
Setelah makan malam, Toni pergi keluar rumah mengendarai mobilnya. Ia pergi ke pusat perbelanjaan terbesar di kotanya hanya sekedar berkeliling melihat-lihat sekalian menghilangkan rasa kesal dan marahnya terhadap teman-teman yang dulu dekat dengannya.
Toni berkeliling berpikir mencari cara untuk meminta maaf kepada Dina dan juga cara membalas Bian. Toni membeli sekotak coklat kesukaan Dina kemudian ia membeli kertas untuk membungkus coklat itu. Toni memilih warna favorit Dina.
Toni berpikir entah Dina mau memaafkannya atau tidak setidakny ia berusaha untuk meminta maaf dan mengambil hati Dina kembali. Setelah mendapatkan semua yang ia ingin beli, Toni pulang kembali ke rumahnya.
Sesampainya di rumah ia langsung membungkus coklat untuk Dina, kemudian ia menuliskan kata I LOVE YOU DINA tak lupa ia juga memberikan pita kecil semua yang disuka Dina ia tak lupa. Dina tak pernah melihat harga tapi ia menghargai setiap pemberian yang diberikan padanya.
Keesokan harinya Toni masih merasa sedih, pagi-pagi sekali Toni sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Mbok Nah kebingungan karena ia belum selesai menyiapkan sarapan tapi Toni sudah duduk menunggu di meja makan.
"santai saja mbok...aku tunggu sampai sarapannya siap" ucap Toni denga senyum seperti biasanya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa kemarin.
Lima belas menit kemudian mbok Nah sudah selesai menyiapkan sarapan. Toni makan sendiri, mama dan papanya belum turun, karena memang masih terlalu pagi.
Toni makan dengan cepat, kemudian ia buru-buru berangkat ke sekolah. "mas Toni enggak salah? Baru jam enam dua puluh sudah berangkat?" tanya mbok Nah
"enggak mbok...hari ini aku mau menunggu Dina datang, doakan ya mbok semoga Dina mau memaafkan aku" ucap Toni dengan senyum mengembang
"pasti mas...mbok doakan yang terbaik untuk mas Toni dan non Dina" ucap mbok Nah sambil membereskan piring yang dipakai Toni.
"lhoh...ini punya mas Toni kenapa tertinggal...?" gumam mbok Nah kemudian menyimpan kotak berwarna kuning milik Toni.
Toni berjalan kaki dan masuk sekolah melalui gerbang depan. Ia memperhatikan sekeliling, melihat motor Dina sudah ada atau belum. Yang Toni ingat Dina sampai di sekolah paling siang jam setengah tujuh.
Toni menunggu Dina dengan sabar di pos satpam. Pandangannya tertuju pada gerbang, tak sedikitpun ia memalingkan pandangannya pada tempat lain.
Satpam sekolahnya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Toni. Ia tidak tahu apa yang terjadi antara Toni dan Dina sampai Dina bersembunyi dan pagi ini Toni menunggunya.
Berpuluh-puluh menit Toni menunggu Dina, ia melihat jam di pos satpam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, tapi Dina masih belum juga datang.
Toni kawatir, ia takut jika Dina tiba-tiba sakit, atau terjadi sesuatu yang buruk terhadap Dina. Di tengah kecemasan hatinya, Dina masuk melalui pintu gerbang, tepat pukul tujuh.
Toni bergegas menghampiri Dina, ia sudah tak sabar ingin berbicara dengan Dina.
__ADS_1
"Din..." Toni memegang setang motor Dina dari samping. Dina reflek menoleh ke arah Toni
"bisa kita bicara sebentar?" ucap Toni
Dina melepaskan helmnya, sebenarnya dia enggan berbicara lagi dengan Toni, tetapi kalau Dina tidak menurutinya Toni tidak akan berhenti mengejarnya.
"Din..aku minta maaf atas ucapan teman-temanku kemarin, sungguh semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan" ucap Toni mengiba
"memangnya aku memikirkan apa Ton?" Dina mengerutkan dahinya
"aku sudah memaafkan semuanya tetapi aku butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikiranku" Dina menarik nafasnya dalam-dalam
Sebenarnya Dina sudah mulai melupakan peristiwa di toilet kemarin tetapi karena Toni membahasnya lagi dadanya terasa sesak, mendengar dia menjadi bahan taruhan teman-teman Toni.
"baiklah...aku akan menjauh sementara dari kamu, tapi beri aku kesempatan untuk memperbaik semuanya, aku masih sayang kamu Din" terang Toni tanpa mendengar jawaban Dina Toni pergi meninggalkan Dina yang masih duduk di atas motornya.
Ada perasaan bersalah melihat Toni yang selalu dilihatnya ceria dan kadang keceriannya bisa menular kepadanya. Tapi Dina juga kecewa karena jadi bahan taruhan teman-tenan Toni.
Toni berjalan dengan santai melewati lorong kelas IPS, ia ingin menunjukkan kepada Bian dan teman-temannya jika kini ia sudah baik-baik saja.
Ketika melewati kelas Bian, Toni berhenti sejenak dan melihat ke dalam kelas, menatap ke arah Bian yang sudah masuk ke dalam kelasnya dengan tatapan sinis dan satu sudut bibirnya terangkat.
Toni berjalan ke kelasnya dan masuk ke dalam kelasnya, dengan santainya dia duduk di sebelah Roy yang wajahnya tampak bingung dan panik.
"kamu dari mana saja? kata mbok Nah kamu sudah berangkat pagi-pagi sekali" ucap Roy dengan nada penasaran
"dari depan" jawab Toni singkat
"di depan mau apa?" tanya Roy
"bertemu Dina"
"lantas?" Roy mengerutkan dahinya, ia bingung dengaj sikap Toni yang benar-benar berbeda dari yang kemarin
__ADS_1
Mereka berdua diam tak melanjutkan obrolan mereka, guru yang mengajar di jam pertama masuk ke kelas langsung mengadakan ulangan mendadak.
Bel istirahat pertama berbunyi "ah...iya kenapa tadi aku lupa..." Toni memukul keningnya sendiri
"apa Ton?" ucap Roy sambil memasukkan bukunya ke dalam tas
"itu kado buat Dina, tertinggal di rumah" ucap Toni
Roy mengerutkan dahinya, tingkah Toni makin aneh menurutnya. Kemarin ia ngamuk, marah-marah, sedih dan terlihat terpuruk, kemudian tiba-tiba terlihat bahagia.
Pagi ini, sikap Toni sudah kembali seperti biasanya, bahkan dengan peristiwa kemarin Toni masih sempat membelikan Dina kado. Roy benar-benar bingung ia takut Toni sudah tidak waras lagi.
"mau ikut aku pulang?" tawar Toni
"pastinya...aku lapar sudah lama tidak makan masakan mbok Nah" Roy bersemangat beranjak berdiri dari duduknya
"kalau urusan makan saja semangat" Toni mencibir
"iya dong...makan gratis gitu loh...." Roy tergelak
Mereka berdua berjalan pulang ke rumah Toni melalui pintu gerbang belakang. Sebenarnya Toni masih sangat merasa sedih, tapi ia berusaha menutupi semuanya, ia tak ingin memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang selama ini telah mengusik kebahagiaannya dengan Dina.
Ia melihat Dina biasa saja, membuat dirinya semakin yakin bahwa membalas orang yang telah menghancurkannya adalah dengan bersikap biasa seolah-olah semuanya masih berada dalam kendalinya.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Dukung terus karya ini ya bestie...
__ADS_1
Please like, komen dan votenya ya..
Terima kasih sekebon bestie