
Dina benar-benar bahagia, makan malam romantis di sebuah restoran yang sangat dekat dengan menara Eiffel bisa dibilang mereka makan malam romantis di bawah menara Eiffel.
Setelah selesai makan malam, Toni memberi kejutan lagi untuk Dina. Ia mengajak Dina naik ke menara Eiffel, ia tak pernah membayangkan akan menaiki menara itu. Bisa melihatnya dari dekat saja ia sudah senang, apalagi ini.
Ia bisa melihat pemandangan kota Paris di malam hari. Sungguh indah pemandangan dari atas sana. Kebetulan yang naik ke atas tidak terlalu ramai, jadi Dina bisa leluasa menikmati pemandangan itu.
"kamu bahagia?" tanya Toni memegang kedua tangan Dina dan menatap manik mata Dina lekat-lekat
"aku bahagia....sangat bahagia..." mata Dina berbinar
Toni mendekatkan wajahnya, ia kemudian mencium lembut bibir Dina. Ada seseorang yang memfoto mereka dan itu suruhan Toni. Karena ia ingin mengabadikan momen ini, momen yang tak ingin ia lupakan, namun Dina tak menyadarinya.
Toni mencium Dina penuh cinta bukan nafsu. Kali ini ia ingin menggantikan kenangan buruk mereka di masa lalu dengan kenangan-kenangan indah yang tak akan terlupa sampai tua nanti.
Toni melepas ciuman mereka, pipi Dina merah merona mendapatkan perlakuan manis dari suaminya di depan banyak orang. Setelah ciuman itu terlepas, semua orang yang menyaksikan mereka bertepuk tangan.
Dina merasa malu dan canggung, ternyata sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian. Setelah puas menikmati pemandangan kota Paris di waktu malam mereka berdua pun kembali ke hotel.
Mereka berada di Paris selama lima hari, karena Dina masih ingin menikmati suasana kota itu. Bahkan ia meminta setiap malam pergi ke menara Eiffel, mau tidak mau Toni menurutinya karena Dina akan merajuk dan merengek seperti anak kecil ketika Toni tidak segera menuruti kemauannya.
Setelah puas menjelajahi kota Paris, Dina dan Toni pergi ke Roma. Sudah lama Dina ingin pergi ke sana. Menurutnya Roma itu kota yang unik dengan bangunan tua yang menurutnya indah.
Dina ingin ke Roma naik kereta namun Toni tidak mau karena jauh, dan akan memakan waktu lebih lama. Ia tak mau Dina kelelahan. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam perjalanan mereka tiba di kota Roma.
Toni sudah memesan hotel yang tak jauh dari pusat kota Roma. Kebetulan mereka sampai Roma di siang hari, jadi mereka langsung berjalan-jalan berkeliling kota Roma.
Tujuan pertama Dina adalah ke Basilica Saint Peter, ia ingin berdoa di sana, mendoakan semua orang yang ia sayangi. Di sana Dina merasa mendapat ketenangan, bebannya terasa lebih ringan. Setelah selesai berdoa mereka memutuskan untuk makan, Dina ingin mencicipi makanan yang sering dimasak Toni untuknya di negara asalnya. Dina ingin makan pasta dan juga pizza.
__ADS_1
Dina memesan menu banyak sekali, Toni hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia melihat semakin hari Dina semakin banyak makannya. Tapi itu semua tak masalah bagi Toni, ia ingin Dina merasa bahagia sebelum nanti pulang ke tanah air dan harus berkutat dengan pekerjaan mereka berdua.
Toni dan Dina berada di Roma selama empat hari, mereka berkeliling ke tempat-tempat penuh sejarah. Tak lupa mereka mengabadikan momen bulan madu mereka.
Sebenarnya ia masih ingin pergi ke Madrid dan juga ke Austria namun entah kenapa akhir-akhir ini ia mudah lelah. Jadi ia memutuskan menyudahi liburan mereka. Namun sebelum pulang Dina ingin pergi ke Santorini.
Sebelumnya sewaktu mereka berada di Roma, Toni yang sudah pusing membawa barang bawaan mereka yang sudah beranak pinak, karena Dina benar-benar kalap belanja padahal selama ini ia jarang sekali berbelanja. Toni memutuskan untuk mengirim sebagian barang-barang mereka ke rumah terlebih dahulu.
Setelah hampir tiga jam menempuh perjalanan udara, mereka pun sampai di Santorini. Kondisi Dina semakin lemah, ia mudah lelah, namun ia masih memiliki semangat untuk menikmati liburan mereka.
Toni memberi syarat pada Dina, agar tidak memaksakan diri ketika berada di Santorini. Dan di siniliah mereka, berada di sebuah hotel yang menghadap ke laut langsung.
Dina menuruti apa kata Toni, ia memilih menghabiskan waktu berdiam di hotel menikmati pemandangan dari balkon kamarnya yang menghadap laut langsung. Mereka hanya berjalan-jalan keliling sekitar hotel untuk berbelanja dan juga berwisata kuliner.
"bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Toni lembut
"syukurlah...berarti nanti malam kamu bisa melunasi hutang-hutang selama beberapa hari ini dong" Toni mengerling nakal
Dina tergelak "tentu saja bisa, dari kemarin juga bisa kamu saja yang menghindariku"
Dan akhirnya di sore yang cerah itu mereka menuntaskan hasrat mereka ditemani suara deburan angin laut. Mereka benar-benar sedang dimabuk cinta tiada waktu tanpa bercinta
"aahhh....sayang...kamu benar-benar hebat..." ucap Dina saat mendapatkan pelepasannya
"kamu juga....milikmu selalu membuatku melayang...hemm...aaahhh...." Toni mengejang kembali menyemburkan benihnya, seraya berdoa semoga segera tumbuh Toni junior di rahim istrinya itu.
"apa kamu senang?" Toni menarik Dina dalam pelukannya
__ADS_1
"tentu...bahkan sangat senang....terima kasih sayangku, aku mencintaimu"
"aku lebih mencintaimu" Toni mengeratkan pelukannya
"bulan madu kita diawali dengan bercinta pantai juga ditutup dengan bercinta di pinggir pantai" Dina terkekeh
"kamu yang memintanya sayang, aku hanya mengikuti selama itu membuatmu bahagia"
Tiga hari kemudian mereka telah bersiap untuk pulang. Kini Dina merasa sudah lebih segar, namun ia kadang merasa mual, ia berpikir mungkin asam lambungnya sedang naik jadi ia mencoba merilekskan pikirannya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh jam mereka berdua sampai di kota mereka tercinta. Di bandara mereka berdua sudah ditunggu oleh sopir, sopir pribadi yang akan mengantar kemanapun Dina pergi namun ia belum mengetahuinya.
"langsung ke rumah pak... " ucap Toni ketika berada di dalam mobil
"baik bos..."
Setelah hampir satu jam berkendara, mereka sampai di sebuah rumah. Rumah yang terlihat mewah, dengan halaman yang luas dengan banyak tanaman di depannya.
"ini rumah siapa?" Dina memperhatikan sekelilingnya
"masuklah nanti juga akan tahu" ucap Toni menggandeng tangan Dina masuk.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g