Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 231 Lebih wangi lebih menggigit


__ADS_3

Menjelang hari pernikahan, Toni dan Dina benar-benar sibuk. Memastikan semua persiapan telah selesai dan juga memastikan tak ada pekerjaan yang tertunda jika mereka cuti besok.


Toni melihat belum ada tanda-tanda bahwa Dina hamil, padahal di sela-sela kesibukannya ia selalu menyempatkan untuk menyemburkan benih-benihnya di rahim Dina.


Dina sering merengek agar tidak menyentuhnya sebelum hari pernikahan mereka namun Toni selalu punya seribu macam cara untuk meluluhkan Dina.


Ia terus berusaha memacu dirinya agar Dina cepat hamil, namun ia tak mengatakannya pada Dina, jika ia katakan ia takut Dina tersinggung. Biarlah ia melakukan dengan caranya pikirnya.


Hari pernikahan semakin dekat, tinggal menghitung hari. Semua persiapan telah selesai. Toni pun juga telah mempersiapkan kado pernikahan untuk Dina dan juga bulan madu untuk mereka berdua.


"Hari pernikahan kalian tinggal tiga hari lagi, mulai besok kalian tidak perlu ke kantor, biar aku dan Pak Eko yang mengurus perusahaan, ambilah cuti selama yang kalian mau" ucap Yanuar ketika mengunjungi perusahaan


"tapi pa..." protes Dina


"baik pa...mungkin dua atau tiga minggu kami akan cuti" ucap Toni dengan binar bahagia di matanya


"apa?!" Dina terkejut


"papa sudah mempersiapkan bulan madu untuk kalian, nikmati saja Din...ambilah waktu sebanyak mungkin untuk diri kalian, setelah itu kalian harus bekerja keras lagi mengurus perusahaan ini, papa tidak bisa mengandalkan Vanya karena ia benar-benar tidak mau mengurusi perusahaan ini"


"baiklah pa...." ucap Dina lirih


"Lanjutkan pekerjaan kalian, papa tak akan mengganggu lagi. Papa mau pulang dulu" ucap Tuan Yanuar kemudian meninggalkan ruangan Toni


Toni dan Dina sama-sama memerika semua dokumen memastikan tak ada masalah sebelum mereka mengambil cuti. Toni bangga, Dina benar-benar bisa diandalkan, kejeliannya memang pantas diakui.


Toni hanya duduk memandangi Dina yang tampak serius bekerja. Terlintas ide jahil di kepalanya. Ia ingin menggoda Dina.


Ia berjalan ke belakang Dina duduk kemudian membelai leher Dina, Dina mulai kehelian dan menepis tangan Toni. Toni melakukannya lagi, Dina menepisnya kembali.


"kalau kamu ulangi lagi...besok senin aku masuk kerja lagi" ucap Dina ketus


"yah...kok begitu sih sayang....? Terus kapan kita bulan madunya?" rengek Toni


"bukannya selama ini, kita sudah mencicilnya" terlihat seringa di wajah Dina

__ADS_1


"kan beda....meskipun yang dilakukan sama" Toni tersenyum jahil


Dina meletakkan penanya "baiklah....berarti hari senin aku masuk kerja..." Dina beranjak dari duduknya


"lhoh sayang...jangan begitu dong...." Toni menegejar Dina


"pekerjaanmu masih banyak" tunjuk Dina dengan dagunya ke arah dokumen-dokumen yang tadi ia baca "tolong selsaikan, aku mau pulang dulu...sudah ditunggu seseorang di rumah" ucap Dina keluar dari ruangan Toni


"siapa sayang?" teriak Toni


"rahasia!" Dina tertawa lepas kemudian ia kembali ke ruangannya mengambil tasnya.


Hari ini jadwal Dina melakukan perawatan tubuh menjelang hari pernikahannya. Ia mendatangi salon kecantikan milik Vanya, karena Vanya yang memintanya.


Calon kakak iparnya itu begitu antusias ingin membuat Dina semakin cantik di hari pernikahannya. Sebulan terakhir Dina sudah sering mendatangi salon milik Vanya tanpa sepengetahuan Toni, dan kali ini adalah rangkaian terakhir dari perawatannya.


"besok sebelum hari pernikahan kalian, salah satu pegawaiku akan ke rumahmu" ucap Vanya duduk di sebelah Dina yang sedang melakukan perawatan


"untuk apa kak?"


"katanya ini yang terakhir" Dina mengerucutkan bibirnya


"iya...benar...sedang besok itu, perawatan agar milikmu lebih wangi dan lebih menggigit" tawa Vanya semakin kencang "agar adikku semakin tak bisa jauh dari kamu"


Pipi Dina memerah seketika, ia malu Vanya menyebut itu di depan karyawannya.


"sudahlah...jangan malu...aku tahu kamu pasti pernah melakukannya dengan bocah tengil itu" Vanya tergelak


"kakak....!" Dina menahan malu


"benar kan dugaanku? Bagaimana, dia bisa membuatmu puas nggak?"


"kenapa kakak bertanya seperti itu?" Dina benar-benar malu


"sejak dia kembali lagi bersama kamu, aku lihat dia semakin rajin olahraga, jadi aku tahu apa maksud dan tujuan dia melakukannya" Vanya tertawa kecil. Ia begitu senang menggoda Dina, yang terlihat polos namun dalam benaknya ia tahu jika Dina dan Toni sudah pernah melakukannya mengingat adiknya itu sering menggoda dirinya ketika berganti-ganti pacar.

__ADS_1


Tak mungkin adik laki-lakinya itu bisa sebegitu vulgar jika tak pernah melakukannya. Mereka berdua memang sering kali terlihat tidak akur, namun mereka berdua sangat dekat. Perdebatan-perdebatan konyol itulah yang membuat mereka semakin dekat.


"setelah pulang dari sini, jangan temui Toni lagi sebelum hari pernikahan kalian" ucap Vanya


"memangnya kenapa kak?" Dina mengerutkan keningnya


"biar nggak percuma kamu melakukan perawatan" ucap Vanya sedikit kesal.


"oh...begitu"


"aduh Dina....susah-susah aku memberikan perawatan lengkap untuk kamu itu agar kamu tampil semakin cantik di hari pernikahan kamu" Vanya gemas dengan calon adik iparnya itu.


Ia pikir Dina itu pintar dalam segala hal, namun untuk masalah penampilan ternyata Dina harus ia ajari. Pertama kali ia bertemu Dina penampilannya biasa-biasa saja kenapa adiknya itu bisa begitu tergila-gila oleh gadis biasa saja.


Setelah berjam-jam melakukan perawatan di salon milik Vanya. Dina melakukan fitting terakhir pada gaun yang akan ia pakai besok.


"padahal aku sudahmelebihi beberapa senti, tapi ternyata pas sekali di badan kamu, kamu gemukan ya Din?" tanya Vanya sambil membenarkan gaun yang dipakai Dina


"apa iya sih kak...aku merasa biasa saja"ucap Dina sambil menatap dirinya di cermin


"sepertinya sih..." ucap Vanya ragu ketika melihat bentuk tubuh Dina tak seramping waktu pertama kali mencoba gaun buatannya. Hanya beberapa bagian yang terlihat lebih berisi, Vanya curiga jika Dina sedang hamil.


"dasar bocah nakal....udah dipesenin jangan dihamili dulu ini malah seperti udah dipompa berkali-kali" gerutu Vanya dalam hati.


Ia sudah pernah memperingatkan adiknya itu agar tak sembrono. Misal ia tak bisa menahan, setidaknya jangan buat Dina hamil dulu. Tapi sepertinya adiknya itu punya cara lain ahar mempercapat pernikahan mereka.


Mereka bertiga pernah berdebat masalah pernikahan Toni dan Dina. Vanya yang memang suka kebebasan ia menyarankan jangan buru-buru menikah, bukan tanpa alasa Vanya mengatakannya, ia kadang melihat dirinya di dalam diri Dina. Namun Toni tetap ingin mempercepat pernikahan mereka. Bahkan jika Dina menolak, ia akan memaksa agar Dina mau. Dan papanya mendukung apa yang Toni inginkan. Akhirnya Vanya menyerah karena kalah suara.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2