Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 59 Bersikap Tenang


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelah peristiwa di rumah Bian, Toni menjadi lebih sedih dari sebelum-sebelumnya. Ia sering termenung, melamun di kelasnya.


Bahkan ketika pelajaran berlangsung ia sering tidak memperhatikan gurunya. Toni lebih sering menyendiri dengan sorot tatapan datar. Roy tak berani untuk menegur temannya, ia takut Toni akan tersinggung.


Sesekali Toni melewati kelas Dina, hanya untuk memastikan jika Dina baik-baik saja. Setiap melihat Dina dari jauh, ada perasaan bersalah dalam hatinya. Toni merasa ia tak pantas bersanding dengan Dina lagi.


Hingga tiba waktunya turnamen basket yang akan diikuti tim Bian dan teman-temannya Toni masih menjauh dari Dina.


"jangan lupa besok di lapangan basket tengah kota" ucap Bian menepuk bahu Toni saat melewati ruang kelas Toni.


Toni hanya menatap datar Bian, kini baginya hanya ingin mempermalukan Bian. Toni tahu jika tim Bian sekarang ditinggalkan oleh salah satu pemain terbaik mereka. Toni ingin memanfaatkan hal itu.


"besok kamu akan datang?" tanya Roy sambil menatap punggung Bian yang menjauh dari pandangan mereka


"tidak...untuk apa aku datang? Aku hanya ingin mempermainkannya" ucap Toni datar


"berarti sudah selesai balas dendammu?" tanya Toni memalingkan wajah menatap Toni


"sudah...aku tak ingin berlarut-larut, aku merasa bersalah kepada Dina"


"bersalah? Memangnya kamu berbuat apa lagi Ton?" Roy menatap heran Toni


"aku telah tidak setia, aku berhubungan dengan Fara" ucap Toni menahan sesak di dadanya


Roy menghela nafasnya "semua ada akibatnya Ton....lagi pula kamu dan Dia sudah berpisah, tidak ada larangan untukmy bersama orang lain"


Toni diam, ia mencerna ucapan Roy. Memang benar dirinya bebas berhubungan dengan siapa saja, tapi tetap saja ia merasa bersalah terhadap Dina.

__ADS_1


.


Sesuai perkataan Toni, ia benar-benar tak datang ke turnamen basket yang dimaksud Bian. Ia ingin membuat Bian malu karena kalah dalam pertandingan. Sejak pagi Toni pergi ke kota J, ia pergi untuk menenangkan hati dan pikirannya menemui teman lamanya.


Karena ketidak hadiran Toni, Roy menjadi sasaran amukan Bian yang kalah dalam pertandingan. Tentu Roy tidak mengatakan apapun karena ia memang tidak tahu keberadaan Toni.


Bian tidak puas dengan jawaban Roy, ia berulangkali menelpon rumah Toni namun tidak ada yang mengangkat. Bian mendatangi rumah Toni, dan terlihat sepi.


Dengan amarah yang memuncak Bian pulang ke rumahnya. Ia ingin sekali melampiaskan amarahnya pada Toni yang telah membuat timnya kalah. Selama ini tim Bian tak pernah kalah, karena itulah Bian semakin sombong merasa tak terkalahkan.


Dan hari ini, kesombongan dan keangkuhan itu tumbang hanya karena seorang Toni. Karena Toni tak datang Biang kalah. Bian dipermalukan lawannya yang sebagian besar peserta pertandingan tidak menyukai Bian.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bian mendatangi rumah Toni. Dengan sikap angkuhnya Bian memasuki rumah Toni yang kebetulan papanya Toni sedang membaca koran seperti biasa di ruang keluarga.


"Toni dimana om?" tanya Bian dengan gaya angkuhnya


Papanya Toni mendongak menatap Bian "Toni ada di meja makan" ucap papanya Toni tanpa menatap Bian dan lebih memilih melanjutkan membaca koran.


"apa maksud kamu kemarin tidak datang hah?!" bentak Bian


"aku mengantar kakakku kembali ke kota J" jawab Toni tenang


"kemarin itu hari penting untuk tim kita, kenapa kakakmu tidak berangkat sendiri saja?!"


"tim kita? Tim kamu maksudmu?" ucap Toni sambil makan dengan tenang. Mbok Nah yang sejak tadi memperhatikan percakapan antara Bian dan Toni merasa was-was. Ia takut jika Bian sampai memukul Toni.


"bukankah kamu kembali masuk ke tim basketku?!" Bian tampak marah

__ADS_1


"aku tidak pernah mengatakan akan kembali ke tim kamu" ucap Toni tenang kemudian meminum susunya.


"kau?!!!!...mau cari gara-gara hah?!!" teriakan Bian menggelegar di seluruh ruangan papanya Toni pun berjalan tergesa-gesa ke arah ruang makan


"ada apa ini?!" papanya Toni tampak kaget sekaligus marah


"tidak ada apa-apa pa..." ucap Toni berusaha untuk tetap tenang


"Toni ingin cari gara-gara denganku om...!" ucap Bian dengan nada tinggi


"kamu pergi dari rumah ini!!! Datang ke rumah orang hanya untuk membuat keributan!!" bentak papanya Toni


"oh...! Baiklah om.... om mengusir saya, saya akan katakan pada papa untuk mengehentikan kerja sama dengn perusahaan kecil milik om!!" Bian terlihat angkuh dan sombong


"katakan saja pada papamu, om tidak takut!" papanya Toni menarik satu sudut bibirnya ke atas


"baiklah om...jika itu mau om! Perusahaan om yang kecil itu akan hancur!" ucap Bian masih terlihat angkuh dan sombong


"hahahaha...." tawa papanya Toni menggelegar "perusahaan kecil yang telah membeli saham perusahaan papamu empat puluh persen" ucap papanya Toni kemudian meninggalkan ruang makan


Bian mengepalkan tangannya, merasa marah karena telah dipermalukan Toni dan papanya. Bian masih berusaha mencerna ucapan papanya Toni, tapi Bian tetap tidak mengerti karena ia tidak pernah tahu menahu tentang perusahaan papanya.


"ingat...kamu dan papamu akan hancur karena telah berani mempermalukan aku!" Bian meninggalkan rumah Toni dengan perasaan marah dan kesal. Ia bertekat akan membuat keluarga Toni hancur berantakan dengan bantuan papanya.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2