
Perlahan tapi pasti, Toni mulai bisa mengendalikan emosi dan perasaannya. Benar ia masih menyayangi Dina, benar juga ia masih mengharapkan Dina kembali padanya tapi kini ia mulai bisa menerima kenyataan.
Toni berusaha bersabar, seperti kata Roy. Ia harus lebih berpikir panjang sebelum mengambil tindakan atau ia akan menyesalinya di kemudian hari.
Toni menyesal, sangat menyesal dengan apa yang telah ia perbuat dulu kepada Dina. Sekuat apapun ia berusaha nyatanya keberuntungan belum berpihak padanya. Dina masih belum bisa menerimanya seperti dulu, bahkan kini telah memiliki pacar baru.
Setelah Toni pulang dari kota J, tak banyak kegiatan yang ia lakukan. Ia menunggu saat perkuliahan dimulai. Semua teman-teman dekatnya sibuk mempersiapkan kuliah mereka masing-masing. Toni merasa kesepian, ia ingin menemui Dina tapi tak mungkin, Dina selalu bersama pacar barunya.
Ia menghabiskan waktunya di rumah saja, terkadang membantu mbok Nah mengurus tanaman milik mamanya. Saat berada di kamar, ia selalu memutar radio, mendengarkan SMAX fm berharap Dina yang sedang siaran.
Ia tak tahu jadwal Dina siaran jam berapa, ia tak mungkin bertanya ke studio karena ada Widi di sana. Bukannya ia takut hanya saja ia malas berurusan dengan orang-orang yang mengaku teman baik Dina yang selalu menganggap mereka paling tahu apa yang bail buat Dina.
Pagi-pagi ia merasa bosan dengan rutinitasnya di rumah. Ia menghabiskan waktunya hanya di dalam kamar sambil mendengarkan radio. Betapa terkejutnya Toni, mendengar suara orang yang selama ini ia nanti.
Senyum Toni mengembang, ia beranjak mengganti pakainnya kemudian ia keluar kamarnya. Dengan wajah yang berseri-seri Toni menuruni tangga.
"mas Toni mau kemana?" tanya mbok Nah dengan raut wajah heran
"mau ke studio mbok" ucap Toni dengan senyum mengembang
"studio foto?"
"bukan mbok...ke studio yang ada di sekolah...itu lho tempat siaran radio" terang Toni
"oo....tumben bajunya rapi banget" mbok Nah memperhatikan Toni dari ujung kaki sampai ujung kepala, kemudian kembali lagi ke kaki
"masak sih mbok? Perasaan biasa saja..." Toni terkekeh "sudah dulu ya mbok...doain ya...semoga lancar" Toni meninggalkan mbok Nah yang masih menatapnya dengan tatapan heran
Toni berjalan kaki ke sekolahnya, perasaannya campur aduk, senang was-was, dan penuh harap. Mungkin setelah ini, ia akan sulit bertemu Dina karena mereka tak lagi satu sekolah.
Selain itu, ia juga akan sibuk dengan kuliahnya serta belajar mengelola bisnis papanya di kota J. Toni ingin memastikan sesuatu, sebelum menjalankan apa yang ia rencanakan.
Tanpa mengetuk pintu studio, ia masuk ke dalam, berjalan pelan-pelan dengan perasaan tak menentu. Dari ambang pintu ia melihat Dina duduk membelakangi pintu masuk.
Ia menunggu, sampai Dina berhenti sejenak dari siarannya. Setelah melihat Dina mematikan mikroponnya, ia pun berjalan menghampiri Dina.
__ADS_1
"Din..." Toni memanggil Dina dengan suara lembutnya. Semua yang berada di dalam studio itu menoleh padanya. Ia melihat Dina berdiri dan berjalan mendekat ke arahnya.
"di luar saja..." ucap Dina datar berjalan keluar studio, Toni mengikutinya dari belakang.
sesampainya di luar Dina duduk di kursi yang ada di depan kelas Toni dulu, Toni pun juga mengikuti Dina duduk di sebelahnya.
"sekarang ada apa?" tanya Dina
"apa kabarmu Din?" tanya Toni
"seperti yang kamu lihat aku sehat..." ucap Dina datar "oh ya...terima kasih karena waktu itu sudah menemani aku di rumah sakit"
"iya Din sudah seharusnya aku menemanimu dan menjagamu" ucap Toni dengan mata yang berbinar.
Dina diam, sebenarnya ia merasa tersentuh dengan perhatian Toni sewaktu ia berada di rumah sakit. Bahkan ia sempat berpikir jika saja ia belum memilik pacar lagi, ia akan membuka hatinya untuk Toni kembali. Tapi ia berusaha untyk tidak menunjukkan kalau ia sangat berterima kasih atas perhatian Toni. Dina tak ingin memberikan harapan palsu untuk Toni. Dina masih belum bisa melupakan rasa sakitnya karena Tonu.
Dina bukan seorang pendendam hanya saja itu ia masih butuh waktu melupakan semuanya.
"bagaimana kemarin? diterima?" tanya Toni lembut
"terus bagaimana? Kamu mengulang tahun depan atau daftar di kampus swasta?" tanya Toni penasaran. Sebenarnya Toni sudah mengetahui jika Dina mendaftar di universitas A dari mamanya Dina, saat tak sengaja ia lewat depan rumah Dina dan melihat mamanya Dina berada di depan rumah, ia pun memutuskan untuk mampir sejenak.
"mau tidak mau daftar kampus swasta Ton " ucap Dina sendu
"kenapa tidak mencoba mengulang tahun depan Din?" tanya Toni lembut yang sebenarnya sudah tahu semuanya dari mamanya Dina.
"tahun depan mengulang lagi Ton, tapi tahun ini mungkin aku kuliah dulu di kampus swasta, papaku menyuruhku tidak boleh menganggur jadi mau tidak mau ya aku daftar di kampus swasta" ucap Dina pertama kalinya berbicara lebih panjang dari sebelum-sebelumnya.
Toni senang, kini Dina bisa bicara lebih terbuka padanya. Ia yakin perlahan tapi pasti Dina akan bisa menerimanya lagi.
"Din...aku masih tetap menunggumu, aku harap penantianku tidak akan sia-sia" ucap Toni penuh harap
Dina menghela nafasnya, entah harus berapa kali lagi ia mengatakan kepada Toni untuk tidak mengharapkannya lagi. "jangan menunggu aku lagi Ton... Aku sudah mencintai orang lain"
"aku yakin, cinta itu lambat laun akan pudar Din..." ucap Toni penuh keyakinan
__ADS_1
"aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa, terima kasih karena kamu sudah menyayangi aku" ucap Dina beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya masuk ke studio meninggalkan Toni duduk termenung sendiri.
"aku harus bagaimana lagi Din...agar kamu bisa memaafkan aku dan menerimaku lagi" gumam Toni sendu. Toni sudah kehabisan kata-kata untuk meminta maaf. Ia juga sudah tidak tahu apalagi yang harus ia lakukan untuk memperjuangkan Dina kembali.
Tak lama Toni melihat Widi yang berjalam ke arahnya ia merasa kesal. Widi selalu saja ikut campur apa saja yang ia lakukan terhadap Dina.
"ada apa lagi?" tanya Widi datar
"tidak ada apa-apa" ucap Toni menahan rasa kesalnya
"kalau kamu menemui Dina hanya untuk menyakitinya lebih baik jangan pernah menemuinya lagi" ucap Widi penuh penekanan
"aku tidak ingin menyakitinya, aku hanya ingin mengutarakan apa yang aku rasakan apa itu salah?!" ucap Toni ketus "kamu jangan sok menjadi pahlawan untuk Dina."
"dimana kamu saat Dina terbaring di rumah sakit?" Toni melihat Widi terkejut dengan ucapannya
"di mana kalian, yang selau Dina anggap sahabat ketika dia sakit?" tanya Toni dengan tatapan sinis
"Dina sakit? Kapan? Tidak ada yang memberitahuku" ucap Widi panik
"sudah lama... Tidak perlu dibahas lagi" ucap Toni sinis
"mulai sekarang biarkan Dina menentukan apa yang menurutnya baik, kamu tidak perlu lagi menjadi orang yang sok menjadi pahlawan baginya" ucap Toni kemudian ia beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Widi yang kebingungan
Saat Dina sakit dan dirawat di rumah sakit tidak dirinya lah yang pertama kali datang dan menemani Dina di rumah sakit. Toni kesal karena selalu dianggap ingin menyakiti Dina, padahal nyatanya ia hanya berusaha mendapatkan maaf dari Dina.
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1
Maaf bestie jarang banget up...banyak kesibukan di dunia nyata, yuk yang belum vote tolong votenya ya, jangan lupa like dan komennya ya, terima kasih sekebon bestie