
"maaf...." ucap Dina lirih
Toni mendekat ke arah Dina kemudian memeluknya "kamu tidak salah Din....lain kali jangan terlalu baik sama orang...." Toni mengusap rambut Dina
"aku kira...dengan mendiamkan dan menghindarinya semua akan selesai..." ucap Dina lirih
"aku juga yang salah...memaksamu menggantikan Raya....aku pikir tidak akan ada yang iri...ternyata...."
"aku berusaha bersikap sebaik mungkin kepada semua karyawanmu, tapi sikapku disalah artikan oleh mereka"
"tahukah kamu, enggak cuma Bagas yang menuduhmu demikian...dia hanya salah satunya...." Toni mengurai pelukannya
"hah...." Dina terkejut menatap mata Toni "dari mana kamu tahu?"
"aku pemilik perusahaan itu sayang....aku sudah bilang banyak mata dan telinga yang mau memberitahuku" Toni terkekeh
"sombong...!" Dina mengerucutkan bibirnya
.
Satu minggu berlalu, sesuai janjinya Dina menemani Toni yang sedang ujian tesisnya. Dina duduk menunggu Toni di depan ruang sidang fakultas ekonomi sendirian.
Tak ada rasa cemas di hati Dina karena ia tahu Toni pasti akan berhasil melaluinya dengan baik. Dina duduk termenung sendiri, tak ada seorang pun yang menemaninya.
"kamu ngapain di sini...?" suara seseorang membuyarkan lamunannya
Dina mendongak menatap dua orang yang sangat ia kenal sedang berdiri di hadapannya "sedang duduk..." jawab Dina santai
"iya...aku tahu kamu sedang duduk, tapi ngapain di sini? Bukannya kampus kamu di belakang?"
"apa aku nggak boleh duduk di sini?" Dina acuh, namun tidak dengan hatinya. Ia hanya berpura-pura tak terusik dengan kehadiran orang yang selama ini ia simpan di dalam hatinya
"aneh saja Din...kamu duduk di sini sendirian, ya...nggak Den...?" cowok itu melirik ke samping kananynya
"di sini sepi Din...kamu ngapain di sini?" ucap cowok yang dipanggil Den
__ADS_1
"ya ampun kalian ini....aku duduk di sini nggak boleh ya...aku mau cuci mata di sini, kali aja ada mahasiswa magister yang cakep?" Dina sedikit kesal "Adi kapan kamu lulus?"
"tenang...sebentar lagi juga lulus, paling kita wisuda bareng nanti?" jawab Adi menyombongkan diri
Dina terkekeh "iya...iya...semoga kita bisa wisuda bareng"
"Din...aku sama Adi ada kuliah, kamu nggak apa-apa di sini?" tanya Dendy
Dina tersenyum "kalian pergilah, aku masih ingin duduk di sini"
"hati-hati...di sini sepi...angker pula..." goda Adi
"nggak usah kawatir....nanti juga ada yang menemani" Dina memaksakan senyumnya ketika menatap Dendy, yang terlihat biasa saja ketika menatapnya.
"yakin sendirian di sini?" goda Adi
Dina hanya menjawab dengan senyuman. Adi dan Dendy meninggalkan Dina sendiri di depan ruang sidang fakultas mereka. Dina hanya bisa menatap kepergian mereka, tak ada satupun di antara mereka yang menengok ke belakang.
Hati Dina sedikit tercubit "ternyata selama ini hanya aku yang masih mengingatmu" batin Dina
Setengah jam berlalu, pintu ruang sidang terbuka, Toni berjalan keluar dengan senyum mengembang. Ia mempercepat langkahnya menghampiri Dina kemudian memeluknya.
"aku tahu kamu pasti berhasil" ucap Dina tersenyum membelai lembut punggung Toni.
"aku sudah nggak sabar lagi menunggu wisuda...." Toni mengurai pelukannya.
"tinggal satu bulan lagi sayang..." Dina menyunggingkan senyumnya
"iya..." Toni kembali memeluk Dina.
Toni bahagia bukan karena mereka bisa wisuda bersama-sama, namun karena setelah wisuda itu dirinya dan papanya sudah berencana akan melamar Dina secara resmi kepada kedua orang tuanya.
Toni masih belum mengatakan rencananya pada Dina, ia ingin memberikan kejutan di hari wisuda mereka. Ia ingin memberi kado terindah di saat kelulusan mereka.
"ayo kita rayakan...." Toni menggandeng Dina menuju ke arah tempat parkir mobil
__ADS_1
Toni meraih ponsel yang ada di sakunya "Wan...tolong gantikan aku satu atau dua hari ke depan, jangan hubungi aku kalau tidak penting" Toni mematikan panggilannya
"kita mau kemana?" tanya Dina penuh tanda tanya
"kita berlibur ke pantai pertama kali kita berlibur dulu" ucap Toni penuh semangat
"kenapa jauh sekali....?" protes Dina
"ayolah sayang....setelah wisuda kita berdua akan sama-sama sibuk, mumpung ada waktu luang kita manfaatkan" Toni tampak bersemangat
"sibuk? Sibuk apa?" Dina kesal
"katanya kamu ingin bekerja?" tanya Toni dengan tatapan teduh
"iya...tapi masak iya langsung bekerja...aku sama sekali belum melamar ke perusahaan manapun sayang..." Dina memakai sabuk pengamannya
"sudah aku atur....kamu tinggal pilih, kerja di perusahaan om Ferdi, bekerja di kantor pusat bersama papa, atau kamu mengelola restoran?" Toni tampak bersemangat
"kamu itu benar-benar egois...! Dina mengerucutkan bibirnya "aku ingin mencari pekerjaan sendiri" Dina menatap ke arah depan
"baik...baiklah....terserah kamu" Toni sedikit kesal "sekarang ke rumah dulu ya... ambil baju ganti"
"ke kosku dulu" ucap Dina ketus
"ayolah sayang...bukankah sebagian besar baju kamu ada di rumahku" rayu Toni
"iya...iya....tuan pemaksa..." Dina kesal
Toni tersenyum menatap Dina yang terlihat kesal. Kali ini ia sudah merencanakan liburan yang belum pernah ia lakukan. Ia sangat bersemangat karena apa yang ia inginkan selama ini sudah ada di depan mata.
Kesabarannya dulu, mulai membuahkan hasil. Penantiannya, perjuangannya tidak sia-sia, tinggal satu langkah lagi, ia akan memiliki Dina selamanya.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g