
Sebulan berlalu, Dina mulai terbiasa dengan posisinya sebagai asisten Vanya, dan ia pun juga sudah mulai lancar menyetir mobil sendiri. Setelah satu bulan baru terasa bahwa posisinya begitu penting, ia terkadang menggantikan Vanya bertemu klien jika Vanya sedang berhalangan.
Meskipun ada rasa takut akan mengacaukan pekerjaan Vanya namun, ia berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan tugas-tugasnya.
.
Di kota J, dari pagi Toni uring-uringan entah apa sebabnya tak ada yang tahu. Salah sedikit saja, ia kan marah, padahal biasanya ia hanya akan menegur saja.
Ridwan pun dibuat bingung dengan tingkah laku bos sekaligus teman masa kecilnya itu. Tak biasanya, marah-marah untuk hal sepele. Sampai Mega sekretarisnya tak berani masuk ke dalam ruangan bosnya itu.
"apa ada masalah bos?" ucap Ridwan memasuki ruangan Toni.
"banyak...!" jawab Toni dengan nada kesal. Ridwan hanya mengerutkan dahinya.
"salah satunya?" Ridwan duduk di seberang Toni
"Dina akhir-akhir ini susah dihubungi, jangan-jangan dia sedang bersama orang lain"
Ridwan hanya mengerutkan dahinya. Seingatnya, Dina sekarang menjadi asisten kakaknya Toni, sudah pasti banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Menjadi asisten CEO di kantor pusat Wijaya Group pasti menyita banyak waktunya. Dirinya sendiri waktu itu saja sering membatalkan janjinya dengan Raya karena ada urusan mendadak, apalagi Dina, sudah pasti akan lebih repot dibanding dirinya.
"bos sudah mencoba tanya pada kakak bos?"
"sudah...tapi seperti yang kamu tahu, Vanya itu selalu saja mencari masalah denganku" Toni memijit keningnya
"sebaiknya bos ke sana....barangkali non Dina memang benar-benar sibuk, bukankah dia juga disibukkan dengan persiapan pernikahan kalian?"
"tapi masak iya angkat teleponku saja dia tidak sempat?" kesal Toni
"besok hari sabtu, sebaiknya bos kesana saja untuk memastikan kondisi non Dina"
"tidak bisa Wan....besok aku harus bertemu beberapa calon klien" Toni frustasi
__ADS_1
Ridwan tak bisa berkata-kata lagi, memang benar akhir-akhir ini Toni juga disibukkan dengan pertemuan dengan calon klien-kliennya. Toni seperti sedang kejar target
"bos sepertinya sedang kejar target" ucap Ridwan
"buat biaya menikah Wan" Toni terkekeh
"bos nggak perlu kejar target, ada big bos yang bisa membiayai, lagipula masih ada restoran yang selalu ramai pengunjung, memangnya saya harus menabung dulu" cibir Ridwan.
Toni tak menghiraukan ucapan Ridwan, ia lebih memilih meninggalkan ruangannya dan keluar kantor. Sudah lama Toni tidak memeriksa sendiri kondisi restorannya.
Toni tidak mengusik keuntungan restoran karena uang itu sepenuhnya masuk ke rekening Dina. Namun Dina sama sekali tidak tahu, atau mungkin Dina melupakan jika ia memiliki rekening lama yang tak pernah ia pakai.
Setelah memastikan kondisi restoran baik-baik saja, Toni meninggalkan restoran dan pergi ke lapangan golf. Tempat baru yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi untuk memuluskan usahanya.
Di lapangan golf itulah, ia mencari relasi dan sekaligus mencari calon klien untuk perusahaannya. Di sana Toni bertemu banyak pengusaha , yang berpotensi menjadi kliennya.
"maaf...tuan...saya tidak sengaja..." seorang perempuan menabrak Toni.
"hati-hati kalau berjalan..." ucap Toni dingin, melirik sekilas siapa yang menabraknya dan ternyata seorang caddy di lapangan golf itu.
Toni menghabiskan akhir pekannya di lapangan golf, berbincang dengan sesama pengusaha. Dan kadang mereka melanjutkan obrolan mereka di club. Jika sudah seperti itu ia melupakan Dina, ia tak lagi ingat jika ia memiliki tunangan yang empat bulan lagi akan resmi menjadi istrinya.
.
"Bos...apa tidak sebaiknya bos menemui non Dina...mumpung pekerjaan tidak terlalu banyak" ucap Ridwan masuk ke dalam ruangan Toni
"baiklah...aku titip kantor, mungkin besok aku sudah kembali" ucap Toni kemudian menyambar kunci mobilnya. Ia ingin memberi kejutan untuk Dina yang sudah beberapa minggu terakhir tak ia temui.
Toni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa ia tak bersemangat pulang ke kota K. Biasanya ia sangat bersemangat, dan buru-buru ke kota K untuk menemui pujaan hatinya.
Dua setengah jam perjalanan, Toni telah sampai di gedung utama Wijaya Group. Toni bergegas ke ruangan Dina, ia berjalan santai melewati para karyawan yang semua menatap kagum padanya.
Toni masuk ke ruangan Dina tanpa mengetuk terlebih dahulu, namun ruangan dalam keadaan kosong, padahal jam kerja baru akan berakhir lima belas menit lagi.
__ADS_1
Toni pun ke ruangan Vanya, dan langsung masuk begitu saja. Dan ternyata Vanya di dalam ruangannya sedang berciuman dengan laki-laki yang Toni tidak kenal dan membuat pasangan itu terlonjak kaget dan menyudahi kegiatan mereka
"belum berubah ternyata..." cibir Toni
"dasar bocah nggak ada sopan santun" Vanya merapikan pakaiannya.
"Dina dimana?" tanya Toni datar
"di ruangannya lah..." ucap Vanya santai
"kalau dia ada di sana, aku tidak akan ke sini"
"oh...berarti dia belum kembali" jawab Vanya santai
"dia kemana?"
Vanya melihat jam yang melingkar di pergelangan tanggannya "sekitar satu setengah jam yang lalu, dia pamit makan siang" ucap Vanya
"dimana?"
"biasanya kalau nggak di cafe sebelah, ya...di restoran XX" jawab Vanya santai
Toni pun kemudian keluar dari ruangan Vanya, sekilas ia melirik meja sekretaris yang tak ada orangnya sama sekali. Toni bergegas ke cafe yang dimaksud Vanya namun Dina tak ada di sana.
Toni pun bergegas ke restoran XX, ia bertanya-tanya ada apa dengan Dina, makan siang yang terlambat dan tidak segera kembali ke kantor. Bukan perilaku Dina yang ia kenal. Dina memang sering melupakan makan siangnya tapi tidak segera kembali ke kantor, itu sama sekali buka kebiasaan Dina.
Dina selalu mendahulukan menyelesaikan pekerjaan, setelah itu barulah dirinya akan memanfaatkan waktu luangnya untuk mengerjakan hal lainnya.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g
"