
Siang harinya Dina diantar papanya ke alun-alun kota untuk mengikuti upacara penurunan bendera. Papa Dina tidak mengijinkan Dina membawa motor sendiri karena kemungkinan Dina pulang sore menjelang malam.
Sesampainya di alun-alun Dina tidak bergabung dengan teman-teman sekelasnya. Ia sengaja menghindari Toni. Dina bergabung dengan teman-teman yang rumahnya berdekatan dengan rumah Dina yang kebetulan juga mengikuti upacara penurunan bendera.
Dina baru bergabung dengan teman sekelasnya ketika upacara akan dimulai.
"aku kira kamu tidak datang" ucap Rani yang terlihat lega melihat Dina berdiri di belakangnya
"mana mungkin...nanti absensiku kosong" Dina terkekeh
"dari tadi Toni panik...mencari-cari kamu" Rani melirik ke arah Toni yang sedang menatap Dina dari belakang dengan tatapan yang sulit diartikan
Dina hanya menanggapi dengan senyuman. Ia sedang malas berdebat. Biarkan emosi Toni mereda baru ia mau berbicara dengan Toni.
Upacara penurunan bendera telah selesai. Dina bergegas pulang. Ia berjalan membaur dengan para siswa dari sekolah lain. Toni tidak bisa mengejar Dina karena terhalang banyak orang.
Toni merasakan penyesalan yang luar biasa. Ia tidak bisa mengedalikan emosinya. Hanya masalah sepele ia membentak Dina. Toni pulang dengan langkah gontai. Ia mengabaikan semua teman-temannya. Yang ia inginkan hanya Dina.
.
Keesokan harinya, Dina berangkat sekolah diantar oleh papanya. Dina sedang malas mengendarai motornya. Pikiran Dina masih tertuju pada Toni yang membentaknya.
Dina sampai disekolah tepat saat bel masuk berbunyi. Ia berjalan menyusuri lorong kelas tiga dengan langkah santai.
"eh...Dina... Baru datang?" sapa seseorang mensejajari langkah Dina
"eh...kak Yudha...iya kak..." jawab Dina dengan senyum ramahnya
"aku masuk kelas dulu ya..." Yudha berbelok ke kelas IPA
Dina masuk kelas sesaat sebelum guru sejarah masuk ke kelas. Dina masuk kelas dengan wajah tak berdosanya menatap Rani yang terlihat lega menatapnya.
"kamu ini membuat aku kawatir saja" ucap Rani dengan nada kesalnya
"kenapa? Kangen ya?" Dina terkekeh
"aku pusing menghadapi pacarmu!" ucap Rani kesal
Dina meletakkan tasnya dan mulai menegeluarkan buku pelajaran tanpa sedikitpun menoleh ke arah Toni. Dina sudah tidak marah, hanya saja ia merasa kesal kepada Toni.
Tiga jam pelajaran berlalu, bel istirahat pertama berbunyi. Dina membereskan buku-bukunya. Tanpa kata-kata Toni menarik tangan Dina dan menariknya keluar kelas.
Dina diam, ia mengikuti Toni yang membawanya ke rumahnya. Toni membuka pintu rumahnya dan menarik Dina masuk. Kemudian ia mendorong Dina duduk di kursi ruang tamu.
__ADS_1
Dina diam tidak sepatah katapun yang keluaar dari mulutnya. Ia menunggu Toni yang mengukung tubuhnya berbicara. Dengan sorot mata tajam Toni menatap Dina.
"kenapa kamu mengabaikan aku?" akhirnya Toni membuka mulutnya Dina diam tak menjawab
"jawab Dina!" Toni kembali membentak Dina
"selama kamu masih emosi aku tidak akan mau berbicara denganmu" jawab Dina datar
Toni mengusap wajahnya kasar, ia kemudian bersimpuh di hadapan Dina. Toni meletakkan kepalanya di pangkuan Dina.
"jawab Din..."
"aku tidak mengabaikan kamu, aku sudah menjawabnya kemarin, kamu sendiri yang masih emosi tidak mau mendengar apa yang aku katakan, buat apa aku menjelaskan kalau kamu tidak akan pernah mendengarkan"
"aku yang harusnya marah padamu, kamu membentakku sementara aku tidak tahu apa salahku"
"Sekarang tunjukkan dimana letak kesalahanku!"
Dina berusaha tetap tenang, meski ia mulai tersulut emosinya. Dina tidak mau hanya karena masalah sepele dirinya dan Toni berakhir begitu saja.
"kamu tidak salah Din...aku yang salah... " Toni terisak "aku terlalu kawatir"
Dina tersenyum, kemudian ia membelai kepala Toni
Toni menengadahkan kepalanya menatap Dina "mbok Nah tidak ada, dia hari ini pulang ke rumah anaknya, makanya aku membawamu ke rumah"
"jangan diulangi lagi... Jaga emosi kamu" ucap Dina lembut. Toni menyadari apa yang Roy katakan tentang Dina benar adanya. Dina pandai menguasai dirinya. Ia tidak akan marah tanpa sebab.
Dina menarik tangan Toni "duduk di sebelahku, jangan di bawah, aku bukan siapa-siapa kamu yang harus duduk lebih tinggi dari kamu"
Toni menurut, ia benar-benar malu dan menyesal memperlakukan Dina kasar. Tapi Dina membalasnya dengan kelembutan.
"Princess sayang...maafkan aku ya..." ucap Toni mengiba menggenggam tangan Dina
Dina hanya tersenyum "kita baru satu hari berpacaran sudah marahan seperti ini" Dina terkekeh
"iya maaf ya..." Toni menarik tubuh Dina dan mendekapnya erat. Dina menganggukkan kepalanya. Kini ia tahu letak kekurangan Toni. Toni mudah tersulut emosinya.
"sudah...ayo kembali ke sekolah, sebentar lagi bel masuk" ucap Dina masih dalam dekapan Toni
"sebentar..." Toni melepaskan dekapannya dan berjalan naik ke lantai dua. Tak lama Toni turun lagi
"ini buat kamu" Toni memberikan sekotak coklat favorit Dina.
__ADS_1
"meski marah masih ingat beli coklat ya..." Dina mencebik
"aku tidak marah, hanya kawatir...kawatir kamu kenapa-kenapa di jalan, kawatir kamu sakit..." kilah Toni
"iya...iya..." Dina mencebik
"Ayo kembali ke kelas, nanti istirahat kedua makan di sini saja ya..." ucap Toni lembut menggandeng tangan Dina
"katanya mbok Nah sedang pergi...lantas siapa yang memasak?" Dina mencibir
"ada aku..." Toni menebah dadanya percaya diri "kamu hari ini bawa motor?"
"tidak...aku sedang malas" jawab Dina
"nanti pulang aku antar, jangan menolak!"
"iya...iya..." jawab Dina dengan senyum mengembang di bibirnya
Mereka berdua berjalan bergandengan kembali ke sekolah. Mereka tampak mesra dan serasi. Bahkan beberapa teman-teman mereka mengatakan mereka memiliki kemiripan wajah dan menyebut mereka memang berjodoh.
"Roy, kamu duduk dengan Rani ya..." ucap Toni dengan senyum bahagianya
"sudah rukun?" Roy menatap mereka datar
Dina tahu arti tatapan Roy, tapi ia juga tidak bisa merubah semuanya. Sejak terakhir Roy mengutarakan perasaannya pada Dina, ia tak lagi mengungkit perasaannya kembali pada Dina.
Dina pernah berharap Roy akan mengulanginya lagi, tapi sepertinya Roy tidak memiliki keberanian itu. Dina mengubur dalam-dalam perasaannya sampai ia bertemu Toni, cowok yang mampu menggetarkan hatinya kembali.
Menumbuhkan perasaan yang telah lama ia buang jauh-jauh karena ia lebih fokus belajar. Dengan Toni apa yang ia inginkan terwujud, mendapatkan cowok yang terlihat sempurna di matanya.
Roy mengalah, ia berpindah tempat duduknya di kursi Dina semeja dengan Rani cewek yang ia tidak begitu suka perilakunya. Terkadang ia merasa risih dengan Rani karena terlalu berlebihan.
Tapi demi kebahagiaan Dina ia rela berkorban. Ia mengesampingkan rasa tidak sukanya terhadap Rani.
.
.
B e r s a m b u n g
Dukung terus karya ini ya bestie
Please vote, like dan komennya ya terima kasih sekebon bestie
__ADS_1