
Satu minggu berlalu, namun Dina belum memberikan jawaban apa-apa pada calon mertuanya itu. Dina sudah pasrah apapun keputusan orang tuanya akan ia lakukan.
Pagi-pagi, Dina sudah ditelpon Vanya untuk berangkat lebih awal karena ada rapat mendadak di perusahaan. Dina sedikit bingung biasanya rapat apapun dia orang yang lebih dulu tahu, namun kali ini kebalikannya, bosnya yang lebih dulu tahu daripada dirinya.
Dina berangkat lebih awal ke kantor untuk mempersiapkan semua keperluan rapat pagi ini. Ia hanya diberitahu akan ada rapat dewan direksi dengan pemegang saham. Entah membahas apa Dina tidak diberitahu detailnya.
Tepat pukul sepulu pagi, semua yang diundang dalam rapat itu telah hadir. Ia duduk di sebelah Vanya. Namun ada satu kursi kosong masih belum berpenghuni. Kursi itu diperuntukkan untuk calon mertuanya sebagai pemegang saham terbesar di Wijaya Group.
Tiba-tiba pintu diketuk dan seorang OB membawa satu kursi tambahan dan diletakkan di sebelah kursi milik Yanuar. Dina mengerutkan keningnya, ia tak tahu apa maksdunya menambahkan kursi tersebut.
Sepuluh menit berlalu, terdengar suara derap langkah kaki memasuki ruang rapat itu. Pintu pun terbuka, semua orang menatap ke arah pintu dan ternyata Yanuar datang namun ia datang tidak sendiri, ada Toni yang mengikutinya dari belakang.
Dina membulatkan matanya, ia merasa hari ini Tonu terlihat berbeda, memakai setelan jas formal yang jarang ia pakai saat bekerja. Yanuar pun duduk di kursi dan diikuti Toni duduk di sebelahnya.
"maaf saya sedikit terlambat" ucap Yanuar terlihat sangat berwibawa
"kita langsung saja pada intinya...." Yanuar menjeda ucapannya "sebagaimana saudara-saudara ketahui, beberapa waktu terakhir Vanya putri sulungku sementara mengisi posisi CEO di Wijaya group"
Jantung Dina berdetak lebih kencang, ia tahu kemana arah pembicaraan calon mertuanya itu. Namun ia tetap berusaha untuk tenang.
"hari ini....saya mengumumkan posisi CEO akan diduduki oleh putra saya Toni Wijaya" Toni pun berdiri dari duduknya, ia menatap Dina yang terlihat sangat kesal
__ADS_1
Semua yang hadir dalam rapat itu bertepuk tangan menyambut pengumuman tersebut. Toni pun membungkukkan badannya "saya masih baru di sini, jadi mohon kerja samanya" ucap Toni terlihat berwibawa seperti papanya.
"dan untuk membantu kelancaran tugas-tugas CEO yang baru, ia akan dibantu oleh tunangannya sebagai asistennya" ruang rapat mendadak riuh dengan suara-suara yang hadir dalam rapat itu. Mereka bertanya-tanya siapa tunangan CEO baru mereka.
Dina pun tertunduk, selama ini tak banyak yang tahu jika Dina adalah tunangan Toni. Yang mereka tahu ia hanya berteman dengan Toni.
"Dina kamu kemari..." ucap Yanuar, Dina pun berdiri dan berjalan mendekat ke arah Yanuar "perkenalkan, Dina yang kalian tahu sebagai asisten Vanya adalah tunangan Toni yang akan membantunya mengurus perusahaan ini" ucap Yanuar dengan wajah bangga.
Acara rapat perkenalan itu pun telah selesai. Yanuar meminta kedua anaknya dan juga Dina pergi ke ruangannya. Dina berjalan dengan pikiran yang campur aduk.
Ia sengaja berjalan paling belakang, sedangkan Toni berjalan bersama dengan papanya di depan. Tak ada satu patah katapun keluar dari mulit mereka hingga akhirnya mereka memasuki ruangan Yanuar.
Ruangan yang dulu ia tempati kini akan ia serahkan semuanya pada Toni. Ia tak ada alasan lagi untuk berada di kantor. Ia tetap bekerja namun dari rumah.
"kamu pasti bingung" Yanuar menatap Dina "aku sudah meminta pada kedua orang tuamu untuk mempercepat pernikahan kalian, namun mereka menolaknya, jadi...." Yanuar menjeda ucapannya menatap wajah Dina dalam-dalam terlihat jika Dina tidak begitu menyukai keputusannya ini "aku mengambil keputusan untuk memilih pilihan kedua"
"lantas kak Vanya bagaimana?" Dina menatap Vanya
"jangan kawatirkan aku, kamu tahu aku tidak terlalu suka bekerja terlalu serius, aku sudah memiliki butik dan salon kecantikan itu cukup buat aku, dan lagi....gara-gara anak satu ini...rencanaku untuk berlibur keliling Indonesia jadi tertunda" ucap Vanya kesal ketika menyebut Toni sebagai penyebab dirinya berakhir di kantor itu.
"ya sudah....kalau itu keputusan papa" ucap Dina lirih sambil tertunduk
__ADS_1
"sayang....kamu tidak suka bekerja bersamaku?" Toni mendekat ke arah Dina
"bukan begitu....aku hanya takut tidak bisa bekerja secara profesional" ucap Dina menatap Toni
"kita sudah pernah melakukannya sebelumnya, jadi aku yakin papa sudah tahu apa yang ia lakukan" ucap Toni menatap tunangannya itu
"baiklah...semua sudah jelas kan....papa mau pulang dulu..." Yanuar beranjak dari duduknya kemudian meninggalkan ruangan itu.
"aku juga....pesawatku dua jam lagi....ah...senangnya akhirnya aku bisa berlibur....terima kasih adikku sayang....karena kamu papa memberi aku hadiah berlibur sepuasnya..." Vanya mengembangkan senyumnya kemudian ia meninggalkan pasangan itu.
Dina pun beranjak dari duduknya juga "mau kemana?" Toni mencekal tangan Dina
"maaf bos....saya harus kembali bekerja" ucap Dina dingin
Toni pun hanya menghela nafasnya kemudian ia melepaskan cekalannya. Ia tahu dirinya bersalah, ia tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu emosi Dina mereda.
Dina berjalan keluar meninggalkan Toni yang menatap nanar punggung Dina. Ia mengusap wajahnya kasar, karena ia membiarkan ulat bulu yang akan menempel padanya, hubungannya dengan Dina kembali renggang padahal pernikahan mereka tinggal tiga bulan lagi.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g