Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 126 Terbakar


__ADS_3

Hari-hari berikutnya Toni disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk karena beberapa bulan ia tinggal untuk mengurusi perusahaan papanya.


Ia sering lembur, pulang dari kantor selalu di atas jam sembilan malam. Meski begitu ia menyempatkan untuk mampir ke kos Dina, namun Dina tak mau menemuinya, teman kos Dina selalu berkata jika Dina sudah tidur.


Toni kecewa, ia merasa diabaikan kembali oleh Dina. Dalam hati kecilnya ia benar-benar menyesal dua bulan lebih ia jarang menghubungi Dina, dan kini ia merasakan hampir satu minggu Dina mengabaikannya.


Tak sebanding memang, tapi ia merasa Dina tak adil kepadanya. Padahal kalau dalam posisi Dina, berbulan-bulan jarang berkomunikasi itu membuat ia meragukan keseriusan Toni. Namun Dina masih percaya pada Toni.


Meskipun Dina pernah mencoba meyakinkan apa yang ia rasakan pada Dendy atau Toni adalah sesuatu yang nyata dan terbalas. Namun ia tetap kembali pada Toni. Jika saja Dina lelah menunggu Toni ia bisa saja mengejar Dendy bagaimanapun caranya seperti dulu.


Di akhir pekan, Toni mengatakan pada Ridwan untuk tidak mengganggunya dengan masalah pekerjaan, ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Dina. Kali ini ia sudah pasrah, jika memang sudah tak bisa diperbaiki ia akan merelakan Dina untuk pergi.


Meski itu berat, namun ia berpikir, untuk apa mempertahankan apa yang sudah tak bisa diperbaiki. Ia sudah dalam tahap menyerah, ia tak tahu lagi bagaimana merayu Dina.


Dina tak bisa dengan mudah dirayu dengan memberikan barang-barang mahal, atau mengajaknya berbelanja seperti cewek pada umumnya. Meluluhkan hati Dina tak semudah membeli barang di toko.


Pagi-pagi Toni sudah mendatangi kos Dina. Ia tak banyak berharap Dina akan mau menemuinya. Kebetulan sekali pintu kos Dina terbuka


"Dina ada?" ucap Toni pada teman kos Dina


"oh...kak Dina ke kampus.." ucap teman kos Dina


"bukannya hari sabtu dia libur? Itu motornya juga ada di dalam" ucap Toni


"iya...katanya ada kuliah pengganti jam delapan, tadi kak Dina pergi jalan kaki katanya mau sekalian olah raga" ucap teman kos Dina


"baik...terima kasih" Toni pergi meninggalkan kos Dina. Ia sebenarnya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh teman kos Dina, namun ia tetap pergi ke kampus.


Setahu Toni, di kampusnyaa tidak ada perkuliahan di hari sabtu, hanya mahasiswa pasca sarjana yang ada kuliah di hari sabtu. Namun Toni tetap pergi ke kampus, untuk membuktikan semuanya.


Toni memarkirkan mobilnya tepat di depan lobi gedung fakultas Dina. Kampus tampak sepi, yang terbuka hanya bagian tata usaha. Toni berjalan membaca satu per satu pengumuman yang tertempel di papan pengumuman.


Ada beberapa pengumuman kuliah pengganti tapi Toni tidak tahu mana yang kelas Dina, karena jamnya bersamaan. Toni pun juga terkejut, membaca pengumuman, semester ini Dina mendapatkan beasiswa dari salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan kampusnya.

__ADS_1


Ia tahu, tak mudah mendapatkan beasiswa dari perusahaan itu, untuk mendapatkannya harus melalui seleksi yang ketat, dan Dina salah satu yang lolos dalam seleksi tersebut.


"kamu memang terbaik Din...dari dulu kemampuanmu tak pernah mengecewakan" batin Toni sambil tersenyum. Ia merasa sedih karena beberapa bulan ini ia benar-benar melewatkan semua hal tentang Dina. Ia benar-benar tak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi pada Dina.


Ia pun memutuskan duduk menunggu di tangga yang yang biasa Dina lewati ketika akan masuk ke ruang-ruang kuliahnya. Toni menunggu dengan perasaan yang tak menentu, ia takut Dina hanya membohonginya.


Satu jam ia menunggu, mahasiswa teknik mulai turun, namun tak ada Dina. Sampai terlihat sepi, ia masih menunggu, namun tak ada tanda-tanda keberadaan Dina.


Setengah jam berlalu, Toni mulai pesimis, ia pun beranjak dari duduknya. Dan ketika ia akan berjalan, terdengar suara laki-laki yang sedang berbicara dari arah atas. Ia pun menunggu, ternyata Dina sedang berbincang dengan laki-laki tersebut.


Dina tampak serius berbicara dengan orang itu, ia tak menyadari Toni berdiri di ujung tangga. Barulah setelah Dina menatap ke depan ia melihat Dina menatapnya dengan tatapan kesal.


Toni ingin membuka mulutnya, namun Dina menggelengkan kepalanya. Dina melewati Toni begitu saja dan berjalan bersama laki-laki itu menuju ke ruang dosen.


Toni geram, ia marah, Dina mengabaikannya lagi, kali ini dengan terang-terangan ia lebih membela laki-laki lain di depan dia. Toni marah, ia ingin meminta penjelasan, namun Dina menghilang masuk ke dalam ruang dosen.


Toni menunggunya di depan pintu ruang dosen, ia tak bisa lagi menahan emosinya. Ia benar-benar marah, beberapa hari ini ia mengira Dina mengabaikannya karena kesalahannya namun ternyata Dina memilih bersama cowok lain.


"kalau kamu menungguku hanya untuk marah-marah, lebih baik kamu pulang saja" ucap Dina datar kemudian berjalan meninggalkan Toni.


Toni mengepalkan tangannya, memejamkan matanya berusaha meredam emosinya. Toni mengikuti Dina kemudian mencekal tangannya.


"kenapa? Kalau marah jangan temui aku" Dina menepis tangan Toni


"aku ingin bicara" ucap Toni datar dengan sorot mata tajam, ia menarik tangan Dina membawanya ke mobilnya.


"kamu mau bicara apa?" Dina kesal


Toni menulikan telinganya, ia membawa Dina ke rumahnya. Beberapa hari ia berusaha mengerti dan meredam emosinya, tapi hari ini usahanya sia-sia, ia kembali marah melihat Dina bersama cowok lain.


Toni memarkirkan mobilnya kemudian ia mengunci pintu pagar, membawa Dina masuk ke dalam rumahnya.


"siapa cowok tadi?!" tanya Toni dingin dengam sorot mata penuh kemarahan

__ADS_1


"cowok yang mana?"


"yang bersamamu, aku lama menunggumu, tapi ternyata kamu malah asyik pacaran" ucap Toni masih dengan aura dinginnya.


Dina tergelak "Cowok tadi? Sepertinya kamu perlu pakai kacamata kuda, biar lebih fokus melihat orang" Dina masih tergelak


"apanya yang lucu? Jawab sekarang!" Toni mencoba tak membentak Dina lagi


"dia dosenku" jawab Dina santai


"aku nggak percaya!" ucap Toni ketus


"kalau nggak percaya terserah kamu, yang jelas setelah ini aku akan sering bertemu dia" Dina terkekeh


"jadi kamu membalas aku?!"


"membalas apa?" Dina bingung


"kamu berniat bertemu cowok lain di belakangku"


Dina tergelak, ia tak menyangka Toni sebodoh itu. Ia tak bisa membedakan mana dosen mana mahasiswa.


Dina memang membalas perbuatan Toni, namun bukan dengan menduakannya, ia hanya mencoba memberi waktu pada Toni untuk merenungi kesalahannya.


.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2