Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 123 Mengejar rasa


__ADS_3

Selama satu bulan Dina melaksanakan KKNnya di daerah yang jauh dari pusat kota. Hubunggannya dengan Toni sedikit renggang karena kesibukan masing-masing dan juga mereka berdua jarang berkomunikasi.


Dina telah menyelesaikan KKNnya dan telah kembali ke kota J. Toni juga masih sangat jarang menghubunginya, bahkan Toni juga jarang pulang ke rumahnya.


Dina kembali ke rutinitasnya kuliah setiap hari dan mengerjakan laporan KKN. Dina merasa kesepian, biasanya ada Toni yang selalu saja mengganggunya namun sekarang Toni hanya sesekali mengirim pesan singkat untuknya.


Untuk mengusir rasa sepinya, Dina menghabiskan waktu di kampus. Entah dia di perpustakaan atau hanya duduk-duduk di lobi kampusnya.


Sambil menunggu kuliah berikutnya Dina duduk di tangga lobi bersama Berta. Dina menikmati suasana kampus yang mungkin sebentar lagi ia tinggalkan. Tak sengaja menatap ke arah ruang perkuliahan mahasiswa ekonomi di lantai 3.


Seseorang yang ia kenal sedang menatapnya dengan wajah murung. Dina mencoba memastikan apakah orang itu menatapnya. Ia melambaikan tangan dan tersenyum pada orang itu.


Dan ternyata dia membalas dengan lambaian tangan juga. Dina buru-buru mengambil ponselnya dan menelpon orang itu sambil menatapnya namun nomor yang ia tuju tidak aktif. Dina mencoba berkali-kali namun nihil.


Dan tiba-tiba orang itu tak lagi tampak di sana. Dina merasakan rindu yang teramat sangat. Tiba-tiba ia ingin sekali bertemu dengannya.


Dina ingin menghabiskan waktu dengannya, namun ia tak tahu bagaimana caranya. Setelah sekian lama akhirnya ia melihatnya kuliah di hari yang sama dengan dirinya.


Hari-hari berikutnya, Dina selalu parkir di area kampus ekonomi, kemudian ia berjalan melalui lorong ruang perkuliahan mahasiswa ekonomi, berharap bertemu dengannya lagi.


Entah kenapa setelah pertemuan itu, Dina seperti merasa cinta yang selama ini ingin ia kubur dalam-dalam muncul kembali.


Setelah seminggu ia mencari keberadaan orang itu, minggu berikutnya sepertinya Tuhan mengabulkan keinginannya. Saat ia pulang kuliah ia berpapasan dengang orang itu. Dina pulang kuliah, orang itu datang ke kampus.


Tak ada kata-kata, hanya saling melempar senyum di antara mereka. Hari berikutnya ia berpapasan kembali saat ia masuk ke parkiran dan orang itu keluar parkiran.


Dina bingung bagaimana cara memulai pembicaraan di antara mereka. Ia tak ada alasan untuk memulai pembicaraan. Di saat kebingungannya ia mencoba peruntungannya dengan mengatakan ia sakit.


Ia mencoba menghubungi nomor terakhir orang itu yang ia tahu, dan ternyata bisa tersambung. Dengan rasa cemas ia menunggu orang di seberang sana mengangkatnya.


^^^πŸ“² Halo^^^


"halo Den...."


^^^πŸ“² iya, kamu apa kabar?^^^


"aku sedang sakit"


^^^πŸ“² sakit apa?^^^


"biasa penyakit lama...hmm....Den..."

__ADS_1


^^^πŸ“² iya...apa Din?^^^


"aku bisa minta tolong?"


^^^πŸ“²apa?^^^


"antar aku ke dokter ya..."


^^^πŸ“² kapan?^^^


" nanti sore bisa?"


^^^πŸ“² nanti sepulang kuliah aku ke kosmu, kamu belum pindah kan?^^^


"belum...terima kasih ya Den..."


^^^πŸ“² iya..^^^


Dina merasa senang, Dendy masih mau peduli padanya. Ia menunggu dengan cemas kedatangan Dendy. Pukul empat sore Dendy datang ke kos Dina.


Dina berusaha menyembunyikan perasaannya, jika ia benar-benar senang.


"katanya kamu sakit?"


"jadi ke dokter..."


"iya jadi, sebentar aku mandi dulu" Dina meninggalkan Dendy di ruang tamu kosnya. Lima belas menit kemudian ia telah selesai bersiap.


"ayo...dokter di depan kampus 1 ya Den..."


"iya..."


Mereka berdua pergi dengan menaiki motor milik Dendy. Satu jam Dendy menemani Dina berobat, kemudian ia mengantar Dina pulang ke kosnya.


Seminggu berlalu, hubungan mereka intens kembalj. Mereka sering bertukar pesan singkat dan terkadang telepon singkat. Dina ingin bertemy kembali dengan Dendy ia merasa cinta yang pernah ada tumbuh kembali.


"Den...boleh aku ke tempatmu?"


^^^πŸ“²kapan?^^^


"sekarang"

__ADS_1


^^^πŸ“² boleh...boleh^^^


"alamatmu dimana?"


Dendy memberitahu dimana ia kos sekarang. Dan memberi petunjuk harus lewat mana kalau mau ke tempatnya. Dina mengerti, ia pun menaiki motornya ke tempat Dendy.


Sampai di sana Dendy telah menunggunya. Setelah bertemu Dina merasa ada yang berbeda dengan Dendy. Ia seperti menahan sesuatu dan memberikan sedikit jarak di antara mereka. Sikapnya terlihat sedikit kaku, namun ia tetap perhatian pada Dina.


"kamu tidak kuliah?"tanya Dina


"enggak...aku bangun kesiangan" Dendy terkekeh


"aku ngantuk, boleh aku tidur di sini sebentar?"


"boleh...tidurlah..." ucap Dendy menyunggingkan senyumnya


Dina merebahkan dirinya di kasur Dendy. Sebenarnya ia hanya berpura-pura tidur, ia ingin tahu apakah Dendy masih mengharapkannya kembali atau tidak.


Dendy membelai lembut dahi Dina. Dina merasakan sentuhan Dendy begitu lembut tak seperti dulu. Dina merasakan ada sesal dalam tiap sentuhan itu, namun Dendy tak mengungkapkannya


Beberapa kali Dina mendatangi kos Dendy, ia selalu diperlakukan baik oleh Dendy. Namun beberapa kali mereka bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Dina merasa, Dendy memperlakukannya seperti orang asing.


Dalam lubuk hatinya, Dina ingin meyakinkan dirinya apakah ia akan terus bertahan dengan Toni, ataukah ia akan memperjuangkan cintanya seperti dulu.


Dua bulan Dina sering mengunjungi Dendy di sela-sela kesibukannya namun ia merasa semua seperti jalan di tempat. Perhatian Dendy membuat ia merasa mereka berdua masih memiliki perasaan yang sama namun jika melihat sikap Dendy yang seolah-olah mereka berdua orang asing Dina menjadi ragu.


Ia mulai meragukan perasaannya, meragukan firasatnya selama ini. Di depan Dina, Dendy tak menunjukkan jika ia ingin mereka kembali bersama seperti dulu, namun di saat Dina berpura-pura tertidur, ia merasakan ada harapan yang sangat besar dalam setiap sentuhannya.


Akhirnya Dina menyerah, ia menyadari Dendy tak ingin lagi ia perjuangkan seperti dulu meskipun perasaan itu masih ada di dalam hatinya.


Padahal Dina berpikir, andaikan Dendy memintanya untuk bersamanya lagi, ia akan memutuskan Toni dan kembali pada Dendy. Nyatanya harapan tinggallah harapan, Dina harus mengubur perasaannya semakin dalam.


Dina hanya bisa berharap jika memang Dendy adalah jodohnya maka mereka akan kembali bersama kelak di kemudian hari, tak peduli apapun rintangannya.


.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2