
Semua mendengarkan setiap penuturan pendeta itu terlebih kedua mempelai. Nasehat bagaimana menjadi suami istri yang baik, bagaimana mereka harus bisa mengarungi rumah tangga dengan baik. Selalu mencurahkan kasih sayang pada keluarga.
Toni masih menggenggam erat tangan Dina, ia serius mendengarkan setiap nasehat yang ia dengar dengan sesekali meraka saling menatap satu sama lain.
Setelah memberikan ceramah serta nasehat, pendeta itu sekarang berada di depan mempelai berdua. Toni dan Dina pun juga bangkit berdiri.
"sekarang saatnya kedua mempelai mengucapkan janji suci mereka di hadapan Tuhan" ucap pendeta itu
Toni dan Dina berdiri berhadapan, tangan keduanya saling tertaut. "sekarang silahkan mempelai pria untuk mengucapkan janji suci kepada mempelai wanita" imbuh pendeta itu
Toni menggenggam erat kedua tangan Dina, ia menatap Dina dengan tatapan teduh, menarik nafas dalam-dalam kemudian ia mulai mengucapkan janji sucinya dengan suara tegas dan lantang.
“Jocelyn Andina Prasetya, Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
Toni bernafas lega, karena bisa dengan lancar mengucapkan janji pernikahannya, ucapan tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ia tersenyum menatap Dina yang juga menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"sekarang giliran mempelai wanita" ucap pendeta itu. Jantung Toni berdebar, ia menanti Dina untuk mengucapkan janji pernikahan mereka. Ia terus menetap Dina dengan tatapan penuh cinta.
Dengan suara lemah lembut namun tegas Dina mulai mengucapkan ikrar janji pernikahan mereka.
“Louis Antoni Wijaya Saya mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
Kini keduanya sama-sama lega, telah mengucapkan janji sehidup semati mereka. Senyum mengembang di bibir mereka. Semua yang hadir pun ikut larut dalam prosesi itu. Setelah keduanya mengucap janji pernikahan mereka semua yang ada di kapel itu tampak ikut berbahagia.
Sedangkn papanya Dina tampak menitikkan air matanya, ia terharu, putri kecilnya sekarang telah resmi menjadi seorang istri.
"sekarang pasangkan cincin ini pada jari manis istrimu" ucap pendeta itu
Toni mengambil cincin yang dipegang oleh pendeta itu, ia meraih tangan Dina kemudian ia berucap "Jocelyn Andina Prasetya, cincin ini aku berikan kepadamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaanku.” sambil memasangkan cincin pernikahan bertahtakan berlian ditengah-tengah dan di sekelilingnya dihiasi berlian yang lebih kecil.
__ADS_1
"sekarang giliran mempelai wanita, pasangkan cincin ini pada jari manis suamimu" pendeta itu menyerahkan cincinnya pada Dina.
Dina meraih tangan Toni kemudian ia berucap "Louis Antoni Wijaya, cincin ini aku berikan kepadamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaanku.” Sambil memasangkan cincin pernikahan yang terlihat lebih sederhana dari milik Dina namun tetap bertahtakan berlian yang lebih kecil dari milik Dina.
Keduanya tampak lega, tahap terakhir dalam hubungan mereka telah terlampaui, tahapan tertinggi dalam sebuah hubungan antara dua orang berlainan jenis, yaitu sebuah pernikahan.
Pendeta mulai mengucapkan doa-doanya untuk kedua mempelai. Toni dan Dina masih saling berhadapan tangan mereka masih saling menggengam.
"apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia" ucap pendeta itu menutup doanya "kalian telah resmi menjadi suami istri, sekarang bukalah kerudung istrimu" lanjutnya.
Toni melepaskan genggaman tangannya, kemudian perlahan ia membuka kerudung yang dari tadi menutupi kepala dan wajah Dina. Toni tersenyum lembut, hari ini Dina tampak.sangat cantik. Benar-benar sempurna baginya, tak ada cela sedikitpun. Toni menyibakkan kerudung itu ke belakang kepala Dina, kemudian ia mencium dahi Dina begitu dalam.
Setelah itu mereka berdua menandatangani surat-surat agar pernikahan mereka juga sah di mata negara. Setelah selesai menandatangani surat-surat itu mereka pun memohon doa restu pada orang tua mereka.
Suasana haru menyelimuti kapel itu. Tak sedikit yang ikut menitikkan air mata ketika Toni dan Dina memohon doa restu pada orang tua mereka. Meski ada yang kurang karena tanpa kehadiran mamanya, Toni tetap merasa bahagia. Ia tahu alasan papanya tak mengundang mamanya itu ke pernikahan mereka. Toni tak mau ambil pusing, ia lebih memilih fokus pada acaranya.
Mereka semua pun mulai melakukan sesi foto dan memberikan ucapan selamat pada Toni dan Dina. Dari tadi Roy menatap ke arah Toni dan Dina dengan perasaan yang sulit ia mengerti. Perlahan Ani mendekati Roy yang masih duduk di barisan kedua.
"iya..." ucap Roy datar
Ani tak lagi berbicara, ia lebih memilih diam, selama ini ia memendam perasaannya pada Roy, hanya Dina yang tahu jika ia masih memiliki perasaan yang sama sampai saat ini. Ani pun juga tahu jika Roy mencintai Dina, namun ia tak mempermasalahkannya.
Rangkaian acara di kapel itu telah selesai, satu per satu tamu undangan meninggalkan kapel. Kini tinggalah Dina, Toni dan keluarganya dan kedua sahabatnya itu.
"apa kamu lelah?" tanya Toni lembut
"lelah...? sudah pasti" Dina terkekeh
"masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum acara resepsi, istirahatlah dulu..." ucap Toni lembut
__ADS_1
"lalu kamu mau kemana?"
"aku? Tentu saja menemanimu" Toni terkekeh
"ayo semua ke hotel untuk beristirahat, acara resepsi masih beberapa jam lagi, masih ada waktu untuk beristirahat" ucap tuan Yanuar dan disetujui oleh semuanya
"kalian berdua, aku sudah menyiapkan kamar jika kalian ingin beristirahat" ucap Toni pada Roy dan Ani
"terima kasih...." ucap Roy dan Ani bersamaan, membuat sepasang pengantin baru itu terkekeh
Mereka pun pergi ke hotel milik Wijaya Group, tempat dimana resepsi pernikahan Dina dan Toni akan digelar. Sepanjang perjalan, di dalam mobil Toni menggenggam erat tangan Dina.
"akhirnya hari ini datang juga" ucap Toni lembut
"kenapa?" Dina mengerutkan keningnya
"setelah semua yang kita lalui, rasanya ini seperti mimpi" ucap Toni menatap Dina penuh cinta "kamu cantik sekali sayang...aku tidak rela semua orang menikmati kecantikanmu ini"
Dina mengerucutkan bibirnya "apa aku harus tampil biasa saja di hari penting ini? Tahu begitu aku tadi pakai baju kerja saja"
Toni tergelak melihat tingkah lucu Dina, perlahan ia mencondongkan tubuhnya kemudian mencium lembut bibir Dina. Ciuman penuh cinta tanpa ada hasrat di dalamnya, kemudian ia melepaskan ciumannya "terima kasih istriku...." Toni menatap Dina penuh cinta.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1
Yuk siapkan baju untuk datang kondangan online di acara resepsi Toni dan Dina. Jangan lupa saweranny ya bestie...