Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 91 Rencana liburan


__ADS_3

Selama satu minggu, Toni mengantar dan menjemput Dina sesuai janjinya. Mereka berdua semakin akrab dan dekat. Bagi Dina kedekatan mereka biasa saja karena Dina juga masih dekat dengan Widi ataupun Roy.


Dina masih dekat dan bersahabat dengan Widi, namun tak semua tahu jika mereka tetap dekat selama ini. Di kala Dina sedih dan terpuruk selalu ada Widi yang setia menemaninya kemanapun yang Dina inginkan. Tapi Widi tak pernah menyatakan perasaannya secara langsung.


Dina tetap menganggap Widi sahabatnya, alasannya sama dengan Roy, ia tak mau kehilangan persahabatan jika kelak mereka ada masalah. Semua masalah Dina Widi tau, tapi ia tak bisa membantu seperti yang ia lakukan dulu, hanya menemaninya di saat terpuruk itulah Widi.


Bagi Toni kedekatan mereka kini adalah sebuah harapan. Sebuah awal dari hubungan yang ia inginkan selama ini. Setelah satu minggu mereka sering pergi bersama Toni merasa yakin dengan perasaannya.


Toni yakin, tak ada yang berubah dalam diri Dina. Dina sekarang semakin dewasa, semaki bisa membawa dirinya, semakin menjadi pribadi yang Toni idam-idamkan.


Meski Toni sudah yakin, namun Toni melihat Dina masih belum mau terbuka tentang dirinya. Dina belum mau menceritakan apa yang ia rasakan apa yang ia inginkan.


Itu membuat Toni menunda untuk menyatakan cintanya kembali. Toni ingin melakukan pendekatan lebih lama lagi, ia tak mau peristiwa di masa lalu terulang lagi. Ia ingin Dina benar-benar menerimanya bukan karena terpaksa atau hanya sebagai pelarian, ia ingin Dina menerimanya karena memang mencintainya.


"Din...kamu kamu pulang ke rumah kapan?" tanya Toni lembut sambil mengemudikan mobilnya


Dina terkekeh "aku sudah lama jarang pulang Ton....dulu biasanya seminggu sekali pulang, namun sekarang paling cepat dua minggu sekali" jawab Dina sambil menatap jalanan di depannya yang terlihat begitu padat.


"kenapa?" Toni menoleh ke arah Dina dengan tatapan heran


"tidak ada alasan untukku sering pulang" Dina tersenyum kecut mengingat pengorbanannya yang sia-sia


"bukankah keluargamu ada di sana?"


"dulu aku berkorban setiap minggu pulang, meski sakit, tugas menumpuk aku selalu berusaha pulang demi seseorang, namun sekarang tak ada lagi" Dina tersenyum getir mengingat semuanya


"memangnya siapa?" Toni kembali menoleh ke arah Dina, ia sebenarnya tahu jawabannya hanya ingin memastikan saja.


"sudahlah tak perlu dibahas" Dina memaksakan kembali ceria dan mengembangkan senyumnya menatap Toni


Toni tahu, Dina memaksakan senyumnya, ada kesedihan dalam sorot mata Dina. Toni tersenyum lembut, ia kini menyadari Dina selama ini Dina hanya pura-pura bahagia, pura-pura ceria di hadapannya. Dalam hatinya masih menyimpan kekecewaan yang begitu besar.


"baiklah.....besok hari sabtu, kamu libur kan? Kita jalan-jalan kamu mau nggak?"


"jalan-jalan kemana?" Dina menoleh menatap Toni "bukannya kamu harus pulang ke kota K?"


"besok akhir pekan, percuma aku pulang, toh dosennya juga libur" Toni terkekeh "terserah kamu, pilih kita ke pantai atau ke gunung?"

__ADS_1


"hmmm....kemana ya....pilihan yang sulit" Dina mengetuk-ngetuk dagunya dengan jarinya


"ke pantai saja bagaimana? Kebetulan rekan bisnisku menawariku menginap di resortnya di tepi pantai"


"menginap?" Dina mengerutkan keningnya menatap Toni


"iya....kenapa?" Toni menoleh ke arah Dina dengan perasaan cemas


"aku enggak percaya kamu kalau kita menginap berdua" jawab Dina dengan nada datar


"kamu tenang saja, kalau kamu takut kita bisa menginap di dua kamar berbeda, tapi kalau kamu mau kita bisa satu kamar" Toni teesenyum di akhir ucapannya


Dina menghela nafasnya, ia berpikir sejenak. Sejak perpisahannya dengan Bimo ia belum pernah lagi pergi untuk melepaskan penatnya. Teman-temannya sering menasehati dirinya untuk ikut acara-acara himpunan mahasiswa sekedar untuk mengalihkan perhatiannya, namun tak pernah Dina dengarkan.


Lama berpikir, Dina menyadari mungkin inilah saatnya ia melepaskan semuanya, menikmati waktu luangnya ke pantai, tempat yang sudah lama sekali tak pernah ia datangi.


"baiklah....besok kita pergi" ucap Dina lirih


Toni menoleh ke arah Dina "serius?"


"iya..."


"tapi Ton...."


"kenapa? Kamu berubah pikiran?"


"bukan...tapi ini bukan jalan ke kosku, harusnya kamu belok kanan tadi kenapa sekarang belok kiri?" Dina kebingungan


"mampir ke rumahku sebentar ya....ada sesuatu yang perlu aku kerjakan" ucap Toni dengan senyum mengembang


Dina hanya bisa menghela nafasnya, keinginannya untuk segera beristirahat ternyata harus ia tunda.


Lima menit kemudian mereka telah sampai di rumah Toni. Rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat mewah karena berada di komplek yang terbilang elit di kota J.


"ini rumah kamu atau papa kamu?" Dina menatap sekeliling


"ini rumahku....hasil kerja kerasku selama ini...." Toni mematikan mesin mobilnya kemudian turun, Dina pun ikut turun dan mengikuti Toni masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"anggap rumah sendiri ya Din..." Toni berjalan masuk ke dalam kemudian keluar lagi bersama seorang wanita paruh baya.


"Non Dina...." sapa wanita itu


Dina menoleh ke arah datangnya suara "mbok Nah..." Dina mengembangkan senyumnya "apa kabar?"


"baik...baik Non...Non Dina apa kabar? Semakin cantik saja" puji mbok Nah


"baik...mbok Nah sekarang tinggal di sini?"


"enggak Non...mbok kemarin disuruh papanya Mas Toni menemani di sini karena katanya akan lama di sini"


"oh begitu....."


"ehemmm....ehemmm.....sudah kangen-kangenannya? sampai-sampai aku dilupakan, mbok temani Dina sebentar ya...aku ada pekerjaan sebentar"


"baik mas..."


"kamu tidak apa-apa kan kalau aku tinggal sebentar? Anggap saja rumah sendiri" ucap Toni tersenyum lembut


"iya..." jawab Dina singkat


Toni meninggalkan Dina di ruang keluarga di temani mbok Nah. Mereka asyik mengobrol, membicarakan Toni. Mbok Nah menceritakan Toni yang sekarang berubah menjadi orang yang dingin, waktunya hanya ia habiskan dengan kuliah dan bekerja.


Kini Dina tahu, Toni tampak berbeda, lebih tegas dan disiplin tak seperti Toni dulu yang ia kenal. Penampilannya pun banyak berubah, terkahir kali mereka bertemu Toni terlihat berantakan namun kini dia kembali rapi seperti Toni yang ia kenal.


Pengusaha muda, berwajah tampan Dina berpikir pasti banyak cewek-cewek yang berusaha merebut perhatiannya. Karena terlalu lelah, mendengar cerita mbok Nah seperti ia mendengar dongeng pengantar tidur, Dina pun akhirnya tertidur di sofa.


Mbok Nah meninggalkan Dina sendiri agar ia bisa tidur dengan nyenyak. Dan kembali ke kamarnya membereskan barang-barangya karena ia akan kembali ke rumah papa Toni bersama sopir perusahaan.


Seharusnya ia pulang bersama Toni, tapi karena Toni mengatakan akan pergi dengan Dina, mbok Nah pulang bersama sopir. Mbok Nah senang akhirnya Toni sedikit bisa tersenyum. Ia lega anak yang diasuhnya sejak masih bayi bisa bertemu lagi dengan Dina.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2