
Seminggu berlalu, Dina sudah pulih kembali, Toni juga sibuk karena ada masalah di perusahaannya. Minggu terakhir Dina magang, ia habiskan di dalam kos saja.
Toni ikut campur dalam masalah magang Dina, melihat Dina yang terlihat masih pucat ia berinisiatif meminta pada om Ferdi untuk memberikan Dina kelonggaran untuk menyelesaikan magangnya.
Bagian HRD pun telah memberikan surat keterangan jika Dina telah melakukan magang di perusahaan itu. Pembimbingnya pun sudah memberikan penilaian pada Dina padahal laporannya belum ia serahkan pada pembimbing lapangannya.
Dina kesal dengan Toni, tapi ia juga menyadari ia pulih lebih lama dari biasanya. Setiap berdiri sedikit lama Dina masih merasa pusing, itu membuat dia menerima bantuan Toni. Ia tidak mau menjadi beban di tempat ia magang.
Hari kamis sore, Toni mendatangi kos Dina. Ia berharap Dina mau menerima ajakannya minggu lalu. Pukul empat lebih dua puluh lima menit Toni sudah sampai di kos Dina.
Toni langsung naik ke lantai dua karena Tere yang kebetulan membukakan pintu untuknya. Toni mengetuk pintu kamar Dina yang kebetulan ia masih tidur siang.
Dina merasa terganggu dengan suara ketukan pintu kamarnya. Ia pun membukakan pintu dan merasa kesal karena Toni yang mengganggu tidur siangnya.
"mau apa jam segini ke sini" ucap Dina ketus sambil berjalan masuk lagi ke kamarnya.
"hanya memeriksa keadaanmu saja, hampir satu minggu aku sibuk dengan pekerjaanku sampai tak sempat menemui kamu" ucap Toni ikut masuk ke kamar Dina
"aku baik-baik saja....berkat kamu, aku menyelesaikan magangku lebih awal daripada teman-temanku" Dina kesal
Toni menghela nafasnya "aku hanya membantumu Din, aku tidak tega melihatmu masih lemah harus pulang pergi ke sana" ucap Toni lembut
"iya...terima kasih" ucap Dina sedikit ketus
"jadi bagaimana....sabtu kamu mau menemaniku?" ucap Toni dengan tatapan penuh harap
"kenapa aku? Masih banyak cewek yang pasti mau kamu ajak pergi Ton..." jawab Dina acuh
"ayolah Din...aku ingin pergi denganmu, sudah lama enggak pergi denganmu..." rayu Toni
"memangnya acaranya bagaimana? Lagipula itu teman-teman sekampusmu aku tidak mengenal mereka, pasti aku akan jadi bahan tertawaan" Dina mengerucutkan bibirnya
"hanya acara makan-makan, terus ada penampilan band-band gitu Din..." terang Toni dengan mata berbinar "ayolah Din...kumohon...temani aku ya..."
"baiklah....anggap saja ucapan terima kasihku padamu karena sudah merawat aku ketika sakit" Dina tidak tega melihat Toni yang terlihat memohon padanya.
"yesss....aku jemput di rumah jam lima ya..." ucap Toni bersemangat
"kenapa di rumah jemputnya?"
"memangnya aku harus jemput dimana, bukankah akhir minggu kamu pulang?"
__ADS_1
"kamu itu lupa apa pura-pura lupa...kalau kamu jemput aku di rumah sudah pasti jam tujuh sudah pulang lagi" Dina kesal
"lantas aku harus bagaimana?" Toni bingung
"jemput aku di sini...pulang juga antar aku ke sini"
Toni terlihat berpikir, banyak hal yang harus ia persiapkan untuk acara perpisahan itu. Ia juga harus berlatih bersama teman satu band nya karena ia harus mengisi acara di pesta itu.
"baiklah....aku jemput lebih awal enggak apa-apa kan? Soalnya aku banyak yang harus aku persiapkan untuk acara itu" ucap Toni
"terserah kamu, kabari saja jam berapa kamu jemput aku" jawab Dina datar
Setelah mendapat jawaban dari Dina, Toni pulang ia beralasan ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Padahal karena permintaan Dina, ia harus pulang ke kota K malam ini juga.
.
Hari sabtu yang dijanjikan Toni menjemput Dina pukul lima sore. Dina sudah bersiap, ia berdandan tak seperti biasanya. Ia memakai dress selutut bermotif bunga-bunga kecil, membiarkan rabutnya tergerai dan memaki make up tipis namu terlihat manis.
Toni terkesima melihat penampilan Dina yang begitu cantik. Baru kali ini ia melihat Dina berdandan selayaknya cewek seumuran dia. Biasanya Dina memakai baju casual, kaos dan celana jeans bahkan kadang sisi tomboynya yang ia tampilkan.
Toni tak berkedip menatap Dina yang terlihat cantik, manis, memakai make up namun tak berlebihan.
"ah...enggak...enggak....kamu cantik sekali, baru kali ini aku melihatmu berdandan seperti ini"
"aku enggak mau dianggap pembantumu, kamu itu cowok rapi kalau aku memakai baju biasa keliatan enggak nyambung sama penampilan kamu" ucap Dina sambil naik ke mobil Toni.
"kamu benar-benar cantik Din..." ucap Toni menatap penuh damba
"sudah...enggak usah gombal...enggak mempan..." ucap Dina dengan nada kesal
Toni melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi agar tidak terlambat. Dina hanya diam ia tidak mau mengomentari cara menyetir Toni yang menurutnya sedikit ugal-ugalan.
Satu setengah jam mereka telah sampai di tempat acara. Restoran milik teman Toni sudah ramai dipenuhi oleh tamu undangan. Toni tak sadar menggandeng Dina masuk ke dalam restoran itu.
"Ton...lepaskan tanganku, dari tadi semua memperhatikan kita..." bisik Dina
"eh...maaf...maaf Din...aku enggak sadar" ucap Toni pelan sambil melepaskan genggamannya
"cewek-cewek menatapku seperti aku ini musuh mereka..." ucap Dina lirih
"sudah abaikan saja...." ucap Toni santai sambil berjalan ke arah segerombolan cowok-cowok memakai baju senada dengan Toni
__ADS_1
"pacar baru Ton?" ucap salah satu dari mereka. Toni tak menjawab, ia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada teman-temannya
"Din...kenalkan...ini teman-temab satu bandku..." ucap Toni memperkenalkan kepada teman-temannya
"itu Ardi, Joy, dan Boni" ucap Toni sambil menunjuk satu persatu teman-temannya. Dina mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya pada teman-teman Toni
"pacar?" tanya Ardi
Dina langsung menyahut "teman..."
"berarti boleh buat aku donk...." ucap Boni sambil menggoda Dina
"enak saja...kalian ini....!" ucap Toni ketus
"itu Jesica kesini Ton...." ucap Joy
"akhirnya kamu datang juga....aku kira kamu enggak akan mau datang" ucap Cewek yang bernama Jesica sambil bergelayut di lengan Toni.
Toni hanya diam, perlahan ia menyingkirkan tangan Jesica dari lengannya. Toni kesal, saat ia mengajak Dina, Jesica dengan tak punya malu datang menggodanya.
Sudah berkali-kali Toni menolak Jesica, karena ia sama seperti Andini, hanya saja Jesica tidak tahu latar belakang Toni yang anak pengusaha ternama di kotanya.
Hanya teman-teman terdekatnya yang tahu siapaa Toni yang sebenarnya, dan mereka pun juga sepakat untuk menyembunyikan identitas Toni.
Toni tak ingin membanggakan siapa dirinya. Ia tak mau teman-temannya dekat dengannya hanya karena latar belakang dirinya.
Selain itu, Toni ke kampus hanya untuk kuliah, jarang ikut kegiatan di kampusnya. Hanya jika ada pertandingan basket ia baru akan ikut, selain itu kalau ada pentas yang melibatkan bandnya ia datang.
Toni menjadi sosok misterius, ia cowok yang tertutup, tak pernah ramah apalagi kepada cewek. Ia selalu bermuka datar dan jarang tertawa, hanya dengan teman-teman dekatnyalah ia bisa sedikit santai.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Jangan lupa ritualnya ya bestie, like komen dan votenya ya
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1