
Satu minggu berlalu, Toni masih berada di kota S. Proyek yang seharusnya hampir selesai ternyata ada masalah. Lagi-lagi masalah yang sama seperti di kota J waktu lalu.
Mau tidak mau Toni harus di kota S sampai kapan belum tahu. Meski Toni dan Dina tinggal satu apartemen mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Toni benar-benar sibuk, dia pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Mereka hanya bertemu di pagi hari saat sebelum berangkat kerja.
Bagi Dina, ia harus mendukung Toni, ia harus membiasakan diri jika kelak mereka telah resmi menikah. Dina pun tak protes dengan kesibukan Toni. Ia hanya mengingatkan agar tidak memaksakan diri jika lelah.
Masalah yang sama dengan waktu berurutan membuat Toni sedikit curiga, ada yang sengaja membuat proyek-proyeknya bermasalah.
Toni sangat teliti dalam segala hal, ia tidak mau mengecewakan kliennya karena ia selalu menamamkan dalam pikirannya, klien adalah raja, jadi ia selalu mementingkan kepentingan kliennya.
Di kantornya, Dina tak lagi diganggu oleh Bimo. Dina bisa sedikit lega, ia lelah jika harus terus-terusan meladeni Bimo yang selalu memaksakan apa yang ia mau.
Hari-hari Dina jalani dengan sukacita, ia kini sudah semakin akrab dengan karyawan-karyawan kantornya. Namun ia masih merahasiakan tentang pengunduran dirinya di akhir bulan.
Ia tidak mau membuat keributan di kantor, karyawan training yang kinerjanya bagus, mengundurkan diri sebelum resmi menjadi karyawan tetap akan membuat kegaduhan.
"sayang...tinggal sepuluh hari lagi kontrak training kamu berakhir, tapi masalahku di sini belum juga selesai" Toni frustasi
"sabar sayang....aku yakin masalahmu cepat selesai..." Dina membelai punggung Toni "apa perlu bantuanku?"
"kamu sudah lelah dengan pekerjaanmu, aku tidak mau membebani kamu"
"di sini kamu tidak bisa mengandalkan siapa-siapa, biasanya ada Ridwan yang membantu kamu, tapi ia jauh di sana, tak apa jika aku menggantikan posisi Ridwan di sini" ucap Dina lembut
"baiklah..." Toni memngambil tas kerjanya kemudian membuka berkas-berkas yang telah ia bawa dari kantor proyek
Dina mengambil beberapa lembar berkas itu kemudian membaca satu per satu. Ia pernah menjadi sekretaris Toni sedikit banyak ia tahu apa yang ia baca.
"banyak angka yang janggal di sini" ucap Dina
"iya aku juga tahu...itu...tapi aku tidak bisa menemukan kenapa semua angka banyak yang berubah dari yang mereka laporkan kemarin"
__ADS_1
Dina mulai meneliti semua berkas yang dibawa Toni. Mereka berdua larut dalam tumpukan kertas-kertas. Akhirnya karena terlalu lelah Dina pun tertidur.
"katanya bantui malah tidur..." Toni menggeleng-gelengkan kepala kemudian mengangkat tubuh Dina dan membaringkannya di tempat tidur.
Keesokan paginya, Dina bangun lebih dulu, ia merasa bersalah ketika mendapati Toni tertidur di sofa dengan tumpukan kertas.
Dengan sangat pelan, Dina ke dapur menyiapkan sarapan untuk mereka berdua dan setelah itu ia mandi dan bersiap ke kantor. Sampai Dina selesai bersiap namun Toni masih belum juga bangun, Dina mengecup kening Toni kemudian ia berangkat ke kantor.
Sejak Toni berada di kota S, Deni hanya akan mengantar jemput dirinya jika Toni yang memerintah, namun pagi ini Dina memilih naik kendaaraan umum, ia tak mau merepotkan Deni, yang mungkin saja sedang mengantar penumpang lain.
Dina menikmati hari-hari terakhirnya bekerja di perusahaan itu. Ia ingin meninggalkan kesan baik di antara teman-temannya.
Dina lega, karena Toni sering mengantar jemput dirinya ke kantor, kini tak ada lagi yang mencoba mendekatinya. Mereka yang pernah mencoba mendekati Dina kini hanya sekedar menyapa jika bertemu Dina.
.
Sore harinya jam pulang kantor, Dina memeriksa ponselnya mungkin saja ada pesan dari Deni, namun tak ada, sedangkan Toni juga tak menghubunginya sejak pagi. Dina memutuskan untuk pulang naik kendaraan umum lagi.
"sayang...." dengan langkah cepat Dina menghampiri Toni.
Toni mendongak kemudian tersenyum "sudah pulang?"
"sudah....aku kira kamu nggak bisa jemput, dari pagi kamu nggak kirim pesan atau telepon" Dina duduk di sebelah Toni
"kamu pergi juga tidak membangunkan aku..." Toni mengerucutkan bibirnya
"aku tidak tega, semalaman kamu pasti lembur, makanya aku tidak membangunkan kamu"
"ayo pulang..." Toni berdiri mengulurkan tangannya
Dina pun menyambut uluran tangan Toni, mereka berdua berjalan bergandengan keluar dari gedung kantor Dina. Sejak tadi apa yang mereka lakukan tak luput dari pengamatan seseorang.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen, Toni langsung menjatuhkan badannya di sofa. Ia memejamkan matanya, beristirahat sejenak.
Sedangkan Dina langsung ke dapur menyiapkan makan malam mereka, kemudian ia membersihkan dirinya. Dina berjalan menghampiri Toni yang masih belum berubah posisinya.
"sayang...." Dina membelai lengan Toni
Toni membuka matanya, menoleh ke arah Dina "sudah cantik lagi ternyata..."
"kamu kenapa? Kalau capek mandi dulu terus makan....baru istirahat di atas" ucap Dina lembut
"aku hanya capek saja, dari pagi aku ke sana kemari mencari kejelasan angka-angka yang kamu tandai semalam, jaraknya lumayan pula..."
"terus....?"
"mulai ada titik terang...semoga dalam seminggu bisa selesai"
"syukurlah....sekarang mandi dulu terus makan"
"terima kasih sayang....kamu memang terbaik...." Toni mengecup bibir Dina kemudian beranjak ke kamar mandi.
Satu minggu berlalu, masalah Toni telah selesai, hampir saja Toni mengalami kerugian lagi namun karena ia juga bekerja dengan cepat semua telah teratasi, dan orang-orang yang telah mengacaukan proyeknya telah bertanggung jawab.
Kini Toni bisa bernafas lega, semua selesai pada waktunya. Masalahnya selesai tinggal sekarang mengurusi kepindahan Dina kembali ke kota K.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1