Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 152 Jangan...jangan....hamil?


__ADS_3

Semakin kuat hubungan semakin kuat pula angin yang menerpa. Semakin kita mencintai seseorang semakin banyak pula godaan yang datang. Jika Toni sering digoda oleh cewek lain halnya dengan Dina, godaan terbesarnya ada pada hatinya yang masih menyimpan rasa untuk orang di masa lalunya.


Dina berusaha realistis, menjalani apa yang ada di depannya bukan mengejar angan-angan yang belum tentu terwujud. Selama ini Dina berusaha meyakinkan dirinya apa yang ia pilih sekarang akan memberinya kebahagiaan di kemudian hari.


Terlepas dari semua permasalahan yang terjadi di antara Toni dan Dina, nyatanya Dina merasa bahagia, Toni memperlakukannya layaknya seorang putri. Memanjakannya meskipun Dina selalu menolaknya. Toni orang yang romantis yang selalu memberikan kejutan-kejutan yang tak pernah Dina sangka hanya saja menurut Dina itu terlalu berlebihan.


Dina selalu mengingatkan Toni, ia hanya ingin hal yang sederhana namun bermakna, tapi Toni bersikeras apa yang ia berikan untuk Dina memang sudah sepantasnya ia berikan.


Setelah mereka berdua selesai makan, Toni mengajak Dina ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari tempat mereka makan. Lebih tepatnya Toni memaksa Dina untuk mengikutinya, alasannya ia ingin membeli baju karena ia akan menghadiri acara dengan kolega-koleganya.


Dina sudah tahu itu hanya akal-akalan Toni saja. Jika Dina menginjakkan kakinya di pusat perbelanjaan pastinya Toni akan membelikannya barang-barang yang ia lihat.


"sayang...ke butik N ya...aku mau membeli setelan jas yang baru..." ucap Toni sambil berjalan menggandeng tangan Dina memasuki butik yang Toni maksud.


Dina hanya bisa menghela nafas menahan kesalnya. Ia tahu butik itu menjual pakaian formal baik pria maupun wanita. "kamu pilihlah baju yang ingin kamu beli, aku duduk di sini saja, aku lelah" ucap Dina sambil menunjuk sebuah kursi yang terletak di tengah-tengah butik.


"baiklah...kamu sambil lihat-lihat juga ya...mungkin saja ada yang cocok" ucap Toni kemudian meninggalkan Dina sendirian. Dina lebih memilih membaca majalah, melihat baju-baju hanya akan menimbulkan masalag baru yang membuatnya kesal.


"sayang...yang ini bagus tidak...?" Toni menunjukkan setelan jas berwarna biru terang


"hmm....bagus...tapi apa nggak terlalu terang warnanya?" Dina menatap ke arah Toni


"enggak....aku belum punya warna ini, sepertinya akan cocok di badanku"


"coba saja dulu...aku nggak yakin itu akan cocok" ucap Dina santai


"baiklah...kalau begitu tolong pilihkan alternatif lain ya..." ucap Toni sengaja memancing Dina agar melihat-lihat baju-baju yang ada di butik itu.


"kamu coba saja dulu...kalau nggak cocok nanti cari yang lain" ucap Dina yang tidak mau mengambil resiko


"baiklah..." ucap Toni lesu kemudian masuk ke dalam kamar pas.


Dina kembali membolak-balik majalah yang ia pegang sambil menunggu Toni. "sayang...bagaimana? Cocok kan...?" ucap Toni berdiri di hadapan Dina


"hmmm...bagus....cocok juga ternyata..." ucap Dina tersenyum simpul


"benar kan apa kataku...aku itu pakai apa saja pasti cocok" ucap Toni tersenyum jumawa


"hufftt....mulai sombongnya...." Dina hanya menatap Toni dengan tatapan kesal


"kamu sudah memilih baju belum?"

__ADS_1


"bajuku banyak...buat apa aku pilih-pilih lagi" Dina mengerucutkan bibirnya


"ayolah sayang....lusa aku ada undangan ulang tahun perusahaannya Om Ferdi...kamu pilih baju ya...yang senada dengan jasku ini..." bujuk Toni


"kamu yang diundang kan? Bukan aku?"


"anggap saja nostalgia sayang....apa kamu lupa...karena kamu pernah magang di sana kita bisa bertemu lagi"


"aku tidak diundang.....nanti jadi tamu tak diundang"


"kamu datang bersama aku, lagipula....katanya kamu nggak ingin aku digoda cewek-cewek lagi? Takutnya nanti di sana aku dikerubungi cewek-cewek cantik" Toni mengangkat salah satu sudut bibirnya


"iya....iya....aku ikut... " Dina kesal


"sekarang ayo pilih baju buat kamu" ucap Toni dengan senyum penuh kemenangan


"kamu saja yang pilih, biasanya juga kamu tiba-tiba membawa baju buat aku"


Toni berjalan ke arah deretan gaun-gaun pesta diikuti oleh salah satu pelayan butik itu. Toni memilihkan gaun untuk Dina, kali ini ia memilih gaun yang sesuai kepribadian Dina. Gaun selutut sedikit mengembang bagian bawahnya.


Setelah membayar belanjaan mereka Toni mengajak Dina pulang karena hari sudah malam. Toni membawa Dina ke rumahnya.


"kenapa ke sini?" ucap Dina kesal


"aku mau tidur di kosku..." ucap Dina ketus


"ayolah....sayang...." rengek Toni


"kalau kamu nggak mau mengantar aku bisa jalan kaki sendiri" Dina turun dari mobil Toni


"baiklah...baiklah....jangan marah lagi ya sayang...." Toni mengalah, akhirnya ia pun mengantar Dina ke kosnya.


Dina masih ingin menjaga jarak dengan Toni, meskipun ia sudah memaafkan Toni, namun rasa kesal yang ada di hatinya masih belum juga hilang.


Dina masih membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka hatinya. Selain itu ia juga ingin sudah lama tidak tidur di kosnya, ibu kosnya sudah menanyakannya beberapa kali, ia takut barang-barangnya dikeluarkan secara paksa oleh ibu kosnya.


.


Keesokan paginya, Toni mendatangi kos Dina pagi-pagi sekali. Toni seperti baru saja berpacaran, ia datang membawa sebuket bunga mawar kuning dan membawa makanan untuk mereka berdua sarapan.


Teman kos Dina mempersilakan Toni naik ke kamar Dina. Toni mengetuk pintu kamar Dina, namun tidak ada suara dari dalam. Toni mencoba menelpon ponsel Dina namun ternyata masuk ke kotak suara.

__ADS_1


Toni mengetuk kembali pintu kamar Dina berkali-kali, setelah lima belas menit ia berdiri di depan pintu kamar Dina akhirnya terdengar suara anak kunci pintu diputar.


Toni mengembangkan senyumnya menatap Dina yang terlihat baru saja bangun tidur. Rambut dan bajunya masih acak-acakan.


"ngapain pagi-pagi ke sini?" ucap Dina sambil menguap


"ini sudah siang sayang....sudah hampir jam delapan..." Toni menyerahkan buket bunga yang ia bawa kemudian masuk ke dalam kamar Dina dan meletakkan makanan yang ia bawa. Toni berjalan ke arah jendela kemudian menyibak gorden dan membuka jendela kamarnya.


"mandilah dulu, setelah itu kita sarapan bersama..." ucap Toni duduk di atas kasur Dina


"malas ah...aku masih ngantuk..." Dina merebahkan tubuhnya di sebelah Toni duduk


"biasanya kamu rajin kenapa sekarang jadi pemalas..." Toni memperhatikan Dina


"kepalaku pusing....mual...maunya tidur terus...." ucap Dina


"jangan...jangan...." Toni sedikit bimbang


"jangan-jangan apa...?"


"kamu hamil..." ucap Toni


"hah....?" Dina duduk membelalakkan matanya


"jangan mengada-ada kamu....dari mana aku hamil? Sudah sebulan kita nggak bertemu, aku sudah dua kali datang bulan enak saja kalau ngomong" ucap Dina kesal


"ya....mungkin saja, katanya kalau hamil muda seperti itu" ucap Toni dengan wajah polosnya


"Toni...! Apa perlu bukti aku datang bulan?!" Dina kesal


"iya...iya....aku percaya...kalaupun iya...ya baguslah...berarti aku hebat" Toni tergelak


Dina memutar bola matanya, ia kesal mendengar ucapan Toni. Bukannya ia tidak mau, tapi ia belum siap jika hamil apalagi ia masih kuliah. Dina masih ingin menikmati masa mudanya.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


Jangan lupa ritualnya ya bestie...like, komen dan votenya ya...


__ADS_2