Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 160 Sok Tahu


__ADS_3

Dina mengurung diri di dalam kamarnya, ia merasa sakit hati mengingat ucapan Bagas padanya sewaktu di kantor. Dina ingin sekali membalas Bagas namun, jika ia membalasnya sama halnya ia mengakui jika dirinya seperti yang apa disangkakan oleh Bagas.


"kak....ada kak Toni di bawah" Lia mengetok pintu kamar Dina


"iya..." teriak Dina


Dina bergegas keluar dari kamarnya dan turun ke bawah menemui Toni. Dina melihat sedang bersandar di mobilnya dengan penampilan yang begitu acak-acakan dan wajah yang terlihat lelah.


"bukankah sudah kubilang nggak usah datang" ucap Dina memghampiri Toni


"sudah lama kita tidak makan malam bersama" ucap Toni menegakkan tubuhnya


"baiklah...kita makan di warung belakang saja ya...biar lebih cepat"


Toni menggandeng Dina berjalan ke arah warung yang terletak di belakang kosnya. Warung langganan Dina sejak ia kos di sana. Meski sekarang Dina telah menjadi tunangan seorang pengusaha, kesederhanaannya tidak berubah.


Toni mencintai Dina karena itu, sejak awal ia kenal Dina, tak ada yang berubah dari diri Dina. Hanya sikap pencemburunya yang berubah. Dina yang sekarang lebih mudah cemburu, Toni tidak terlalu mengkawatirkan hal itu.


Satu jam berlalu, mereka berdua kembali ke kos Dina. Tak seperti biasanya jika Toni datang, mereka berdua duduk di teras kos Dina.


"kamu sudah mendapat sekretaris baru?" Dina menatap Toni


"belum ada yang pas, belum ada yang cekatan dan tanggap seperti Raya" jawab Toni santai "lagipula sekarang ada kamu, aku ingin kamu benar-benar jadi sekretarisku, bukan hanya sekedar mengisi kekosongan posisi itu"


"kita sudah pernah membahas ini kan? aku hanya membantumu sebisaku, kuliahku belum selesai, dan lagipula aku ingin bekerja bukan sebagai sekretaris"


"ayolah sayang....apa bedanya kamu kerja sebagai sekretarisku dan bekerja di tempat lain? Toh sama-sama bekerja"


"ya bedalah....aku nggak mau sekantor denganmu" Dina tergelak


"jadi begitu..." ucap Toni kesal


"mungkin beberapa hari ini aku nggak datang ke kantor, ada yang harus aku kerjakan" ucap Dina yang hanya ingin menenangkan hati dan pikirannya karena ucapan Bagas yang begitu menyinggungnya


"baiklah...tapi seenggaknya luangkan waktumu satu atau dua jam, tolong bantu aku, proyekku sedang banyak-banyaknya, aku nggak bisa mengurus semuanya sendirian"


"baiklah akan kucoba...tapi aku nggak janji..."

__ADS_1


Dua hari berlalu, Dina menyibukkan dirinya dengan menyelesaikan skripsinya yang sudah hampir selesai. Dua hari pula Toni ssngat sibuk sampai tak ada waktu menelpon Dina.


Dina mendengar dari Ridwan jika Toni dinihari baru pulang dari kantor karena harus mengerjakan semua dokumen sendirian. Dina merasa kasihan, ia tak tega, ia pun mengesampingkan rasa marahnya dan berniat besok setelah dari kampus ia ke kantor Toni.


Pagi-pagi sekali Dina bersiap untuk ke kampus, setelah selesai ia pun turun ke bawah hendak membeli sarapan seperti biasa. Dina terkejut saat membuka pintu kosnya, Toni sudah berdiri di depan kosnya.


Meskipun pakaiannya tampak rapi, namun wajahnya terlihat kelelahan.


"kenapa pagi-pagi sudah ada di sini?" Dina menghampiri Toni


"dua hari nggak bertemu aku rindu..." ucap Toni dengan wajah lelahnya "kamu mau kemana?"


"aku mau membeli sarapan di belakang, kamu mau ikut?"


"iya...dari semalam aku belum sempat makan" ucap Toni


Dina mengajak Toni membeli makan di warung langganannya yang terletak tak jauh dari kosnya. Mereka berdua sengaja membungkus makanan yang mereka pesan agar bisa menikmati sarapan mereka di kos Dina.


"sudah lama kita tidak makan berdua seperti ini" ucap Toni


"itu karena kesibukan kita masing-masing" ucap Dina sambil mengunyah makanannya.


"kamu nggak ke kantor?"


"nanti setelah dari kampus, aku juga mau bertemu dosenku" ucap Toni


Toni dan Dina pergi ke kampus berdua. Toni memarkirkan mobilnya di depan lobi kampus Dina. Mereka berdua turun dari mobil, Toni menggandeng tangan Dina.


Kini Dina tak menolak lagi ketika Toni ingin mengumumkan hubungan mereka berdua. Dina pikir, dirinya tinggal sebentar lagi kuliah di sana.


Kondisi kampus sedang ramai, banyak yang menatap ke arah mereka berdua. Tidak sedikit yang menatap tak suka pada Dina, karena Dina berjalan Toni yang dari penampilannya sudah terlihat kalau ia bukan mahasiswa biasa.


Mereka berdua tak menghiraukan pandangan orang, selama mereka tak merugikan orang-orang yang ada di sekitar mereka.


"nanti tunggu aku di sini ta..." ucap Toni lembut


"baiklah..." ucap Dina sedikit berat hati, ia tahu Toni pasti akan mengajaknya ke kantornya.

__ADS_1


Dina masuk ke ruang dosen pembimbingnya, sedangkan Toni berjalan ke arah fakultas ekonomi. Satu jam berlalu, Dina keluar dari ruangan dosennya, Toni sudah duduk menunggunya di depan ruangan itu.


"bagaimana?" tanya Toni menatap Dina penasaran


"tinggal menyempurnakan sedikit" ucap Dina dengan senyum mengembang


"syukurlah....semoga besok kita bisa wisuda bareng" Toni bangkit dari duduknya


"iya...semoga"


Di kantor Toni, Bagas penasaran beberapa hari Dina tidak masuk kerja. Ia masiu belum mengetahui siapa Dina sebenarnya, orang-orang di kantor itu banyak yang tidak menyukai Bagas karena ia yang sombong dan suka meremehkan orang lain.


"itu sekretaris baru...beberapa hari nggak masuk kemana?" tanya Bagas pada resepsionis kantor itu


"maksudmu siapa Gas...sejak kapan ada sekretaris baru?" ucap resepsionis itu


"sekretaris bos lah....memangnya di sini ada berapa sekretaris?" Bagas kesal


"setahuku Raya sudah lama memgundurkan diri" ucap resepsionis itu


"makanya kalau cuti jangan lama-lama, sampai ada sekretaris baru kamu nggak tahu"


Resepsionis itu bingung, pasalnya dia sudah cuti selama hampir satu bulan karena sakit yang dideritanya. Baru hari ini dirinya kembali bekerja.


"memangnya namanya siapa?" tanya resepsionis itu


"namanya Dina..." ucap Bagas kesal


Resepsionis itu berpikir keras, seharusnya jika ada karyawan baru ia sudah diberitahu karena ia yang harus mengurusi absensi karyawan setiap harinya.


Ia pun membuka komputer yang ada di depannya, ia mencara nama karyawan yang asing menurutnya, namun tak ia temukan. Selama ini Dina yang ia tahu adalah kekasih bosnya.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2