Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 96 Bekas luka


__ADS_3

Setelah puas bermain air, Dina dan Toni memutuskan untuk kembali ke kota J. Walaupun lelah mereka berdua tampak bahagia.


Dina bahagia karena bisa melepas penat sesaat, berlibur ke pantai yang sama sekali belum pernah ia kunjungi. Toni bahagia karena Dina memberinya kesempatan untuk dekat dengannya lagi.


"kamu senang....?" tanya Toni sambil fokus menyetir


"senang....senang banget....terima kasih ya Ton..." Dina mengembangkan senyumnya


"syukurlah kalau kamu senang" Toni tersenyum menatap Dina


"iya...meski singkat namun menyenangkan...." Dina tak berhenti tersenyum


"Din..."


"hmmm..." Dina menatap Toni


"aku pernah bilang sedang merencanakan masa depan kan...?" ucap Toni hati-hati takut menyinggung Dina


"iya...." Dina masih menatap Toni yang sesekali menoleh padanya


"banyak hal yang aku rencanakan termasuk mendekatimu, dan bisa merebut hatimu kembali" ucap Toni menatap Dina


Dina menghela nafasnya "aku sudah bilang, aku tidak berani menjanjikan apapun padamu, karena saat ini aku masih ingin sendiri tak terikat dengan siapapun aku harap kamu mengerti"


"aku lelah, memiliki hubungan yang selalu berakhir tidak baik Ton...aku juga sama seperti kamu, aku ingin jika memiliki pacar dialah yang akan menjadi sandaran hidupku kelak, aku sudah tidak ingin pacaran hanya sekedar untuk bersenang-senang, aku ingin serius, sudah saatnya aku memilih orang yang tepat yang akan menjadi pendampingku kelak"


"beri aku kesempatan untuk membuktikan diriku pantas untuk menjadi seperti yang kamu inginkan Din..." Toni menyatakan perasaannya namun ia tak berani mengungkapkan secara terang-terangan, untuk sekarang ia hanya ingin Dina tahu perasaannya dan kesungguhannya, ia sudah berjanji pada dirinya akan mengambil hati Dina perlahan.


Hening, tak ada lagi pembicaraan di antara mereka, Toni merasa bersalah karena telah membuat keceriaan Dina hilang. "Maafkan aku Din..." Toni tak tahan, ia takut Dina akan berlarut-larut mendiamkannya


"untuk apa?" Dina menoleh ke arah Toni dengan wajah penuh tanda tanya


"karena ucapanku tadi" jawab Toni lirih


"itu hak kamu Ton....aku tak bisa melarang siapapun untuk menyukaiku" jawab Dina datar


"tapi....kenapa kamu mendadak menjadi pendiam?"

__ADS_1


"memangnya mau ngobrolin apa lagi? Bukankah ucapanmu tadi tak perlu aku tanggapi?"


"tapi sepertinya kamu enggak suka...."


Dina menghela nafasnya "entahlah Ton....saat kamu bilang begitu ada rasa enggak nyaman di hatiku, mungkin karena dulu kita pernah punya cerita buruk"


"maafkan aku Din...maafkan atas semua yang aku lakukan di masa lalu, aku menyesalinya....sungguh....aku benar-benar menyesal Din...aku ingin memperbaiki semuanya waktu itu tapi kamu sudah memilih yang lain dan tak ada kesempatan untukku memperbaiki kesalahanku"


"bahkan....aku telah membalaskan sakit hatimu pada orang-orang yang telah membuat hubungan kita hancur" Toni frustasi, ia tahu cepat atau lambat Dina pasti akan mengungkit masa lalu namun ia tak menyangka Dina akan berkata begitu setelah mereka bersenang-senang menikmati liburan bersama.


"balas dendam?" Dina mengerutkan dahinya "untuk apa kamu membalas dendam? Kamu tak perlu melakukannya, jika perasaanmu ke aku lebih penting mau orang lain berkata apapun kamu pasti akan lebih memilih mendengarkan kata hatimu bukan orang lain"


"iya Din....aku salah....hampir enam tahun aku terpuruk dalam bayang-bayang rasa bersalahku kepadamu, aku sudah mendapatkan balasan atas apa yang pernah aku lakukan padamu" Toni menepikan mobilnya ia tak bisa menyetir dalam kondisi pikirannya kacau


"kenapa berhenti?" Dina kebingungan


"tolong maafkan aku Din, kita mulai dari awal seperti saat kita baru berkenalan ya...." Toni meraih kedua tangan Dina dan menggenggamnya, ucapannya begitu tulus dari lubuk hati terdalam wajahnya pun terlihat frustasi


Dina bingung, ia tak tahu harus berbuat apa, ia belum pernah melihat Toni seperti itu. Penuh penyesalan, wajahnya terlihat benar-benar frustasi.


"dulu aku masih terlalu muda untuk bisa memahami mana yang baik dan mana yang buruk, tapi setelah kehilanganmu aku menyadari apa yang aku lakukan tidak benar tapi semua sudah terlambat" Toni masih menggenggam kedua tangan Dina, matanya pun berkaca-kaca


"itu berarti kamu belum benar-benar melupakan semuanya Din....mulai detik ini aku akan berusaha membuatmu nyaman, dan melupakan semua hal-hal yang menyakitkan" Toni menitikkan air matanya.


Dina melihat raut penyesalan pada wajah Toni. Dina merasa tersentuh, tapi kenangan buruk bersama Toni tidak bisa begitu saja hilang. Hatinya pernah terluka, meskipun luka itu telah sembuh namun bekasnya masih tetap ada.


Dina bingung, bagaimana mengambil sikap terhadap Toni. Di satu sisi ia memang memberi Toni kesempatan di sisi lain ia belum bisa menghilangkan bekas luka itu.


"maafkan aku Din..."


"iya Ton....sudah ya...aku tahu kamu bersungguh-sungguh dengan ucapanmu, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku enggak melarang, biarkan waktu yang menjawab semuanya"


Toni melepaskan genggaman tangan Dina "terima kasih" Toni tersenyum kemudian ia menyalakan musik untuk menghibur dirinya setelah menerima kenyataan Dina belum sepenuhnya melupakannya


"sudah ya....ayo jalan lagi" ucap Dina tersenyum simpul


"iya....kita jalan ke depan sama-sama" Toni terkekeh

__ADS_1


"maksud kamu?" Dina sedikit ketus


"kalau jalan ke belakang kan mundur, nanti enggak sampai-sampai" Toni tergelak


"Toni....!"


"iya...iya....aku jalan lagi" Toni mulai mengemudikan mobilnya pelan-pelan. Ternyata usahanya untuk mendekati Dina harus lebih keras lagi. Ia bertekad akan secepatnya menyelesaikan skripsinya agar ia bisa segera memiliki waktu yang lebih banyak lagi untuk mendekati Dina.


Setelah menempuh tiga jam perjalanan, mereka berdua sampai di kos Dina. Toni membantu menurunkan barang bawaan Dina.


"ini Din untukmu...." Toni menyerahkan paper bag besar


"apa ini Ton...." Dina belum membukanya karena ia sibuk membuka pintu kosnya


"buka nanti saja....aku harap kamu selalu ingat yang baik-baik tentang aku"


"terima kasih Ton..."


"aku bawakan ke atas ya..."


"kamu pulang saja, pasti banyak pekerjaan yang kamu tinggalkan" Dina tersenyum


"baiklah....besok hati-hati ya....aku enggak bisa mengantar jemput kamu..."


"tenang saja....aku sudah biasa naik motor antar kota antar propinsi" Dina tergelak


"aku pulang dulu...." Toni berbalik kemudian ia berjalan ke mobilnya.


Berat rasanya berpisah dengan Dina apalagi setelah perdebatan dengan Dina sewaktu diperjalanan tadi. Namun ia tak mungkin memaksa Dina untuk selalu bersamanya.


Meskipun Dina sudah kembali ceria, namun Toni tahu merebut hati Dina tak semudah membalik telapak tangan. Ia butuh campur tangan Roy yang sampai sekarang masih menjadi tempatnya berkeluh kesah.


.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2