
Hal yang jarang Dina lakukan selama kuliah adalah memasak. Dina hobi memasak, meskipun masakan sederhana. Kadang ia dan teman satu kosnya memasak bersama, namun karena keterbatasan tempat jadi mereka memasak ala kadarnya.
Toni mengajak Dina berbelanja di swalayan dekat dengan kos Dina. Toni mendorong troli belanjaan sedangkan Dina memilih-milih bahan yang akan ia pakai untuk memasak.
"kita mau memasak apa Ton?" tanya Dina sambil memilih bahan
"enaknya apa? Masakan china, indonesia atau western?" tanya Toni lembut
"apa ya...? Hmmm....china sudah sering, indonesia bosan, sepertinya western saja ya..." ucap Dina semangat "tapi aku enggak tahu mau memasak apa dan bagaimana?" ucap Dina lirih
"masak steak sama pasta saja.." ucap Toni menyunggingkan senyumnya, ia tahu Dina sedang bingung.
"memangnya kamu bisa?" tanya Dina menatap Toni tak percaya
"ada buku resep tinggal baca" Toni terkekeh
Mereka pun berbelanja semua kebutuhan untuk mereka memasak. Mereka tak menyadari sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.
Toni dan Dina bercanda mereka tampak bahagia, membuat pemilik sepasang mata itu terbakar amarah. Ia pun berjalan ke arah Dina dan Toni yang sedang asyik bercanda.
Orang itu menyenggol bahu Dina "eh...maaf...tidak sengaja" ucap orang itu
"ah...enggak apa-apa" Dina tersenyum ramah, sedangkan Toni menatapnya dengan tatapan marah.
"eh...Toni kamu lagi ngapain di sini?" orang itu mendekati Toni hendak meraih lengan Toni, namun menghindar. Dina bingung, ia tidak tahu siapa orang itu.
"kamu kenapa menghindar sayang?" ucap orang itu dengan nada dibuat semanja mungkin. Toni diam hanya menatapnya datar. Dina merasa ia hanya akan mengganggu Toni dan orang itu, ia pun meninggalkan mereka berdua.
Namun baru dua langkah Toni berteriak "Din...tunggu mau kemana?" Toni mendorong trolinya mengikuti Dina.
"nanti aku mengganggu kalian..." ucap Dina santai sambil melihat barang-barang yang di pajang di situ.
"enggak...kamu enggak mengganggu, justru dia yang mengganggu kita..." Toni tidak terima.
"ini siapa Ton?" ucap orang itu dengan tatapan tidak suka
"kamu enggak perlu tahu siapa dia!" bentak Toni, Dina terkejut sudah lama ia tak melihat Toni membentak cewek
"oh...jadi gara-gara dia kamu memutuskan aku?!" cewek itu mulai kesal
__ADS_1
"gara-gara aku?" Dina kesal
"iya...asal kamu tahu ya...Toni itu pacar aku!" ucap cewek itu
"oh...pacarnya..." ucap Dina santai
"Andini! Sudah cukup malu dilihat banyak orang!" bentak Toni sekali lagi
"lebih baik aku pulang ke kos Ton...kamu selesaikan masalah kalian" Dina santai, namun ia lebih baik menghindar sudah cukup ia dipermalukan oleh Riri saat itu.
Ia tak mau dipermalukan lagi untuk yang kedua kalina karena masalah cowok. Dina menyadari, dari sikap Toni, mereka berdua tidak ada hubungan apa-apa, namun ia lebih baik mengindari masalah.
"ayo...semua sudah dibeli kan?" ucap Toni lembut
"Toni...!" ucap cewek itu tidak terima
"apa lagi sih An?"
"mbak...saya hanya teman Toni, jadi mbak tidak perlu kawatir, kalau memang Toni pacar mbak, jadilah pacar yang baik jangam mempermalukan pacar sendiri" ucap Dina santai tak terpancing emosinya
Andini kesal, dan pergi meninggalkan mereka berdua. Toni membayar semua belanjaan yang mereka. Toni merasa kawatir dengaj sikap Dina yang mendadak diam tak berkomentar atau menanyakan tentang apa yang baru saja terjadi.
"kita jadi memasak bersma kan?" tanya Toni lembut dengan perasaan was-was
Toni mengemudikan mobilnya keluar dari swalayan menuju ke rumahnya, sesampainya di rumahnya ia menurunkan belanjaan mereka. Dina masih diam, Toni menjadi semakin merasa cemas. Dina jika marah ia akan diam.
Toni meletakkan semua belanjaan mereka di dapur. "Din...aku mau bicara sebentar dengan kamu" ucap Toni ketika Dina hendak membereskan belanjaan mereka.
"mau bicara apa Ton?" ucap Dina datar
"ayo..." Toni menarik tangan lembut Dina ke sofa di ruang keluarga
Mereka berdua duduk berhadapan, Toni menatap Dina dengan perasaan tak menentu.
"Din...kamu marah?" tanya Toni
"buat apa aku marah?" jawab Dina ketus
Toni menghela nafasnya "dari tadi kamu diam, padahal biasanya kamu masih bisa bercanda"
__ADS_1
"aku enggak marah Ton..." jawab Dina datar
"Din...aku tahu kamu marah tentang masalah tadi" ucap Toni berusaha menenangkan dirinya
Dina membuang nafasnya kasar "aku hanya trauma Ton..."
"aku tahu...tapi di sini kamu enggak bersalah"
"tetap saja Ton...aku merasa dipermalukan..." ucap Dina kesal
"Din...Andini itu bukan siapa-siapa, jadi kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak" ucap Toni
"aku enggak peduli siapa dia, kamu enggak perlu jelasin ke aku" ucap Dina ketus
"baiklah...aku ceritakan siapa Andini" ucap Toni mencoba menahan emosinya
Toni menceritakan, semua tentang Andini, dari awal mereka bertemu, apa yang terjadi di antara mereka, sampai akhirnya ia memutuskan Andini. Toni menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Dina terkejut, ia tak menyangka Toni mampu berbuat demikian. "Jadi kalian sudah...?"
"iya..maafkan aku...tapi itu karena dia yang membuatku melakukannya" ucap Toni penuh penyesalan
"lalu kenapa kamu masih saja memutuskannya?" Dina kesal
"dia enggak seperti kamu yang tak punya maksud apa-apa dibalik semua sikapmu itu Din, aku enggak bisa hidup bersama orang yang enggak bisa mengerti apa mauku" Toni terlihat menyesal, bukan karena putus dengan Andini, namun karena ia salah telah mau terjerumus dalam permainan Andini
"sebenarnya kamu enggak perlu menjelaskan apapun ke aku, kita hanya berteman baik, tak ada kewajiban untukmu untuk menceritakan masalah pribadimu" ucap Dina santai
"aku harap hubungan kita lebih dari sekedar teman baik, jangan menjauhiku karena Andini, dia bukan siapa-siapa untukku" ucap Toni dengan tatapan memohon
"aku tidak berhak mencampuri masalah pribadimu, namun lebih baik selesaikan permasalahan di antara kalian, aku enggak mau dianggap orang ketiga" ucap Dina datar
Walau Toni merasa menjadi ragu dengan hubungannya dengan Dina selanjutnya, namun ia merasa lega, sudah menceritakan apa yang terjadi di antara dirinya dan Andini.
Toni hanya bisa berharap semoga kisahnya tak mempengaruhi hubungannya dengan Dina kelak. Ia masih berharap Dina mau menerimanya kembali.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g