
Hari sabtu, hari ulang tahun Dina yang ke tujuh belas. Beberapa hari Dina menghindari Toni. Bahkan makan siang bersama papanya Toni, Dina hindari.
Dina berusaha untuk memantapkan hati dan pikirannya yang sering berubah-ubah. Di satu sisi ia ingin bersama Toni lagi di sisi lain ia masih belum sembuh dari semua traumanya.
Bel pulang sekolah telah berbunyi, Dina menghampiri Ani di kelasnya. Ia akan berangkat dengan Ani ke resto N yang terletak di pinggiran kota, di sebuah lereng gunung yang hawanya sangat sejuk.
Teman-teman Dina yang lain sudah berangkat duluan. Dina berboncengan dengan Ani dengan kecepatan sedikit tinggi agar segera sampai di resto.
Sesampainya di resto N, Dina sudah ditunggu oleh teman-temannya. Ada Widi, Anto, Alex, Yuni, Rani, Putra dan Joni. Dina masuk ke dalam resto menuju tempat yang sudah ia pesan sebelumnya. Dina sengaja memesan tempat yang berada di pinggir kolam pancing agar teman-temannya yang ingin memancing bisa menyalurkan keinginannya.
Dina meminta teman-temannya memesan makanan yang mereka mau, sambil menunggu pesanan mereka datang ada beberapa teman Dina memancing ikan di tepi kolam.
Dina memperhatikan keseruan teman-temannya yang sedang memancing. Mereka merasa sangat terhibur karena Dina mengajak mereka ke tempat yang jarang mereka kunjungi.
Roy datang menghampiri Dina dan mengucapkan selamat ulang tahun serta memberikan kado untuk Dina.
"jadi...kamu mengajak siapa?" tanya Dina dengan senyum lebarnya
"teman..." ucap Roy tersenyum misterius
"mana temanmu?" Dina mencari-cari teman yang dimaksud Roy
"masih berada di tempat parkir, sebentar lagi pasti menyusul ke sini" Roy duduk di sebelah Dina
"oh...kamu pesan apa?" Dina menyodorkan buku menu kepada Roy
Roy membaca buku menu, memilih-milih menu yang ingin ia makan ditemani Dina. Karena terlalu serius memperhatikan Roy, Dina tak menyadari seseorang yang berdiri di depan merek berdua.
"Din... Selamat ulang tahun" ucap seseorang itu menyodorkan kue ulang tahun dengan lilin angka tujuh belas yang sudah menyala dan juga buket bunga kepada Dina. Dina mendongak menatap seseorang yang berada di depannya.
Dina bangkit berdiri "terima kasih Ton..." ucap Dina dengan senyum mengembang
__ADS_1
"ayo sekarang tiup lilinnya..." ucap Toni lembut
Dina pun meniup lilinnya dan menerima bunga dan kue yang dipegang oleh Toni dan meletakkannya di meja. Tak lama pesanan merek diantar oleh pelyan.
Teman-teman yang dari tadi asyik memancing kembali ke tempat dududk mereka.
"lhoh....ada kue ulang tahun, kapan tiup lilinnya kenapa kita tidak tahu?" ucap Yuni mendekati Dina "ayo ulang lagi...!"
Yuni meminta korek api pada pelayan dan menyalakan lilinnya kembali, kemudian teman-teman Dina mulai menyanyikan lagu ulang tahun kemudian Dina meniup lilinnya yang kedua kalinya.
Setelah itu Dina memotong kuenya "potonga pertama untuk siapa Din?" ucap Yuni dengan kedua sudut bibir terangkat sambil memandang Toni.
"hmmm...." Dina menatap sekeliling, kemudian menyerahkan potongan kue pertamanya pada Roy
"lhoh kenapa Roy yang dapat potongan pertama?" protes Rani
"Roy teman baikku dari masih kelas satu SMP" ucap Dina menyunggingkan senyumnya sambil melirik ke arah Toni dengan wajah kecewanya.
Kemudian ia membagi-bagi kuenya untuk teman-temannya. Mereka makan sambil bercanda diiringi gelak tawa mereka. Dina sungguh bahagia bisa merayakan ulang tahunnya bersama teman-teman terdekatnya.
Tapi hati Dina tetap saja kosong, ia teringat akan neneknya yang satu minggu yang lalu meninggal. Dina sedih karena ia pernah mengatakan pada neneknya, untuk selalu menemaninya hingga ia lulus kuliah dan meraih gelar dokter.
Tapi Tuhan berkehendak lain, neneknya meningggalkan Dina sebelum bisa mewujudkan cita-citanya. Satu hal yang menjadi penghiburannya adalah, neneknya sekarang sudah tidak merasakan rasa sakit lagi.
Toni mendekati Dina dan duduk di samping Dina yang sedang melamun memperhatikan teman-temannya yang sedang bersenda gurau.
"Din....ini kado untukmu..." ucap Toni menyerahkan sebuah kotak kepada Dina
"tak usah repot-repot Ton..." ucap Dina datar
"ini titipan dari papa Din..."
__ADS_1
Dina menghela nafasnya kemudian ia menerima kotak yang diberikan oleh Toni. "ayo dibuka..." ucap Toni lembut
Dina membuka kotak kado yang diberikan oleh Toni, di dalam kotak tersebut ada sebuah gelang terbuat dari batu giok berwarna hijau
"kata papa...ini oleh-oleh dari rekan bisnis papa dari jepang, ini sengaja papa berikan spesial untukmu..." ucap Toni dengan senyum mengembang
"mau aku pakaikan?" tanya Toni lembut kemudian ia mengambil gelang giok itu dan memakaikannya pada tangan Dina.
"cantik sekali gelang ini kamu pakai" ucap Toni dengan mata berbinar
"terima kasih, sampaikan juga terima kasihku pada om Yan" ucap Dina tersenyum tulus.
"iya...pasti aku sampaikan....kapan-kapan mampir lagi ke rumah ya..." Toni berpindah tempat duduknya lagi.
Sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi Dina dengan Toni. Dadanya bergemuruh, tidak terima orang yang sangat ia sayangi berdekatan dengan orang lain.
"biarkan mereka bahagia Di..." ucap Anto
"iya... aku juga yang salah, jika saja aku punya keberanian mengungkapkan perasaanku padanya..." Widi menghela nafasnya
Hari ulang tahun Dina yang ke tujuh belas memberikan arti tersendiri bagi Din. Setelah kehilangan ada kebahagian yang menggantikan air mata yang terkuras habis minggu lalu.
Dina bertekad, akan berdamai dengan dirinya sendiri. Dan membiarkan dirinya mengalir mengikuti arus kehidupan yang telah digariskan untuknya.
Dina tak akan lagi menyangkal perasaannya, ia bertekad biar waktu yang menjawab semua kegundahan dalam hatinya. Saat ini Dina ingin fokus mengejar cita-citanya.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g