Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 92 Main rumah-rumahan


__ADS_3

Mbok Nah masuk ke ruang kerja Toni hendak berpamitan, karena sopir yang biasa mengantar barang dan surat-surat ke kantor pusat sudah datang.


"Mas...itu non Dina tertidur di sofa...mbok nggak berani membangunkannya"


"iya...mbok tinggal saja, biar nanti Dina saya yang urus" Toni menghentikan kerjanya sejenak "mbok hati-hati di jalan, oo...iya ini sekalian titip ke pak Amir" Toni menyerahkan amplop besar berwarna coklat


"iya mas...nanti saya sampaikan, mbok pergi dulu" mbok Nah keluar dari ruang kerja Toni


Toni pun mematikan komputernya, kemudian ia keluar dari ruang kerjanya yang terletak di sebelah ruang keluarga. Toni melihat Dina yang tidur sambil duduk di sofa.


Toni mendekati Dina, menatap dalam-dalam wajah Dina yang terlihat lelah. Toni tersenyum, ia membelai rambut Dina "mungkin dulu aku belum benar-benar mengenalmu, tapi beberapa hari terakhir aku semakin mengenalmu, ada banyak hal yang ternyata belum aku tahu tentang dirimu"


Toni kemudian mengangkat tubuh Dina dan membawanya ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Ia merebahkan tubuh Dina di atas tempat tidur kemudian menyalakan pendingin ruangan dan menyelimutinya. Toni duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur. Ia meluruskan kakinya menaikkannya ke atas tempat tidur dan ia pun juga tertidur.


Dina mengerjapkan matanya, ia merasa asing dengan tempat ia terbangun. Ia melihat sekelilingnya, gelap hanya lampu di sebelah tempat tidur yang menyala. Ia melihat Toni tertidur di atas kursi, ia teringat dulu waktu ia sakit, Toni juga melakukan hal yang sama seperti sekarang.


"kenapa kamu harus bersikap baik padaku setelah sikapku dulu yang terus mengabaikanmu?" Dina menatap Toni.


Toni pun juga terbangun dan hal yang pertama ia lakukan adalah melihat Dina


"kamu sudah bangun?" tanya Toni dengan suara serak khas bangun tidur


"iya....ini dimana? Siapa yang membawaku ke sini?"


"di kamarku, aku yang menggendongmu ke sini" Toni bangkit dari duduknya "kalau kamu masih mengantuk tidurlah lagi" Toni masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Dina masih merasa lelah, namun ia merasa tidak enak jika ia harus tidur di kasur milik Toni. Ia pun berjalan keluar kamar Toni dan betapa terkejutnya ia mendapati kamar Toni berada di lantai dua "berarti tadi ia menggendongku menaiki tangga?" gumam Dina.


Dina menuruni anak tangga ia melihat sekeliling "dimana mbok Nah?" Dina berjalan ke arah dapur namun sepi, ia kembali ke sofa dimana ia tadi mengobrol dengan mbok Nah.


Sepuluh menit kemudian, Toni turun dengan memakai kaos oblong press body dan juga celana pendek selutut. Penampilan sederhana namun membuat Toni terlihat begitu menarik, tubuhnya tak terlalu berotot namun terlihat tegap dan berisi.


"kenapa pindah ke sini?" Toni duduk di seberang Dina


"ini sudah malam, lebih baik aku pulang, bersiap-siap untuk besok pagi" ucap Dina

__ADS_1


"kita makan dulu ya...tadi mbok Nah sudah menyiapkan semuanya, tinggal memanaskan lagi" ucap Toni sambil menatap Dina


"jadi kamu tadi menggendong aku menaiki tangga? Kenapa harus kamu bawa ke atas, aku bisa tidur di sofa saja" Dina mengerucutkan bibirnya


"agar kamu tidurnya lebih nyenyak...sudah ayo kita makan dulu" Toni beranjak dari duduknya


"iya...biar aku yang memanaskan makanannya kamu duduk saja di meja makan" Dina berjalan mendahului Toni


"mana bisa begitu, aku tuang rumah, sudah seharusnya aku yang melayani tamu" protes Toni


"anggap saja ucapan terima kasihku karena kamu sudah menggendongku naik tangga tadi"


Toni tetap mengikuti Dina ke dapur, memperhatikan Dina yang sedang memanaskan makanan. "sudah selesai kamu duduk saja di meja makan" ucap Dina


"baiklah...." Toni berjalan dan kemudian duduk di meja makan


Dina membawa semua makanan yang tadi ia panaskan ke meja makan. Ia pun meletakkan piring beserta sendok dan garpu di hadapan Toni.


Dina mengambilkan nasi untuk Toni "cukup atau kurang?"


"kamu mau lauknya yang mana?"


"yang mana saja" jawab Toni


Dina mengambilkan ayam goreng dan juga semur daging untuk Toni, kemudian ia mengambil makanan untuk dirinta sendiri. Toni tak berhentu tersenyum, ia makan sambil tersenyum, Dina menyadari itu dan merasa aneh


"kenapa kamu dari tadi senyum-senyum sendiri?" Dina menatap Toni


"enggak ada apa-apa" jawab Toni menahan senyumnya


"yakin? Tapi dari tadi aku perhatikan kamu senyum-senyum sendiri"


Toni kembali lagi tersenyum "kita itu sudah seperti suami istri"


"maksud kamu?!" Dina dengaj nada sedikit tak terima

__ADS_1


"dari tadi kamu melayani aku makan, seperti istri yang melayani suaminya" Toni menahan senyumnya, ia tahu Dina sedikit tersinggung


"kita bukan suami istri Ton....kita hanya berteman" ucap Dina kesal


"iya....iya....berarti anggap saja kita main rumah-rumahan" Toni terkekeh


Mereka berdua pun terdiam, mereka menyelesaikan makannya dalam diam dengan pikiran mereka masing-masing. Toni curi-curi pandang, ia melihat raut wajah Dina yang terlihat kesal.


"aku minta maaf kalau kata-kataky barusan menyinggungmu..." ucap Toni tulus


"iya enggak apa-apa, mungkin aku saja yang terlalu sensitif" jawab Dina tanpa menatap Toni


"jangan marah, aku tidak punya maksud apa-apa, semua murni spontanitas karena melihat kamu yang dari tadi sibuk mengambilkan makanan untukku"


"iya...iya...." jawab Dina singkat. Toni menghela nafasnya, ia tahu Dina marah, ia takut Dina akan membatalkan acara liburannya besok. Toni memilih diam, ia tak mau Dina semakin marah padanya.


Setelah selesai makan, Dina membereskan semuanya dan mencuci piringnya. Toni memasuki dapur "harusnya tidak perlu kamu cuci, besok ada yang datang untuk bersih-bersih" Toni berdiri di semping tempat cuci piring


"sudah jadi kebiasaanku Ton..." Dina tak mengjiraukan Toni yang ada di sebelahnya


"kalau sudah selesai aku antar pulang, atau kamu mau mandi dulu di sini?"


"aku tidak membawa baju ganti, lagi pula kosku tak jauh dari sini" Dina mengeringkan tangannya.


"baiklah...ayo..." Toni menunggu Dina keluar dari dapur.


Toni mengantarkan Dina pulang ke kosnya, karena sudah larut malam Dina meminta Toni untuk segera pulang. Toni mengalah, karena Dina terlihat masih marah padanya.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


yuk bestie....jangan lupa like, komen dan votenya ya....ditunggu kiriman kopi atau bunganya biar nona semangat crazy up 😊😊


__ADS_2