kantor Dina, Bimo yang mencari Dina di ruangannya namun tidak ada, ia pun turun ke bawah, mungkin ia masih tertahan di depan, atau sedang mengobrol dengan resepsionis.


Bimo pun menghampiri resepsionis di kantornya mengecek ada surat untuknya atau tidak, namun hanya akal-akalannya saja.


"pagi ini kamu sudah melihat Dina?" tanya Bimo ke resepsionis


"belum...tapi tadi ada yang menitipkan surat ijin sakitnya Dina" ucap resepsionis itu


"hah...mana suratnya? Siapa yang mengantarnya?" Bimo panik


"sudah saya serahkan bagian personalia dan yang mengantar tadi ia mengatakan jika dirinya adalah tunangan Dina"


Tangan Bimo terkepal marah mendengar ucapan resepsionis itu, namun ia tak mau percaya begitu saja "siapa namanya?!"


Resepsionis itu hanya mengedikkan bahunya acuh karena Bimo tiba-tiba membentaknya.


.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2