Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 214 Roy murka


__ADS_3

Tak menunggu lama Roy pun duduk di depan Dina. Dina terhenyak tiba-tiba sudah ada yang duduk di hadapannya. Sedetik kemudian ia tersenyum melihat siapa yang duduk di hadapannya.


"kamu cepat sekali sampai sini" Dina mengerutkan keningnya sambip melirik jam yang melingkar di tangannya.


Roy terkekeh "ternyata kamu dari tadi tidak tahu, jika aku duduk di sudut sana" ucap Roy sambil menunjuk tempat ia duduk tadi.


"kenapa nggak bilang kalau kami juga di sini" gerutu Dina


"aku tadi melihat kamu sedang bertemu dengan beberapa pria, aku tidak berani mengganggu"


"ya sudah...kamu pesan apa yang kamu mau, aku yang traktir..." Dina menyodorkan buku menu yang tadi ia pegang.


Roy dan Dina sama-sama membolak-balik halaman buku menu. Dina kemudian memanggil pelayan kemudian mulai memesan makanan untuknya dan Roy.


Dina dan Roy mengobrol mereka sudah lama tidak bertemu. Terakhir kali bertemu saat Dina pulang sebelum ujian akhirnya.


"jadi ada apa? Tumben kamu mengajak aku bertemu, biasanya juga kamu langsung datang ke rumah"


Dina menghela nafasnya "aku bingung Roy"


Roy mengerutkan dahinya, Dina terlihat sedang menanggung beban berat, tak pernah ia melihat Dina seperti itu. Terakhir kali ia melihat Dina tampak kacau ketika putus dari Dendy.


"aku sebenarnya tidak ingin buru-buru menikah, tapi papanya Toni selalu punya cara untuk mempercepat pernikahan kami" ucap Dina lirih


"bukannya itu lebih baik?"


"kamu tahu aku kan Roy, aku ingin menikah setelah umur dua puluh tujuh tahun" Roy mengangguk membenarkan ucapan Dina.


Pembicaraan mereka terjeda karena pelayan mengantarkan pesanan mereka. Dina dan Roy mulai makan sesekali sambil mengobrol.


"sebenarnya aku lelah menghadapi Toni, Roy...aku sempat ingin membatalkan pernikahan kami"

__ADS_1


"karena?" Roy menaikkan kedua alisnya


"Toni masih belum berubah, cemburunya itu berlebihan, tempo hari menuduhku selingkuh dengan klien" Dina meletakkan sendok dan garpunya kemudian meneguk minumnya. Dina menceritakan semuanya pada Roy tentang peristiwa beberapa minggu lalu dan juga peristowa dimana seorang cewek menggoda Toni namun Toni hanya diam.


"seminggu yang lalu, Om Yanuar memberi aku dua pilihan, mempercepat pernikahan atau Toni menjadi bosku" ucap Dina mendesah sendu


"kenapa Om Yanuar memberi kamu pilihan itu?" Roy menautkan alisnya, tak biasanya papa dari sahabatnya begitu kawatir dan perhatian


"alasannya agar Toni lebih dekat denganku, takut jika sampai aku hamil Toni malah meninggalkan aku" ucap Dina lirih.


"hamil?" Roy terkejut ia sampai membulatkan matanya "kamu dan Toni sudah....?"


Dina mengangguk mengiyakan ucapan Roy, Roy semakin terbelalak "sering?"


"kira-kira begitu..." Roy semakin tak bisa berkata-kata, Dina yang ia kenal memiliki prinsip tidak ingi neko-neko saat berpacaran. Tubuhnya terasa lemas, kesempatan untuk mendapatkan hati Dina sudah tak ada lagi. Tak mungkin Dina akan meninggalkan Toni begitu saja setelah ia memberikan miliknya yang paling berharga.


"aku tidak menyangkan kamu rela memberikannya pada Toni Din..." ucap Roy dengan nada kecewa


"aku mencintai dia Roy, aku juga melakukannya setelah ia melamarku di depan papanya waktu itu" ucap Dina dengan perasaan campur aduk


"dia sekarang menjadi bosku"


"aku harap dia tidak mengecewakan kamu lagi setelah apa yang yang kamu korbankan untuk dirinya, andai kamu dulu mau bersamaku, aku tidak akan membuatmu berkorban" ucap Roy sinis


"Roy....! Selamanya kamu tetap punya tempat di hatiku, terbukti kan sampai sekarang kita tidak pernah bertengkar atau berdebat untuk hal-hal yang sepele, dan itulah keinginanku"


"iya...iya....tapi aku tetap berharap bisa mendapatan hatimu seutuhnya Din..." Roy tersenyum kecut, bertahun-tahun menunggu Dina dan tetap menjomblo namun ia harus menerima kenyataan jika Dina telah jauh dari jangkauannya.


.


Keesokan harinya Toni berkutat dengan dokumen serta laporan-laporan yang ada di meja kerjanya. Dina sengaja memberikan semua pekerjaannya pada Toni. Dina masih kesal pada Toni yang masih saja suka membiarkan ulat bulu mendekatinya. Tak sedikit karyawan permpuan sengaja menggodanya, Dina merasa geram, ia melihat Toni menikmati dielu-elukan dan digoda oleh cewek-cewek.

__ADS_1


Dina memilih untuk keluar dan bertemu beberapa klien. Dan juga survey tempat untuk pernikahan mereka nanti. Tentunya semua itu atas perintah calon mertuanya.


Tok....tok....tok...


terdengar pintu diketuk, kemudian munculah seseorang yang sudah lama tak Toni temui.


"hei Roy....tumben...." Toni meletakkan penanya kemudian ia berjalan menghampiri Roy


"bang**t kamu..! Dina kamu apakan hah?!!" Roy meraih kerah Toni kemudian memberikan pukulan pada wajah Toni sehingga bibir Toni sobek dan mengeluarkan sedikit darah


Toni memegang sudut bibirnya yang terasa nyeri karena pukulan Roy "ada apa?!" Toni terlihat emosi


"apa masih kurang kamu mendapatkan keperawanan Dina? Tapi kamu masih saja mengecewakannya!"


"oh...jadi itu...?" Toni melenggang meninggalkan Roy yang masih berdiri di tempatnya. Toni duduk di sofa yang ada di ruangannya "duduk dulu..." Toni mencoba bersikap tenang, ia sudah berjanji pada Dina jika ia akan mengendalikan amarahnya


Roy pun duduk di seberang Toni "jika aku tahu kamu akan menyakiti Dina, aku tak akan pernah membantumu mendapatkan dia" Roy masih tampak berapi-api


"aku tahu aku salah Roy....sekarang aku berusaha memperbaiki hubungan kami, kamu tidak perlu kawatir..." ucap Toni santai meskipun dadanya bergemuruh, ia merasa cemburu Roy begitu perhatian pada tunangannya itu.


"lebih baik kamu lepaskan Dina, jangan memberikan luka padanya lagi" ucap Roy tegas


"tidak....aku tidak mau melepaskan dia...aku benar-benar mencintainya, aku tak bisa hidup tanpanya!" ucap Toni dengan sorot mata tajam pada Roy. Selama ini Roy selalu bersikap dewasa, tenang dan selalu bisa diandalkan, namun kini semua itu sirna, Roy mendadak menjadi tempramen


"jika kamu mencintainya, buatlah dia bahagia dengan atau tanpa dirimu!" Roy beranjak dari tempat duduknya kemudian meninggalkan Toni begitu saja tanpa pamit.


Toni sungguh tak menyangka Roy bisa begitu marah padanya. Roy terang-terangan membela Dina. Ia memang tahu jika Roy menaruh hati pada Dina, namun ia tak menyangka jika akan seperti ini jadinya.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2