
Di penghujung kelas dua, semua mulai terbuka. Toni mulai menemukan jawaban atas pertanyaannya selama ini. Toni mulai menyadari semuanya.
Perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Perlahan tapi pasti ia mulai menjauh dari Bian. Ia sudah memantapkan hatinya menjauh dari Bian, meski resikonya papanya yang akan menanggungnya.
Selama ini Bian selalu membawa-bawa cerita jika papanya Toni bisa sukses seperti sekarang karena campur tangan papanya Bian. Dari mbok Nah lah Toni tahu jika apa yang diceritakan oleh Bian tidak sepenuhnya benar. Memang papanya Bian pernah membantu papanya Toni dalam bisnisnya, tapi itu kerjasama secara pofesional.
Setelah sekian lama, Toni baru menyadari jika Bian bukannlah teman yang baik. Bianlah yang selama ini mengarang cerita tentang Dina. Bian memang sengaja ingin menjadikan Toni orang yang bisa ia kendalikan seperti Angga.
"Bi...aku mau tanya sesuatu padamu" tanya Toni di sela-sela latihannya
"apa?!" tanya Bian dengan gaya angkuhnya
"untuk apa kamu mengarang cerita tentang Dina?" tanya Toni menahan emosinya
"mengarang apa?!"
"semua yang kamu katakan tentang Dina!"
Bian tertawa dengan kencang, tidak menanggapu pertanyaan Toni. Toni semakin kesal. Ia baru menyadari jika Dina memang tak ada hubungan apapun dengan Widi. Mereka berdua hanya berteman.
Dina tidak meninggalkan dirinya demi cowok lain tapi karena dirinyalah Dina mengambil keputusan itu. Butuh waktu lama untuknya memikirkan semua setelah melihat Dina yang begitu sibuk mengurus acara yang diadakan oleh OSIS.
Toni menyadari, ketika Dina berlalu lalang di hadapannya tanpa menghiraukan dirinya karena Dina terlihat hanya fokus menyelesaikan tugasnya.
Hati Toni sedikit tercubit, dan membuka kembali kejadian di masa lalu di mana dia yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama timnya. Hanya untuk mengobrol dengan Dina saja ia tidak sempat padahal mereka satu kelas.
Toni merasakan, ada rasa tidak suka ketika Dina mengabaikannya. Padahal mereka sudah tak ada hubungan apapun, tapi ia masih merasakan perasaan itu.
Ia menyadari bagaimana posisi Dina saat itu. Diabaikan dan tak dianggap. Bahkan secuil perhatian pun tak ia berikan pada Dina. Puncaknya ketika Dina sakit, ia ingat hatinya sedih melihat Dina sakit tapi tubuh dan pikirannya lebih mengikuti apa kata Bian.
__ADS_1
Toni merasa begitu bodoh, selama ini dibutakan dengan kata-kata dusta dari Bian. Ia juga merasa bersyukur karena waktu itu ia tidak tertarik dengan adiknya Bian yang terang-terangan mengejarnya.
Toni berpikir jika ia berpacaran dengan adiknya Bian entah apa jadinya dirinya. Pasti Bian akan semakin menjadi mengendalikan dirinya.
"Bi...aku keluar dari tim ini...!!" ucap Toni sambil melemparkan bolanya.
"Tidak bisa begitu Ton.....!! Ingat bisnis papamu taruhannya!!" ancam Bian
"kamu jangan menakuti aku! Aku bukan anak kecil lagi...!" Toni meraih leher baju Bian. Toni sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Sejak ia bersama Dina ia tak lagi berbuat kasar pada siapapun.
Ketika emosi, ia hanya berlatih tinju atau dia berkeliling dengan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia lebih memilih membahayakan dirinya sendiri daripada harus membahayakan orang lain.
"Hahahaha....nyatanya kamu tidak ubahnya seperti seekor kucing kecil yang menurut pada tuannya...." Bian tertawa kencang
Toni melepaskan cengkeramannya, ia berlalu meninggalkan lapangan basket tempat ia berlatih.
Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi ke tempat ia biasa menyendiri. Toni pergi ke air terjun tempat dimana pertama kalinya ia pergi bersama dengan Dina.
Di tempat itu, seakan waktu berputar kembali ke masa lampau. Toni teringat kenangan indahnya bersama Dina. Bagaimana Dina sangat bahagia dengan kejutan yang sederhana.
Bagaimana Dina menikmati kebersamaan mereka meski hanya sekedar jalan tanpa arah berdua. Senyum Dina yang tak pernah pudar saat bersamanya.
Kesabaran Dina menghadapi emosinya yang tiba-tiba meledak. Mengingat saat ia memasakkan makanan sederhana untuk Dina. Hanya omelet Dina sudah tampak bahagia.
Akhirnya Toni benar-benar menyadari apa yang telah ia perbuat. Toni benar-benar menyesal dengan apa yang telah ia perbuat dulu. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya luruh juga.
"Dina maafkan a...ku..." Toni terisak dalam kesendiriannya "apakah ada cinta di hatimu untukku Din...?" Toni tak kuasa menahan kesedihannya.
Setelah semua emosinya mereda ia pulang ke rumah. Kali ini ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Pikirannya terasa kosong, hatinya terasa hampa. Mengingat tak ada lagi senyum Dina untuknya.
__ADS_1
"mas Toni dari mana saja?" tanya mbok Nah yang kawatir melihat Toni dengan tatapan kosong memasuki rumah
"dari latihan mbok..." ucap Toni lesu
"latihan dari mana? Kenapa bajunya kotor semua? " mbok Nah kawatir dengan keadaan Toni yang pulang dengan baju yang kotor tak seperti biasanya.
Toni tak menjawab, ia pergi naik ke lantai dua, masuk ke kamarnya. Mbok Nah yang kawatir mengikuti Toni masuk ke kamar.
"mas Toni kenapa?" Mbok Nah memunguti baju kotor yang tadi dipakai Toni
"Dina mbok...." ucap Toni dengan nada sendu
"mbak Dina kenapa mas? Sudah lama sekali mbak Dina tidak kemari" ucap mbok Nah duduk di kursi yang ada di kamar Toni
"kira-kira Dina mau memaafkan aku tidak ya mbok..." Toni menelungkupkan tubuhnya di kasur
"mbok yakin mbak Dina itu pemaaf mas...mbak Dina itu baik hati..." mbok Nah membelai Toni.
Mbok Nah sudah menganggap Toni seperti anaknya sendiri. Mbok Nah sudah merawat Toni sejak bayi. Tahu bagaimana sifat Toni. Bahkan lebih mengerti daripada mamanya yang jarang sekali berada di rumah.
"tadi mas Roy telepon, menanyakan mas Toni ada di mana, mbok jawab pergi dengan den Bian...." ucap mbok Nah lembut
"iya mbok terima kasih..." ucap Toni
"mbok ke bawah dulu ya mas..." mbok Nah meninggalkan kamar Toni untuk melanjutkan pekerjaannya.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g