
Toni meninggalkan Dina yang sedang berfoto-foto dengan ketiga sahabatnya. Ia mencari papanya yang tadi pagi memberitahunya akan datang ke acara wisudanya.
Toni mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kampus. Suasana begitu ramai, ia harus ekstra menajamkan matanya. Ia berjalan ke arah tempat duduk orang tua wisudawan, ia berjalan ke sana kemari namun belum juga menemukan papanya.
"papa dimana? Baik aku ke sana" Toni menelpon papanya. Setelah memutuskan sambungan teleponnya Toni berjalan ke arah tempat yang dimaksud oleh papanya.
Ia berjalan dengan cepat, dari kejauhan ia bisa melihat jika papanya sedang mengobrol dengan papa mama Dina.
"pa..." ucap Toni berjalan menghampiri papanya
"eh...Ton....kemari..." papanya Toni melambaikan tangannya
"papa di sini sejak tadi?"
"iya...sejak kamu diumumkan sebagai wisudawan terbaik" papanya Toni tersenyum bangga "selamat ya Ton...papa tidak menyangka ternyata kamu pintar juga" papanya Toni menepuk bahu Toni
Toni hanya tersenyum "apa kabar om...tante...?" Toni menyalami papa dan mamanya Dina
"baik..." jawab mamanya Dina dengaj senyum mengembang sedangkan papanya Dina hanya menata datar pada Toni
"Dina mana?" tanya papanya Toni
"itu masih di depan pintu auditorium bersama teman-temannya"
"anak itu...nggak tahu apa papa mamanya di sini" gerutu papanya Dina
"sudahlah pa....mungkin Dina sedang berkumpul bersama teman-temannya" ucap mamanya Dina menenangkan papanya
"mumpung kita bertemu, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian" ucap papanya Toni
"bicara apa Yan?" tanya mamanya Dina
"dalam waktu dekat aku akan ke rumah kalian untuk melamar Dina secara resmi" ucap papanya Toni
"apa? Apa tidak terlalu cepat? Dina baru saja lulus kuliah!" protes papanya Dina
__ADS_1
"anakku sudah melamar Dina beberapa bulan yang lalu, dan Dina menyetujuinya"
"anak itu!" papanya Dina terlihat marah
"waktu itu aku ingin segera mendatangi kalian untuk melamarnya secara resmi, namun aku tidak mau menggangu kuliahnya, jadi aku berpesan padanya akan mendatangi kalian setelah ia lulus" terang papanya Toni
"Tapi Yan...!" ucapan papanya Dina terhenti mamanya Dina menyela "apa tidak terlalu cepat? Kenapa harus buru-buru Yan...?"
"aku hanya ingin memperjelas status mereka Vera....agar mereka lebih dewasa lagi, mereka sudah bertunangan di hadapanku" ucap papanya Toni
Papanya Dina menghela nafasnya "kapan kalian akan ke rumah kami?"
"dua minggu lagi aku akan ke rumah kalian"
"baiklah....kami akan mempersiapkan semuanya" ucap Mamanya Dina
Toni sejak tadi tak berani membuka suaranya karena memang ini pembicaraan antar orang tua. Ia hanya menjadi pendengar perdebatan antara papanya dengan papanya Dina.
"aku harap kamu tidak mengecewakan Dina" ucap papanya Dina menatap Toni
"aku pegang kata-katamu, seorang pria yang dipegang itu ucapannya, sekali ia mengingkari ucapannya tak akan ada lagi yang percaya padanya, camkan itu!" ucap papanya Dina tegas
"iya om....saya tahu itu..." ucap Toni tak kalah tegasnya "permisi saya akan mencari Dina dulu" Toni meninggalkan para orang tua itu.
................
"Din...." seseorang memanggil nama Dina.
Dina menoleh mencari siapa yang memanggilnya, Dina terkejut tidak menyangka orang yang selama ini masih ada di dalam hatinya datang ke acara wisudnya.
"selamat ya...." cowok itu menghampiri Dina dan mengulurkan tangannya
"terima kasih Den..." Dina menerima uluran tangan cowok itu "dari mana kamu tahu aku wisuda hari ini?"
Yang mendatangi Dina adalah Dendy, cowok yang dulu pernah memutuskan Dina tanpa alasan yang jelas, namun Dina masih memiliki perasaan padanya.
__ADS_1
"itu...aku kok...ya pasti tahu dong..." Dendy terkekeh
"haish...kamu itu, padahal yang tahu aku wisuda hanya mereka saja" Dina menunjuk ke arah ketiga sahabatnya yang terlihat tidak suka dengan kehadiran Dendy.
Mereka ingat betul beberapa tahun yang lalu bagaimana terpuruknya Dina ketika Dendy tiba-tiba menghilang. Bagaimana Dina jatuh bangun menerima kenyataan jika Dendy meninggalkannya. Bagi mereka Dendy bukan cowok yang pantas untuk Dina.
"dulu saja pergi nggak bilang-bilang, sekarang datang nggak diundang" ucap Caca dengan tatapan tidak suka
"aku masih ingat betul Dina seperti zombie...tatapan kosong, sakit-sakitan, nggak mau makan gara-gara cowok itu" ucap Berta
"sampai pingsan di kampus pula..." timpal Ratna
"huh...rasanya pengen aku cakar-cakar wajahnya waktu itu" ucap Berta
Mereka bertiga masih memendam rasa kesal mereka pada Dendy meskipun Dina sudah memaafkan Dendy. "Dina itu terlalu baik, jelas-jelas cowok itu sudah meninggalkannya masih saja mau menemuinya" Berta menggebu-gebu
"Ini Toni kemana sih? Kenapa Dina ditinggal sendirian" Ratna mengedarkan pandangannya mencari Toni.
Dina masih asyik mwngobrol dengan Dendy, ia sebenarnya merindukannya namun ia tak berani menemui Dendy. Dina sadar dirinya kini berstatus tunangan Toni.
Dina hanya memendm semua sendirian, ia tak membaginya dengan siapapun. Ia tahu sahabat-sahabatnya membenci Dendy karena telah meninggalkannya.
Dina sudah bertekad untuk menyimpannya sendiri. Ia masih merasa ada yang belum selesai di antara dirinya dan Dendy namun ia tak akan menuntut apapun pada Dendy, ia ingin Dendy menydarinya dan memperjuangkannya kembali.
Dina menunggu itu, namun sampai detik ini Dendy tak pernah memperjuangkannya kembali. Meski kecewa namun Dina sadar sekarang siapa dirinya, dia tak sebebas dulu lagi.
Kadang Dina bimbang dengan perasaannya sendiri, apakah ia harus mengikuti emosi sesaat ataukah menjalani hubungannya yang sekarang. Ia akui hubungannya dengan Toni sudah terlalu jauh, mereka sudah ke tahap yang lebih serius lagi tapi perasaannya pada Dendy juga selalu mengusiknya di kala ia sedang sendiri.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1