
Meski Yuni sikapnya lebih baik sekarang, tapi tak membuat Dina dekat dengan Yuni. Dina tetap dekat dengan Ani, itu yang membuat Ani merasa perlu membantu Dina untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Toni.
Meski tidak terlalu dekat dengan Toni, Ani sendiri melihat Toni jauh berubah dan sudah tak lagi berkumpul dengan teman-teman yang membawa pengaruh buruk bagi Toni.
"bagaimana An...Dina mau?" Roy berjalan menghampiri Ani.
"mau...Dina mau..." ucap Ani dengan mata berbinar. Ani menyukai Roy sudah sejak lama, mereka sudah saling mengenal sejak mereka SD.
"tapi...." Ani ragu mengatakannya
"tapi apa An...?" Roy mengerutkan dahinya
"sepertinya Dina sudah punya pacar" ucap Ani ragu
"dengan siapa An?" Roy penasaran
"adik sepupunya Gilang..." ucap Ani ragu
"hah....? Tahu dari mana?" Roy semakin penasaran
"Dina pernah cerita kalau adiknya Gilang itu mendekatinya, tapi aku belum tahu pasti apa mereka sudah resmi pacaran atau belum" Ani menggaruk kepalanya yang tak gatal
"semoga belum...aku ingin Dina dan Toni berbaikan seperti dulu, sebelum Toni menjadi gila karena ingin balas dendam" ucap Roy dengan nada kesal
"memangnya ada apa Roy?" tanya Ani dengan raut wajah penuh tanda tanya
"selama ini Bian memang sengaja ingin membuat Dina hancur, dan ingin membalas Toni karena mengabaikan adiknya" Roy menghela nafasnya
"memangnya ada apa dengan Dina? Setahuku Dina tidak terlalu mengenal Bian" Ani bingung, karena dirinya mengenal Bian dan tidak tahu apa hubungan Bian dengan Dina sehingga Bian bertindak seperti itu.
"dulu waktu SMP Bian menyukai Dina, tapi Dina tidak tahu dan Bian menganggap Dina tak peduli dengannya" terang Roy
"tak peduli bagaimana, kenal saja tidak" ucap Ani dengan nada dan raut wajah kesal
Roy menceritakan semua yang ia tahu, semua tentang Dina dan tentang Bian yang ia tahu dari temannya. Ani merasa geram dengan Bian.
Dulu waktu SMP, Ani sempat mengetahui kalau Bian menyukai cewek di kelas Dina tapi ia tak tahu jika itu adalah Dina. Baru sekarang ia mengetahuinya, dirinya tak menyangka jika cinta monyet di masa lalu menjadi masalah yang rumit sekarang.
"usahakan rencana kita berhasil ya An...aku sangat berharap padamu" ucap Roy dengan tatapan serius
"aku sudah mengatakannya kepada Dina seperti yang kamu minta, dan Dina sudah menyetujuinya" ucap Ani dengan nada yakin
__ADS_1
"tapi jangan sampai rencana kita bocor, jangan sampai Dina ataupun Toni mengetahui rencana kita" ucap Roy kemudian meninggalkan Ani dan kembali ke kelasnya.
Hari sabtu, hari perayaan ulang tahun Ani. Dina keluar gerbang sekolahnya bersama dengan Ani. Kemudian dia berhenti tidak jauh dari gerbang sekolahnya untuk menunggu teman-teman yang diajak Ani. Saat teman-teman Ani sudah berkumpul di situ ada Toni yang berboncengan dengan Roy.
"Roy, kamu sama Ani ya pakai motorku, aku mau sama Dina" ucap Toni agar Roy turun dari boncengannya "tapi jangan bilang kalau aku yang menyuruh kamu"
"tapi Ton..." Roy pura-pura sedikit keberatan karena dia tahu Dina akhir-akhir ini sengaja menghindar dari Toni. Padahal itu hanya akal-akalan Roy saja, dirinya tak mengira jika Toni yang meminta dirinya berboncengan dengan Ani agar dia bisa berboncengan denga Dina.
"sudah...sana bilang sama Ani" ucap Toni
"iya...iya..." ucap Roy pura-pura kesal
"An, boncengan sama aku ya" Roy mendekati Ani
"eh.... Terus Dina sama siapa?" ucap Ani pura-pura merasa tidak enak kalau harus meninggalkan Dina naik motor sendiri padahal dia yang mengajak
"sudah....sana, sekali-sekali boncengan sama idola" Dina berbisik
"terus kamu gimana Din?" tanya Ani juga berbisik
"aku bisa sendiri An, tenang saja"
"ehemmm.... Din kamu sama Toni saja ya... Biar aku sama Ani" ucap Roy yang dari tadi sedikit mendengar pembicaraan Ani dengan Dina
"aku naik motor sendirian saja Roy" ucap Dina keberatan
Roy sudah menduganya, Dina pasti tidak akan setuju dengan ide Toni yang sebenarnya ia juga membuat ide yang sama hanya saja tak ada yang mengetahuinya.
"Dina... Restoran 'S' itu jauh mana jalannya ramai, kamu lebih aman kalau diboncengin sama Toni, lagipula motor Toni hari ini aku bawa karena tadi ban motorku kempes" ucap Roy beralasan
"ya sudah kalau begitu" ucap Dina untuk menyenangkan hati Ani meskipun dia keberatan dengan ide Roy.
"Ton, kamu sama Dina ya..." ucap Roy sedikit berteriak.
Toni 'pun berjalan menghampiri mereka bertiga dengan semangat empat lima. Dia merasa bahagia karena bisa pergi dengan Dina.
"iya Roy ada apa?" Toni berpura-pura tidak mengerti maksud Roy "gimana An, jadi pergi sekarang? Teman-teman sudah kumpul semua kan?" tanya Toni agar mereka bisa segera berangkat
"iya sudah semua kumpul, ayo kita berangkat" ucap Ani "eh...Ton nitip Dina ya, jangan diapa-apain temanku yang satu ini"
"maksudnya An?" Toni pura-pura tidak mengerti maksud Ani
__ADS_1
"kamu bonceng Dina Ton, biar aku sama Ani" ucap Roy
"oh...oke...oke... Tenang An, aku akan jaga Dina dengan segenap jiwa dan ragaku" ucap Toni bersemangat dengan senyum mengembang
"ya sudah ayo berangkat keburu sore nanti" ucap Ani mengikuti Roy yang berjalan ke arah motor milik Toni
"Ayo Din naik, udah lama enggak bawa motor kamu" ucap Toni dengan senyum mengembang
"iya" jawab Dina singkat
Total ada delapan orang yang ikut ke restoran 'S' mereka berangkat berbonceng-boncengan. Semua itu tak lepas dari pandangan Dendy yaang dari tadi memperhatikan semua yang terjadi di depan pintu gerbang sekolah Dina.
Dendy merasakan sesak di dadanya melihat Dina berboncengan dengan Toni. Dia kecewa dengan Dina karena tadi dia hanya bilang kalau pergi dengan Ani. Kenapa Dina tidak jujur kalau ada Toni juga di sana.
Dina yang membonceng Toni hanya diam, padahal Toni sudah mencoba untuk membuka obrolan diantara mereka tapi tidak ditanggapi oleh Dina.
Rombongan Ani telah tiba di restoran yang mereka tuju. Semua sudah memarkirkan motor mereka masing-masing. Mereka masuk beriringan ke dalam restoran. Ani memilih meja yang panjang agar semua bisa duduk dalam satu meja.
Dina sengaja duduk di sudut meja dan menarik Ani agar duduk di sampingnya bermaksud menghindari Toni, tapi kalah cepat dengan Toni. Ketika Ani akan duduk di sebelah Dina Toni lebih dulu menyerobot tempat duduk Ani.
"tidak sopan!" ucap Ani kesal
"yang ulang tahun itu tempat duduknya spesial" Toni menarik kursi diletakkan di ujung meja layaknya seorang kepala keluarga yang sedang makan dengan keluarganya
"kamu ada-ada saja Ton" Ani mencebik
Sedangkan Toni hanya terkekeh. Dina hanya diam saja malas berdebat karena yang punya acara Ani.
"Ayo kalian pilih menu apa?" ucap Ani menyodorkan beberapa buku menu kepada teman-temannya
.
.
.
B e r s a m b u n g
Jangan lupa ritualnya ya bestie
Terima kasih sekebon bestie...
__ADS_1