
Malam semakin larut, satu per satu teman-teman Dina dan Toni pulang. Tinggalah Toni, Dina dan Ridwan. Toni dan Dina masih berdansa menikmati malam yang indah bagi mereka berdua.
"ini restoran milik siapa? Kenapa sepi?" tanya Dina
"milik orang yang aku kenal, dan ini belum dibuka untuk umum" kilah Toni
"baik sekali temanmu itu...meminjamkan tempatnya dijadikan diskotik dadakan" Dina terkekeh
"tapi kamu suka kan...?"
"aku suka...suka sekali..." Dina tersenyum mengembang
"hmmm...maaf mas Toni...semua sudah saya urus, masih ada yang perlu saya bantu lagi?"
"nggak ada...kamu pulanglah..." ucap Toni tegas
"baik saya permisi..."
"kita pulang sekarang?" tanya Toni
"aku masih ingin bersamamu malam ini...bolehkan sebentar lagi pulangnya?"
"kita lanjutkan di tempat lain saja ya..."
"dimana?"
"di sebelah restoran ini ada vila kecil...kita menginap di sana saja ya..." ucap Toni lembut
"baiklah....tapi kakiku pegal..." rengek Dina
Dengan sigap Toni menggendong tubuh Dina ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam mobil. Vila yang dimaksud Toni berada tepat di sebelah restoran, milik Toni juga. Ia sengaja membuat rumah kecil di sebelah restoran untuk tempatnya beristirahat.
Toni memarkirkan mobilnya, kemudian ia turun dan membuka pintu penumpang. Ia menggendong Dina kembali memasuki vila yang Toni maksud.
"ini milik teman kamu juga?" tanya Dina saat Toni dengan mudah masuk ke dalam vila itu
"iya...aku sengaja meminjamnya untuk jaga-jaga jika kamu kelelahan" ucap Toni sambil mendudukkan Dina di sofa ruang tamu. Toni meninggalkan Dina pergi ke dapur.
Dina melepaskan sepatu yang ia pakai, kemudian ia berjalan ke arah pintu kaca yang berada di belakang ia duduk tadi. Dina membukanya dari tempat ia berdiri ia bisa melihat pemandangan kota J di malam hari.
__ADS_1
Sungguh indah, tenang, sunyi terasa begitu damai, jauh dari keramaian kota J. Udara pegunungan yang begitu dingin di malam hari membuat Dina mulai kedinginan.
Tiba-tiba ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya, Dina tersenyum ia tahu siapa yang memeluknya dari belakang.
"apakah kamu kedinginan?"
"iya...udara di sini begitu dingin"
Toni melepaskan pelukannya kemudian ia menutup pintu yang Dina buka tadi.
"kita ke dalam saja" ucap Toni lembut, Dina berjalan kembali ke tempat ia duduk tadi. Toni menuangkan anggur merah ke dalam gelas yang telah ia siapkan
"sepertinya kamu ingin aku mabuk malam ini?" Dina terkekeh kemudian mengambil gelas anggur itu
"aku malah sudah mabuk dari tadi" Toni tersenyum kemudian meneguk anggur yang ia pegang
"kamu masih segar begini masak sudah mabuk?" cibir Dina
"iya...aku mabuk...mabuk cinta.." Toni mendekatkan tubuhnya pada Dina
"aku tidak bawa baju ganti, terus nanti aku tidur pakai baju ini juga?"
"bajumu sudah aku siapkan di dalam kamar"
"sayang....jangan...kamu cantik memakai baju ini" Toni menarik pelan tangan Dina
"tapi dingin..." Dina mengerucutkan bibirnya
"ada aku..."
Dina tersenyum "sayang terima kasih untuk semuanya, terima kasih karena kamu telah menunjukkan keseriusanmu"
"kenapa berterima kasih, sekarang kamu tunanganku, calon istriku, jadi sudah seharusnya aku memberikan yang terbaik untukmu" ucap Toni sambil membelai wajah Dina.
Mereka berdua saling bertatapan, saling menyelami ke dalam mata masing-masing. Hanya ada cinta yang terpancar dari mata mereka. Mereka berdua pun berciuman. Ciuman lembut penuh cinta, lama mereka berciuman Toni melepaskan ciuman mereka.
Toni mengangkat tubuh Dina, Dina tersentak kemudian ia melingkarkan kedua tangannya di leher Toni. Toni membawa Dina masuk ke dalam kamar.
Saat memasuki pintu, aroma wangi mawar sudah tercium, Dina mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Kamar yang dihiasi cahaya lilin dan bunga mawar merah dan lampu kamar yang redup menambah kesan romantis.
__ADS_1
Jantung Dina berdegup kencang, apakah Toni menginginkannya sekarang ataukah ini hanya bagian dari kejutan ulang tahunnya. Dina tak mau berpikir lagi, ia hanya ingin menikmati malam ini.
Toni membaringkan tubuh Dina di atas kasur yang dihiasi banyak kelopak mawar merah. Kemudian mengecup dahi Dina lembut.
"aku ingin mengjabiskan malam ini bersamamu sayang" ucap Toni sambil membelai wajah Dina
"apa aku boleh menolak?" Dina tersenyum
"tidak...kamu tak boleh menolaknya" Toni mulai naik ke atas tubuh Dina "sayang...aku ingin menua bersamamu, selalu berada di sisimu setiap saat" ucap Toni lembut kemudian mengecup dahi, hidung dan bibir Dina.
"aku telah menjawabnya tadi, jadi jangan tanyakan lagi padaku" Dina tersenyum
"ini bukan mimpi kan?"
"bukan...ini kenyataan..." Dina mencubit hidung Toni
Toni mulai mencium bibir Dina lembut, Dina memejamkan matanya menikmati ciuman mereka. Ciuman Toni semakin lama semakin dalam, Dina melingkarkan kedua tangannya di leher Toni.
Ciuman mereka semakin dalam semakin menuntut, tangan Toni mulai tak tinggal diam, mulai meraba bagian-bagian favoritnya. Dina mulai menggeliat menikmati setiap sentuhan Toni.
Ciuman Toni turun ke leher Dina dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Toni ingin semua orang tahu, jika Dina hanya miliknya seorang. Tangan Toni mulai menurunkan dress yang dipakai Dina, kemudian ia mulai memainkan gunung kembar Dina.
Ciuman Toni mulai turun ke dada, ia mulai menyesap puncak gunung kembar milik Dina, tangannya pun tak tinggal diam, memainkan puncak satunya. Toni memilin meraba menghisap seolah sedang kehausan.
"aahh...stt..." ******* lolos dari bibir Dina. Dina begitu menikmati setiap sentuhan Toni yang begitu menghanyutkan. Membuatnya ia terbang melayang. Sudah lama ia tak merasakan sentuhan Toni.
Malam ini ia hanya ingin menikmati apa yang Toni lakukan. Menikmati setiap sentuhan yang telah lama ia rindukan. Jarak membuat mereka benar-benar tak bisa menahan hasrat di dada.
Toni kembali mencium bibir Dina kali ini ia lebih kasar, dan lebih menuntut, membuat Dina semakin terbakar api asmara yang ada di dalam dirinya. Tangan Toni tak tinggal diam ia begitu menggilai setiap inchi tubuh Dina.
Dina pun mulai terhanyut, ia mulai mebalas setiap apa yang Toni lakukan. Ia mulai membuka satu per satu kancing baju yang dipakai Toni, kemudian ia membuka kancing celana Toni.
Gerakan mereka berdua semakin liar, kelopak mawar mulai jatuh berhamburan. Mereka berdua saling menyentuh dan meraba menyalurkan kerinduan yang terpendam.
.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g