Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 121 Uji kesabaran


__ADS_3

Dina keluar dari kamar mandi, ia sudah berpakaian rapi. Dina masih mengacuhkan Toni, seolah-olah Toni tak ada. Toni menjadi frustasi, ia bingung harus bagaimana lagi meminta maaf pada Dina.


"sayang...aku minta maaf...jangan marah lagi ya..." Toni mengambil sisir kemudian ia menyisir rambut Dina


"kamu mau kemana? sudah rapi begini?" Toni masih menyisir rambut Dina.


"bukannya kamu ke sini menjemput aku?" ucap Dina ketus


"hah? Menjemput kamu?" Toni sedikit berpikir "kamu sudah tidak marah lagi?"


"siapa yang marah?" ucap Dina kesal


"itu dari kemarin telepon nggak diangkat, pergi nggak bilang-bilang, nggak pulang ke kos, aku dicuekin" Toni meletakkan sisirnya


"aku cuma kesal saja....kamu itu nggak perhatian malah aku dibentak-bentak!" bentak Dina sambil mengerucutkan bibirnya


"iya...iya...aku yang salah...sudah ya...marahnya..." ucap Toni sambil menyunggingkan senyumnya


"iya..." ucap Dina ketus


Dina beranjak dari duduknya kemudian merapikan kamarnya sebelum ditinggal keluar olehnya.


"kamu mau kemana?"


"ke kantormu"


"mau ngapain ke kantor? Raya hari ini sudah masuk kerja lagi"


"oh...syukurlah...kalau begitu aku mau pergi jalan-jalan...sudah sana berangkat ke kantor"


"kok begitu..."protes Toni "iya...iya...ayo ikut aku ke kantor, hari ini kamu jadi sekretaris pribadiku" Toni terkekeh melihat Dina yang masih tampak kesal


Toni mengajak Dina ke kantornya, selama perjalanan Dina hanya diam. Ia masih kesal dengan tingkah laku Toni yang akhir-akhir ini di luar kebiasaannya. Dina harus ekstra sabar, menghadapi Toni yang tiba-tiba manja, tiba-tiba seperti anak kecil dan mudah marah


"ayo dong sayang...senyum...dari tadi cemberut terus" gda Toni


"kamu ini kenapa sih...?? tingkahmu akhir-akhir ini aneh" ucap Dina ketus


Toni menggaruk kepalanya yang tak gatal "aneh ya...?"


"iya....kamu itu menguji kesabaranku...!!"


"memang iya...." Toni terkekeh


"haishhh....kamu itu ya....!!" Dina memukuli lengaj kiri Toni


"aduh...aduh.....jangan Din....aku sedang nyetir...."

__ADS_1


Dina menghentikan tinjuannya, ia kembali mengerucutkan bibirnya. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Toni.


"sayang....ayo dong...jangan marah lagi..." rayu Toni


Dinq hanya melirik sekilas, tatapannya kembali tertuju ke depan.


"aku minta maaf...nggak seharusnya aku berbuat seperti itu.....itu karena aku kesal tiba-tiba kamu berlari meninggalkanku di saat aku sedang....kamu tahu sendirilah..."


"oh...jadi cuma gara-gara itu?! Kamu itu seperti anak kecil!!"


"maaf.... Habisnya kalau bersama kamu itu aku tidak bisa mengontrol diriku" ucap Toni lirih


"makanya...punya otak dibersihkan...jangan memikirkan hal yang jorok terus!!!"


"iya...iya...aku janji..."


"kesabaranku ada batasnya...jangan seenaknya mempermainkan kesabaranku"


"iya...."


.


"besok jangan lupa ya...temani aku...ke wisudanya kak Tere" ucap Dina sebelum turun dari mobil Toni


"iya...sayang..."


Dina menjalani hubungannya dengan Toni kali ini sebagai penjajakan akan sifat masing-masing. Ia dan Toni telah sepakat menjalaninya secara serius tak ada yang ditutup-tutupi dan menjadi diri mereka masing-masing.


Mereka sedang menguji pribadi mereka masing-masing. Jika memang mereka berdua bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan, mereka akan maju ke tahap yang lebih serius.


Pagi-pagi kos Dina sudah diributkan dengan teman-teman kosnya yang hari ini akan melaksanakan wisuda. Bahkan Tere jam empat pagi sudah pergi ke salon untuk mengantre dandan.


Dina terbangun karena dari kamar Tere terdengar suara gaduh. Dina pun keluar dan melihat papa mama serta adik Tere sudah berada di kosnya.


Dina pun kembali ke kamarnya, ia tak mau mengganggu kesibukan mereka. Dina memutuskan untuk mandi lebih awal, agar nanti ia tak buru-buru.


Pukul sembilan pagi Toni datang ke kosnya, ia memakai pakaian sedikit formal yang menambah kadar ketampanannya.


"kamu itu mau tebar pesona?" ucap Dina kesal


"maksudmu?"


"itu baju kamu....tumben pakai baju begitu" Dina mengerucutkan bibirnya


"bajuku biasa saja Din...biasanya juga kalau aku pergi dengan kamu pakai baju begini..."


"iya...tapi ini di keramaian Ton...kadar ketampanan kamu meningkat kalau pakai baju begitu"

__ADS_1


Toni tergelak "jadi pacarku ini sekarang posesif?" ledek Toni. Dina hanya mengerucutkan bibirnya


"terus aku pakai baju apa? Apa aku pulang dulu?"


"enggak usah...udah begitu aja..."


Toni semakin tergelak, melihat Dina yang terlihat sedang kesal.


"kamu tenang saja....aku enggak akan jauh-jauh dari kamu" Toni menyunggingkan senyumnya. Baru kali ini Dina menunjukkan rasa cemburunya. Toni bahagia, pelan tapi pasti ia bisa merebut hati Dina, dan akan memiliki Dina seutuhnya.


Terkadang ia merasa mendapatkan Dina itu adalah obsesinya saja namun jika itu hanya obsesi setelah mendapatkan Dina ia kana bosan. Tapi Toni semakin hari semakin mencintai Dina, dan enggan berjauhan dengannya.


Toni menggandeng tangan Dina menaiki tangga auditorium universitas A. Biasanya Dina akan menepis tangan Toni, namun kali ini ia membiarkannya, tak banyak yang mengenalnya di sana.


"kita tunggu di sini saja" ucap Dina duduk di kursi di depan auditorium


Toni duduk di sebelah Dina, dan memperhatikan sekelilingnya. Ini pertama kalinya ia mendatangi tempat itu.


Tak lama pintu auditorium terbuka, semua yang berada di dalam satu per satu keluar. Dina berdiri memegang sebuket bunga mawar merah, memperhatikan satu per satu yang keluar dari auditorium.


Orang yang ia hindari menatapnya dengan senyum mengembang, di belakangnya ada mama dan papanya yang mengikutinya.


"Dina....kamu datang" ucap Bimo dengan senyum mengembang. Ia tak melihat Toni karena Toni masih duduk di belakang Dina.


Dina hanya menatap datar pada Bimo "selamat atas wisudamu" ucap Dina tanpa ekspresi sama sekali. Di belakangnya Toni mengepalkan tangannya, ia masih diam memperhatikan apa yang akan Dina lakukan.


"oh...ada kamu..." tiba-tiba mamanya Bimo berada di antara Bimo dan Dina "setelah ini, Bimo akan mengambil S2 di luar negeri, kamu jangan ganggu dia!" ucap mamanya Bimo dengan nada tak suka.


Toni geram, ia pun berdiri "sayang...mana Tere?" Toni merangkul pinggang Dina


Bimo terkejut melihat Toni yang dengan santainya memeluk Dina.


"aku belum melihatnya..." Dina mencari di kerumunan para wisudawan


"oh...ini pacar kamu? Syukurlah kalau kamu sudah punya pacar" ucap mamanya Bimo dengan tatapan merendahkan


Dina hanya bisa menahan kesalnya, dari dulu ia selalu dipandang sebelah mata oleh mamanya Bimo


"saya tidak pernah mengganggu anak tante, anak tantelah yang selalu mengganggu saya" ucap Dina menahan kesalnya


.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2