Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 108 Berkat Tere


__ADS_3

Dina mendengarkan apa yang diucapkan Tere. Ia bimbang, yang diucapkan Tere ada benarnya. Beberapa bulan terakhir Toni memang menunjukkan keseriusannya.


Ia pun juga tak pernah bertemu Dendy di kampus, ia hanya sesekali melihat motor Dendy terparkir di tempat parkir tapi tak pernah melihatnya bayangannya pun tidak.


Tere juga benar, hampir semua kriteria yang ia inginkan ada pada diri Toni. Ada satu yang membuat Dina merasa risih ketika berada dekat Toni yaitu pengakuannya tentang kisahnya bersama Andini. Itu membuat Dina merasa ia belum benar-benar mengenal siapa Toni.


"sekarang aku tanya, jawab jujur!"


"apa kak?"


"apakah tidak ada sedikit saja rasa cinta di hatimu untuk Toni?"


Dina termenung, ia bingung dengan apa yang ia sekarang rasakan. Ia selalu fokus apa yang ada dalam pikirannya bukan apa yang ia rasakan.


"ayo jawab Din... Kok malah melamun!" Tere kesal


"aku enggak tahu kak..." Dina menggelengkan kepalanya


"enggak tahu kamu bilang?! Enggak tahu apa memang kamu menyangkal apa yang kamu rasakan!"


Dina kembali terdiam, mencoba meyakinkan dirinya lagi, bahwa apa yang ia rasakan itu memang benar-benar rasa tertarik pada Toni.


"jujur kak...aku mulai nyaman, dan terkadang rasanya ingin mengulang apa yang dulu kami jalani, tapi...."


"tapi apa Din....! Kamu jangan lama-lama berpikirnya!" Tere semakin tidak tahu jalan pikiran Dina


"aku masih takut kak..."


"kamu takut itu wajar, berilah ia kesempatan sekali lagi...buktikan apa yang selama ini kamu pikirkan, apa yang kamu rasakan, jika memang apa yang kamu pikirkan itu benar pergilah tinggalkan dia..." ucap Tere.


"iya kak...aku akan memberikannya kesempatan lagi" ucap Dina lirih


"setiap hubungak itu pasti ada masalah Din...dulu mungkin kalian masih terlalu muda, jadi emosi kalian yang lebih dominan" ucap Tere


"kayak kamu udah pernah pacaran aja kak..." Dina mencibir


Tere terkekeh "aku cuma pinter teorinya saja, tapi disuruh praktek nggak berani, mungkin setelah lulus nanti baru aku praktekkan"


"lalu kapan kamu lulus?"


"doakan semester ini terakhir aku jadi mahasiswa"


"pasti...tapi kalau kakak lulus aku sama siapa" ucap Dina lirih

__ADS_1


"sama Toni lah..." Tere tergelak


"jangan-jangan kakak bersekongkol dengannya....hayo ngaku aja...."


Tere menahan ketawanya "aku kasihan Din...dia berulangkali meminta tolong padaku masak aku tolak"


"kapan dia ketemu kamu kak?"


"yang sering mentraktir kita makan itu dia Din...siapa lagi?" Tere tergelak


"aku kira temen kakak sedang baik hati..." Dina mengerucutkan bibirnya


"dia itu cuma ingin memastikan kamu makan dengan benar Din...jika ia tanya kamu sudah makan atau belum pasti kamu tak akan menjawabnya makanya dia tanya aku, kalau kamu belum makan pasti dia mengirim makanan" terang Tere


"kenapa kakak enggak bilang...kakak ini jahat...!" Dina mencebik


"sudahlah Din....kamu juga ikut makan jadi enggak usah protes"


"ya sudah...aku mau tidur...ngantuk capek..." Dina keluar dari kamar Tere dan masuk ke kamarnya.


Dina memejamkan matanya, namun tak kunjung bisa tertidur. Pikirannya melayang mengingat semua yang ia alami beberapa bulan terakhir.


Dan terlebih hari ini, Toni bernyanyi untuknya meluapkan semua yang ia rasakan, Dina merasakannya Toni sudah dalam titik ingin menyerah padanya, tapi ia tak ingin menunjukkannya pada dirinya.


.


"jadi bagaimana?"


"oh...baiklah...terima kasih ya...minggu depan ulang tahun Dina, aku akan merayakannya, sekaligus ada acara di perusahaanku, kamu jangan bocorkan rencanaku padanya ya..."


Toni berbicara di telepon, setelah memastikan semuanya ia meletakkan ponselnya. Senyumnya mengembang, ia merasa bahagia apa yang selama ini ia inginkan mulai terwujud.


Akhirnya Toni bisa merasa tenang, beberapa bulan ia merasa cemas Dina tak membalas cintanya, segala usahanya mendekati Dina, merebut hatinya kembali akan sia-sia.


Toni tidak seperti pacar-pacar Dina terdahulu, ia memang posesif namun ia berusaha percaya pada Dina. Ia sudah lama mengenal Dina, ia tahu Dina hanya butuh kepercayaan bukan fasilitas.


.


Seperti biasa ketika ada waktu luang Toni menjemput Dina untuk kuliah. Kebetulan ia kuliah siang Dina juga kuliah siang, Toni menjemput Dina di kosnya. Tak seperti biasa Dina lebih ceria dan ia juga tak lagi banyak diam. Toni bahagia, Dina yang ceria yang perhatian telah kembali lagi


"Din...nanti kamu pulang sendiri ya...nggak apa-apa kan?" tanya Toni lembut


"iya...aku bisa jalan kaki pulangnya..." ucap Dina sedikit kecewa.

__ADS_1


"enggak apa-apa kan? Aku ada perlu besok minggu ada acara perusahaan, aku harus mengurus keperluan acara itu"


"iya enggak apa-apa" Dina sedikit kecewa karena hari minggu bertepatan hari ulang tahunnya, ia pikir Toni akan melupakannya.


Mereka berdua berpisah di parkiran mobil. Toni masuk ke ruang kuliahnya sedangkan Dina berjalan ke bagian belakang gedung untuk menyerahkan laporan praktikumnya.


Dina merasa kecewa, ia berniat membuka hatinya pada Toni namun semua di luar keinginannya. Ia merasa diabaikan dan juga merasa Toni tidak serius dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya.


Di depan laboratorium ia bertemu dengan Bimo, ia merasa benar-benar hari yang sial baginya. Ia sudah berusaha menghindar dari Bimo namun ia tetap masih bertemu dengan Bimo


"kamu diantar siapa?" tanya Bimo terlihat marah


"bukan urusan mas..." jawab Dina acuh


"itu urusanku Din...!"


"mas...kita sudah putus, jadi jangan memaksakan apa yang mas inginkan padaku, mas sendiri sudah berjanji tidak akan mengganggu aku lagi"


"tapi Din...aku hanya ingin kamu baik-baik saja...."


"aku baik-baik saja mas...jadi tolong mas jangan campuri lagi hidupku, urusa saja skripsi mas, bukankah mamanya mas Bimo ingin mas segera lulus?"


Bimo tak lagi bisa berkata-kata, apa yang Dina ucapkan memang benar, ia sudah berjanji untuk tidak mengganggu Dina lagi kecuali urusan kuliah.


Dina meninggalkan laboratorium dan naik ke ruang kuliahnya. Saat ia menaiki tangga, sekilas ia melihat Dendy sedang duduk-duduk di depan ruang kuliah anak ekonomi.


Dina kembali menengok ke arah tadi ia melihatnya, namun ternyata ia salah, tak ada Dendy di sana.


"kenapa berhenti Din...?" ucap Caca


"aku seperti melihat Dendy Ca..." ucap Dina


Caca melihat ke arah kerumunan mahasiswa ekonomi, dan ia melihat memang ada Dendy di sana dan menatap ke arahnya sambil menggelengkan kepalanya.


Caca tahu Dina masih mengharapkan Dendy, sedangkan Dendy berusaha menghindari Dina. Caca tidak tahu apa maksud Dendy, ia hanya ingin Dina bahagia dan ingin Dina melupakan Dendy.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2