
Dua hari kemudian, Dina sedang berada di dalam ruangan Toni, mereka sedang terlihat serius membaca satu per satu dokumen di meja kerja Toni.
Dina bingung, membaca laporan dari salah satu hotel yang berada di pinggiran kota K. Dalam laporan itu ada kejanggalan, yang mengakibatkan hotel tersebut mengalami kerugian. Seingatnya beberapa bulan yang lalu Dina pergi ke sana, kondisi hotel itu sudah jauh lebih baik.
Dina yang saat itu diberi kepercayaan oleh Vanya untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan termasuk memecat karyawan yang bermasalah telah menyelesaikan semuanya, namun hari ini peristiwa itu terulang kembali.
"bagaimana bisa hotel itu merugi sebanyak ini?! Kenapa semua fasilitas yang ada di sana tiba-tiba rusak bersama-sama?" Toni meradang.
"entahlah....terakhir aku ke sana semua sudah aku selesaikan dengan baik" ucap Dina
"sayang....bisakah kamu ke sana lagi? Aku tidak terlalu memahami masalah di sana, kamu yang lebih paham" ucap Toni dengan tatapan yang terlihat lelah.
Meskipun hanya satu hotel namun hotel itu memberikan pemasukan yang cukup lumayan karena terletak di perbatasan kota K dan kota J. Selain itu di sana daerah pegunungan yang terdapat banyak objek wisata membuat hotel itu selalu penuh setiap akhir pekan bahkan jika musim libur tiba.
"tentu...tapi aku nggak bisa cuma sehari saja di sana, paling tidak dua atau tiga hari" ucap Dina
"selama itu?" Toni membulatkan matanya "tanggal pernikahan kita sudah dekat sayang.. "
"terus mau kamu bagaimana? Mau mengirim orang lain? Aku tidak terlalu yakin jika mereka bisa menanganinya dengan baik" ucap Dina.
"baiklah...kamu akan ditemani orang kepercayaan papa, aku akan tenang jika kamu pergi dengannya" ucap Toni menutup lembaran dokumen yang ada di hadapannya
Tok...tok...tok...
Pintu ruangan Toni diketuk, tak lama Rama sekeretaris Toni masuk ke dalam ruangan "maaf bos mengganggu, di luar ada perwakilam dari WO, katanya disuruh datang hari ini?" ucap Rama
"suruh dia masuk..." ucap Toni
Rama pun keluar dari ruangan Toni, ia kemudian kembali lagi bersama Vito.
"siang tuan Toni" ucap Vito sopan
Melihat siapa yang datang Toni menatap Vito dengan tatapan tidak suka. Namun Dina tak menghiraukan karena ia masih larut dalam tumpukan kertas yang ada di depannya.
Rama pun menyuruh Vito duduk di sofa, kemudian ia meninggalkan ruangan Toni. Toni berjalan ke arah sofa dan duduk di seberang Vito.
"kami sudah menyusun konsep yang kemarin anda inginkan, kami sengaja membuat dua alternatif agar ada bahan pertimbangan" ucap Vito sambil menggeser laptop serta proposalnya.
Toni melihat sekilas "sayang....kemarilah" panggil Toni lembut
"sebentar, aku sedang tanggung" jawab Dina tanpa menoleh, Vito pun menoleh ke arah meja kerja Toni, ia tidak tahu jika yang berada di depan meja Toni adalah Dina
"ck..." Toni berdecak kemudian ia berjalan menghampiri Dina
__ADS_1
"apa sih?" Dina menatap Toni
"ada yang mencarimu" ucap Toni sedikit kesal
Dina menoleh ke arah sofa dan melihat Vito duduk di sana "mencariku?" Dina mengerutkan keningnya. Toni menggandeng Dina untuk duduk di sofa dan melihat apa yang dibawa oleh Vito
"kamu juga di sini Din?" ucap Vito mengembangkan senyumnya
"iya kak...aku..." ucapan Dina terpotong
"dia bekerja di sini menjadi asistenku" ucap Toni dengan nada kesal
"oh...begitu...baiklah...ini konsep yang kemarin kami janjikan" Vito tersenyum kikuk
Dina melihat pada layar laptop yang digeser oleh Toni. Maya Dina berbinar, ia tak menyangka konsep pernikahannya begitu bagus. Ia tak bisa memilih di antara keduanya.
"bagaimana kamu pilih yang mana?" ucap Toni lembut
"hmmm....aku bingung....aku suka dua-duanya...namun kita menikah kan hanya sekali" Dina terkekeh dan mendapatkan cubitan di pipinya tentu saja dari Toni.
"awhhsssshhh..." Dina melirik Toni dengan kesal
"karena tunanganku bingung memilihnya, aku ingin kalian padukan saja dua konsep itu menjadi satu, aku percaya kalian, sejauh ini aku senang dengan konsep yang kalian buat" ucap Toni tegas
"baiklah...kalau begitu ini rincian biaya dan kontrak kerja kami tuan" Vito menyodorkan map yang tadi sudah ia letakkan di meja
"untuk pembayaran, kamu hubungi nomor ini..." Toni memyerahkan kartu nama milik orang kepercayaan papanya, karena semua telah ia dan papanya serahkan pada orang itu.
"baiklah...kalau begitu saya permisi" Vito pun segera keluar dari ruangan itu karena ia merasa takut melihat Toni menatapnya dengan tatapan tajam.
.
Hari berikutnya pagi-pagi sekali Dina telah dijemput oleh asisten pribadi tuan Yanuar. Sebelum Tuan Yanuar memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya dari Wijaya Group lelaki paruh baya berumur lima puluh lima tahun itulah yang selalu setia mendampingi tuan Yanuar.
"ma...Dina pergi keluar kota dulu, mungkin dua atau tiga hari Dina di sana" pamit Dina pada mamanya
"hati-hati di jalan, jaga diri, ingat hari pernikahanmu sudah dekat" ucap mamanya Dina
"iya ma...pasti....mama tenang saja ada Pak Eko yang mengantar Dina" ucap Dina sambil mencium tangan mamanya.
Dina pun berangkat denga Pak Eko, orang kepercayaan papanya Toni. Di umur yang terbilang sudah tua, namun pak Eko masih terlihat bugar.
"apa ada yang mengganjal Nona?" tanya Pak Eko sambil fokus menyetir
__ADS_1
"hah...?" Dina terkejut dari mana orang yang berada di sebelahnya tahu apa yang ia pikirkan. "hmm....bapak sudah lama ikut papa Yanuar?"
"sudah...sejak calon mertua anda itu merintis perusahaannya" ucap pak Eko
Dina mengangguk-anggukkan kepalanya "sudah lama juga ya..."
"iya Non...sudah lama sekali...dulu kita sering bertemu, tapi nona mungkin tak pernah menyadarinya" ucap
"begitukah?" Dina menatap Pak Eko penuh tanda tanya
"iya...saya setiap pagi selalu datang ke rumah tuan Yanuar menjemput beliau, dan setiap pagi saya juga melihat nona berangkat ke sekolah" Pak Eko terkekeh "saya tidak menyangka akhirnya Nona menikah juga dengan Mas Toni"
"begitu ya..."
"nona mungkin tidak menyadari, Nona bisa bertemu kembali dengan Mas Toni itu juga ada campur tangan dari papanya, saya tahu semuanya Non..." ucap Pak eko mengulum senyumnya.
Ia sering ditugaskan oleh papanya Toni untuk memata-matai Toni. Apa saja yang dikerjakan oleh Toni dan juga bersama siapa.
Seketika Dina merasa malu, jika orang yang ada di sebelahnha itu tahu semuanya, berarti ia juga tahu Dina sering menghabiskan malam panas bersama Toni.
"tak usah malu Non....saya juga pernah muda" kekeh Pak Eko "kalau tidak karena mengabdi pada Tuan Yanuar, saya pasti sudaj dibenci banyak perempuan" ucap pak Eko
"maksudnya pak?"
"keluarga saya dulu orang terpandang juga, saya anak tunggal, apa yang saya mau selalu diturutin oleh kedua orang tua saya karena mereka tak pernah ada waktu untuk saya, namanya masih muda, masih bergelora, saya sering mengurung pacar-pacar saya di dalam kamar Non" kekeh Pak Eko
Dina terkejut "hah...bapak tega sekali mengurung anak orang, apa nggak dicari orang tuanya?" ucap Dina
"karena suka sama suka Non" Pak Eko tergelak "dikurung terus melakukan yang enak-enak mana ada yang nolak Non...dua hari dua malam juga sanggup Non"
"haish....bapak ini ternyata mesum juga ya..."
"itu dulu Non....waktu jiwa muda saya masih bergelora, Mas Toni nggak ada apa-apanya Non..." Pak Eko tergelak
Dina menundukkan kepalanya, ia malu, ternyata orang yang ada di sampingnya itu tahu semua apa yang ia lakukan dengan Toni.
Sungguh malu, Dina pikir tak ada orang yang tau apa yang ia perbuat dengan Toni, namun tak disangka-sangka calon mertuanya itu mengirim orang untuk memata-matai dirinya dan Toni.
Dina juga sempat berpikir, orang yang dikirim mengawasinya mengintip apa yang mereka lakukan di rumah Toni dulu. Rasanya Dina ingin menenggelamkan dirinya di Palung Mariana karena malu.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g