Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 205 Tempat sejuta kenangan


__ADS_3

Toni membawa Dina ke danau dekat sekolahnya dulu. Danau tempat dimana Dina dulu sering menghabiskan waktu bersama Dendy. Dina mengedarkan pandangannya, tempat itu telah banyak berubah, namun kenangannya bersama Dendy masih terukhir jelas di sana.


Pikiran Dina seolah-olah ditarik ke masa lalu. Masa dimana ia sering menghabiskan waktu bersama Dendy di sana. Meski ia sudah mengubur dalam-dalam perasaan itu, namun tak bisa dipungkiri jika perasaan itu masih ada jauh di dalam hatinya.


Namun Toni tak pernah tahu jika tempat itu menyimpan banyak kenangan Dina bersama Dendy. Ia hanya berpikir, mencari tempat yang sepi agar mereka bisa bicara dari hati ke hati.


Toni mengajak Dina duduk di sebuah kursi besi panjang di bawah pohon besar yang menghadap langsung pada Danau. Dina hanya diam, ia mengikuti Toni.


Mereka duduk sebelahan, meski bersebelahan mereka berdua hanya diam. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan di antara mereka.


"sayang..." Toni memutar tubuhnya menghadap Dina kemudian menggenggam tangan Dina "aku minta maaf atas sikapku kemarin" ucap Toni dengan nada sendu


Hanya terdengar helaan nafas dari Dina. Toni tak bisa memaksa Dina untuk memaafkannya, ia menyadari berulang kali mengingkari janjinya untuk selalu percaya dan tak menyakiti hati Dina.


"aku sadar, aku sudah keterlaluan, aku cemburu..." ucap Toni dengan tatapan mata penyesalan.


"aku berharap kamu mau memaafkan aku"


Lagi-lagi Dina hanya menghela nafasnya. Ia sungguh lelah menghadapi Toni yang terkadang sulit mengendalikan emosinya.


"katakan sesuatu sayang...aku benar-benar menyesal" ucap Toni yang matanya mulai berkaca-kaca. Dina menoleh ke arah Toni, ia sebenarnya mencintai Toni, tapi ia tak bisa jika harus terus-menerus memaafkan untuk kesalahan yang sama.


"aku mencintaimu, aku selalu takut jika kamu berpaling dariku..."


"aku juga mencintaimu..." ucap Dina, kata-kata itu mampu membuat Toni tersenyum "tapi aku lelah...aku lelah jika kamu selalu mengulangi kesalahan yang sama"


Senyum yang tasi sempat terbit akhirnya pudar "aku tahu aku salah...aku minta maaf padamu aku harap kamu mau memaafkan aku"


Dina membuang nafasnya kasar "aku juga salah...akhir-akhir ini aku terlalu sibuk, hampir setiap hari pulang malam dan lupa menghubungi kamu"

__ADS_1


"kamu nggak salah....aku memahami posisi kamu saat ini, menangani perusahaan induk tidaklah mudah, apalagi kamu masih baru di sana"


"tapi aku benar-benar lelah Ton...kita selalu saja bertengkar hanya karena cemburu kamu yang berlebihan"


"hukumlah aku Din...asal jangan batalkan pernikahan kita, aku tanpamu akan hancur" air mata yang dari tadi menggunung di pelupuk mata Toni akhirnya lolos juga.


Kali ini Toni benar-benar menyesal, ia merasa sudah tak punya harapan. Namun ia masih mencoba meminta Dina membatalkan keputusannya.


"lalu aku harus bagaimana jika kelak kita sudah menikah kamu akan seperti ini lagi?"


"kamu boleh membalasku sesuka hatimu, asal jangan pernah tinggalkan aku" Toni mengiba, ia menunduk mencium tangan Dina, Toni mulai tergugu, ia merendahkan harga dirinya di hadapan Dina. Ia tak pernah memohon seperti saat ini.


Dina bergeming, Toni sudah kehabisan cara, ia meluruhkan tubuhnya, ia bersimpuh di kaki Dina dan memegangnya. Ia menangis di kaki Dina, ia sudah tak punya harga diri sebagai pria lagi di hadapan Dina.


Benteng pertahanan yang tadi dibuat oleh Dina runtuh. Ia melihat kesungguhan Toni memohon ampun padanya. "Aku bukan ibumu Ton...jadi kamu tak perlu bersimpuh di kakiku"


Toni mendongak, ia melihat Dina tersenyum kepadanya "katakan apa kamu memaafkan aku?" ucap Toni masih tersedu-sedu.


Dina diam, ia hanya tersenyum "katakan Din..." Toni menggenggam erat tangan Dina


"jika kamu terus-terusan duduk seperti itu aku tidak akan memaafkan kamu!" ucap Dina ketus


Toni mengembangkan senyumnya, kemudian ia duduk di sebelah Dina dan memeluknya erat "terima kasih sayang...terima kasih.." Toni mengujani wajah Dina dengan ciuman bertubi-tubi.


"jangan pernah kamu ulangi lagi...karena aku sudah lelah, bahkan aku sudah menulis surat pengunduran diriku" ucap Dina ketus


"ingatkan aku selalu, agar jangan sampai mengulanginya lagi" Toni memeluk Dina, tangisnya pun semakin pecah.


Dulu pernah Toni meminta maaf padanya, namun tidak seperti sekarang, Toni sampai mau merendahkan dirinya di depan Dina. Toni yang selalu datar pada semua orang telah bertekuk lutut di depan Dina.

__ADS_1


Apakah Dina berbangga hati karena telah membuat pria sejuta pesona bertekuk lutut di hadapannya? Jawabannya tidak, Dina sendiri menyadari jika dirinya bukanlah siapa-siapa, tidak cantik seperti cewek-cewek yang mengejar Toni. Dina menyadari ia masih banyak kekurangan, ia bukan sosok yang sempurna. Namun ia mendapatkan pasangan yang begitu sempurna.


"aku tulus mencintai kamu, aku tak pernah meminta apapun padamu, aku hanya meminta cintai aku setulus hatimu jangan kecewakan aku lagi hanya itu"


"iya sayang...maafkan aku" Toni memeluk Dina kembali "kamu tidak jadi membatalkan pernikahan kita kan?" Toni mengurai pelukannya


"papa Yanuar yang memintaku memberi kamu kesempatan sekali lagi" Dina tersenyum


"dari pertama kali kita pacaran dulu, papa lebih membela kamu daripada aku, berkali-kali dia bilang, dia hanya ingin kamu jadi menantunya" Toni terkekeh


"oh iya sayang....minggu depan aku ada undangan pernikahan temanku di Singapore, kamu ikut ya...undangannya mewajibkan membawa pasangan"


"lihat besok saja ya....aku tidak tahu jadwal pekerjaanku seperti apa" ucap Dina


"sayang....jangan kawatir soal itu, aku sudah meminta ijin pada Vanya, dan dia memberi kamu ijin menemani aku" ucap Toni lembut


Mengajak Dina ke acara pernikahan temannya hanya sebuah kedok agar Dina mau diajak. Sesungguhnya, Toni ingin mengajak Dina berlibur ke luar negeri.


Selama mereka berpacaran, tidak pernah mereka pergi jauh. Toni ingin membuat Dina tahu dunia luar, tidak hanya seputar masalah pekerjaan. Dan setelah menghandiri acara temannya, Toni ingin mengajak Dina pergi ke China untuk melakukan prewedding.


.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2