Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 52 Perubahan Yuni


__ADS_3

Masih dalam suasana tahun baru imlek, nona mengucapkan


Xin Nian Kuai Le


Gong Xi Fa Cai


Wan Shi Ru Yi


Untuk para reader yang merayakan


......................


Sikap Yuni berubah menjadi lebih baik meski tidak terlalu berlebihan seperti waktu awal dia mengetahui huhungan Toni dan Dina membaik. Yuni lebih sering datang pagi tidak seperti biasanya.


Yuni pun juga tak lagi berpindah-pindah tempat duduk ketika pelajaran berlangsung. Dia kini betah duduk bersama Dina, biasanya Dina selalu dioper duduk bersama Putra.


Dina tak pernah protes, ia biasa-biasa saja karena baginya duduk dengan siapa saja tak masalah. Di kelas IPA ia merasa tak punya teman yang bisa sefrekuensi dengan dirinya.


Dina sering menghabiskan waktu istirahat pergantian jam sore atau istirahat ketiga di studio, kadang kala Dina pergi keluar tempat saudarana mamanya.


Siang itu Dina pergi keluar bersama Dendy untuk makan siang. Akhir-akhir ini Dina sering makan siang bersama Dendy. Tak ada temannya yang tahu kemana Dina pergi. Dina hany mengatakan ke Yuni ia mau keluar ada keperluan yang harus ia selesaikan.


Ketika Dina keluar dari gerbang sekolah, Dina sempat berpapasan dengan Putra. Putra heran, Dina tampak terburu-buru kemudian naik ke boncengan cowok dan pergi bersama beberapa cowok yang Putra tidak mengenalnya, hanya Gilang yang berhasil ia kenali.


.


Di sekolah, Yuni mendadak cemas karena Dina masih belum masuk kelas. Meski gurunya belum datang tapi dia sudah bingung mencari keberadaan Dina. Yuni keluar kelas melongok ke arah pintu gerbang kemudian masuk kelas lagi. Sudah berkali-kali dia begitu.


Putra yang dari tadi melihat mondar-mandir keluar masuk kelas jadi heran. Tumben sekali Yuni cemas saat Dina belum juga datang, padahal tempo hari waktu Dina sakit saja dia terlihat santai.


"kamu dari tadi mondar-mandir ada apa sih Yun?" tanya Putra


"Dina belum datang, enggak biasa dia telat lama begini" jawab Yuni sedikit cemas


"tadi aku lihat dia boncengan sama cowok" ucap Putra


"siapa Put? Toni?" tanya Yuni penasaran

__ADS_1


"bukan...aku enggak tahu siapa, sepertinya bukan anak sekolah kita" ucap Putra memberitahu apa yang tadi dia lihat waktu istirahat "tapi dia kenal sama Gilang" lanjutnya


"kira-kira siapa ya?" Yuni mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuknya, berpikir siapa yang dimaksud oleh Putra


Setelah mendengar perkataan Putra, Yuni kembali ke bangkunya. Merasa capek dari tadi mondar-mandir mencari keberadaan Dina.


"Yun, itu Dina sudah masuk" ucap Putra yang duduk dua bangku di depan Dina dan Yuni duduk.


Yuni melihat ke arah Dina yang masuk ke dalam kelasnya. Wajahnya tampak ceria, tidak seperti biasanya. Dina berjalan ke arah tempat duduknya.


"Din, dari tadi ditungguin tuh sama Yuni" ucap Putra waktu Dina melewati tempat duduk Putra.


"oke Put" ucap Dina tersenyum ke Putra


Dina duduk di tempat duduknya kemudian mengeluarkan buku pelajaran dari tasnya. Yuni yang berada di sebelahnya hanya menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"kenapa Yun?" tanya Dina


"eh...kamu dari mana? tumben telat" Yuni terkesiap ketika tiba-tiba Dina bertanya kepadanya


"belum... Enggak ada kabar juga kosong apa tidak" jawab Yuni masih memperhatikan Dina yang menurutnya sedikit aneh tidak seperti biasanya yang selalu datar kepadanya


"tahu begitu aku enggak buru-buru tadi" Dina mencebik


"memangnya kamu....." ucapan Yuni menggantung di udara ketika melihat gurunya masuk kelas


Tiga jam pelajaran telah mereka lalui, bel tanda pelajaran usai telah berbunyi. Dina membereskan buku-buku dan alat tulisnya memasukkan ke tasnya.


"Din, ada titipan dari Toni" Yuni menyodorkan sebuah kotak kecil terbungkus kertas kado berwarna kuning.


"oh...terima kasih Yun" ucap Dina tersenyum dan memasukkannya ke dalam tasnya


Dina bergegas pulang, langkah kakinya terasa lebih ringan. Jalan ke parkiran motor, menyalakan motornya dan melajukannya untuk pulang. Meski Dina sempat melihat Toni juga keluar lewat gerbang yang sama dengannya tapi dia abaikan. Dina tidak mau terlalu memberi Toni harapan. Biarlah dia intropeksi dirinya sendiri, menyadari semua kesalahannya dan memperbaiki diri.


Tidak semua perkataan teman kita ikuti. Ambil yang baik buang yang buruk. Yang tahu apa yang terbaik buat diri kita ya kita sendiri bukan teman atau pacar.


Lima belas menit kemudian Dina telah sampai di rumahnya, bertepatan hujan turun sangat lebat. Dina merasa bersyukur kalau dia tadi telat lima menit saja pasti dia akan kehujanan.

__ADS_1


Dina masuk kamarnya meletakkan tasnya di kursi. Dia teringat bungkusan yang tadi diberikan oleh Yuni. Dina mengeluarkannya dari tasnya. Dia membukanya isinya sama seperti biasa. Toni memberinya coklat kesukaannya lengkap dibungkus dengan warna kesukaannya.


Di balik kertas yang dipakai membungkus coklat itu ada tulisan tangan Toni.


Dina, maafkan aku


Tolong beri aku kesempatan sekali lagi.


Aku sayang kamu


Dina memang sedikit tersentuh, tapi dia tidak mau kecewa lagi apalagi sekarang dia sudah resmi berpacaran dengan Dendy. Dina membuang kertas itu ke tempat sampah. Seperti dia berusaha membuang perasaannya kepada Toni waktu ia mendengar percakapan Toni dengan Bian dan teman-temannya.


Dina tetap masih belum bisa melupakan semuanya, meski Roy sudah menjelaskan semuanya. Terkadang Dina masih bertanya-tanya apakah benar yang diceritakan oleh Roy.


Dina percaya dengan Roy karena ia telah mengenal Roy dengan baik, tapi ia juga tidak tahu persis kejadian sebenarnya. Ia hanya mendengar percakapan, juga mendengar cerita Roy, tapi ia tak menyaksikannya sendiri.


Dina terjebak dalam perasaan dan pemikiran yang rumit jika mengingat Toni. Sekeras apapun Dina mengabaikan semuanya, malah Dina semakin ragu dengan semuanya.


Bagaimanapun juga Toni adalah pacar pertamanya, cowok pertama yang memberinya kebahagiaan, cowok pertama yang sanggup membuat dia benar-benar jatuh cinta. Tapi sekaligus cowok pertama yang menorehkan luka di hatinya.


Terkadang ia berpikir ingin rasanya dia menghilangkan semua ingatan terhadap Toni. Ingin rasanya kembali ke masa SMP dimana dia sama sekali tidak mengenal Toni.


Dimana dirinya hanya fokus belajar dan belajar, tak memperhatikan kondisi di luar kelasnya. Ia hanya mengenal teman-teman yang sama-sama kutu buku. Tidak mengenal cowok ataupun istilah pacaran.


.


.


.


B e r s a m b u n g


Jangan lupa ritualnya ya bestie


Please like komen dan votenya ya..


Terima kasih sekebon bestie

__ADS_1


__ADS_2