Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 204 Berpikir


__ADS_3

Setelah kepergian papanya, Toni terdiam dengan pikirannya. Ia mencintai Dina namun ada ragu di hatinya. Padahal dari awal dirinya yang mengejar-ngejar Dina tapi setelah Dina mau menikah dengannya rasa ragu itu semakin besar.


Dan semakin lama, keraguan itu semakin besar menutupi semua rasa cinta yang ia miliki. Entah kenapa Toni sendiri tidak tahu, hingga jadi seperti ini.


"apa keinginan kamu?" tanya Vanya memecah keheningan di antara mereka


"entahlah kak...aku sendiri juga bingung" Toni menyandarkan badannya matanya menatap ke langit-langit


Vanya mengerutkan dahinya "bingung kenapa?"


"aku sendiri juga tidak tahu..."


"kamu masih mencintainya?"


Toni terdiam, masih berpikir apakah selama ini semua itu cinta, atau hanya obsesinya semata.


"kasihan Dina, jangan permainkan anak orang....kamu yang memintanya pada kedua orang tuanya, jika kamu sudah tak bisa melanjutkan hubungan kalian, kamu harus mengatakan pada kedua orang tuanya"


"dan satu hal lagi, akhir-akhir ini aku memang sengaja menyuruhnya menggantikan aku bertemu beberapa klien, aku hanya ingin membuatnya terbiasa dengan urusan perusahaan, karena kelak kalianlah yang akan memegang kendali kantor pusat Wijaya Group"


Toni menghela nafasnya "aku tidur dulu kak...aku pusing..."


"jika kamu butuh waktu untuk membicarakannya pada Dina, besok aku akan memberikan cuti untuknya"


Toni berjalan naik ke kamarnya. Pikirannya kalut, ia bingung dengan apa yang ia rasakan sekarang. Kenapa mendapati Dina ingin membatalkan pernikahan mereka ia merasa sedih dan bingung, sementara ia terus menuduhnya mendua.


Padahal nyatanya, kedekatan Dina dengan beberapa pria semua itu untuk kemajuan perusahaan. Namun seolah Toni dibutakan oleh rasa cemburunya. Dan setelah rasa cemburu itu menutup hati dan pikirannya, ia merasa kosong seolah perasaannya selama ini hanya obsesinya semata.


.

__ADS_1


Pagi harinya Dina sudah berada di ruangannya, ia mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda karena perdebatannya dengan Toni. Dina lebih memilih menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan dibandiny harus berlarut-larut memikirkan Toni.


Dina masih menunggu Toni atau papanya menemuinya untuk memberi kejelasan tentang rencana pernikahan mereka. Dina masih berharap Toni bisa berubah, ia sudah enggan memulai hubungan yang baru.


Dina sudah menutup hatinya untuk pria manapun, ia ingin fokus dengan karirnya jika memang hubungannya dengan Toni berakhir. Semalam Dina sudah berpikir jika memang rencana pernikahannya batal, ia akan mengundurkan diri dari Wijaya Group.


Terdengar suara langkah kaki memasuki ruangannya, Dina mendongak melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.


"hari ini apa saja jadwalku?" ucap orang itu masuk ke dalam ruangan


"sebentar kak..." Dina memeriksa jadwal membaca satu per satu "tidak ada kak, hanya saja kemarin sore saya membatalkan pertemuan dengan PT ABC dan saya atur ulang siang nanti" ucap Dina


"baiklah...aku yang akan menemui mereka, hari ini ambilah cuti aku tahu kamu butuh istirahat, akhir-akhir ini semua pekerjaanku semua kamu ambil alih" ucap Vanya yang sebenarnya ia ingin memberikan waktu untuk Toni menyelesaikan masalah mereka.


"tidak perlu kak...aku lebih senang berada di kantor daripada harus cuti" Dina terkekeh "tapi terima kasih karena kakak begitu perhatian" Dina mengembangkan senyumnya


Vanya pun keluar dari ruangan Dina membawa berkas-berkas yang harus ia periksa. Tak lama setelah Vanya keluar dari ruangannya, Dina duduk bersandar pada kursinya, pekerjaannya hari ini diambil alih Vanya semua, ia bingung harus mengerjakan apa.


Vanya masuk ke dalam ruangannya, ia pun meletakkan semua berkas yang ia bawa dan duduk di kursinya. "sepertinya dia tidak tidur semalam, matanya masih terlihat sembab, kamu ke ruangannya saja, aku yakin dia sekaranh sedang tidur" ucap Vanya


"baik kak...terima kasih"


"ingat jangan sia-siakan dia! Jarang ada cewek seperti dia" Toni hanya mengangguk kemudian meninggalkan ruangan Vanya.


Toni dan Vanya tadi mereka berangkat bersama. Namun Vanya menyuruh Toni untuk menunggunya di ruangannya, ia ingin memastikan kondisi Dina.


Semalaman Toni berpikir, dirinya memang harus menyelesaikan masalahnya dengan Dina. Ia sadar, selama ini Dina selalu mendukungnya, apapun kondisinya Dina selalu menemaninya. Dina tak pernah meminta balasan apapun pada dirinya.


Tanpa mengetuk pintu Toni perlahan membuka pintu ruangan Dina perlahan, ia tak ingin mengganggu Dina dengan kedatangannya. Melihat Dina sedang duduk dengan mata terpejam Toni berjalan menghampiri Dina di kursinya.

__ADS_1


Toni mencium dahi Dina, ia merasa bersalah, telah membuat Dina kecewa dan marah padanya. Dina terkejut, ia langsung bangun dan hendak memukul Toni.


"pukul...ayo pukul aku...aku pantas mendapatkan lebih dari pukulan" ucap Toni dengan nada pasrah.


Dina menurunkan tangannya "aku kira orang lain" Dina kembali menyandarkan tubuhnya "ada apa kamu ke sini?"


"ini buat kamu" ucap Toni sambil memberikan sebuket bunga dan juga sekotak cokelat kesukaan Dina


"terima kasih" ucap Dina datar


"sayang...ayo ikut aku..." ucap Toni lembut


Dina mengerutkan keningnya, dalam semalam tiba-tiba sikap Toni berubah "kemana? ini masih jam kerja" tolak Dina halus


"aku sudah meminta ijin pada Vanya" ucap Toni


"oh...jadi karena kamu, Vanya mengambil semua pekerjaanku?" ucap Dina dengan nada sinis


"kenapa menuduhku? Aku tidak melakukan apapun" Toni jujur karena semua itu ide Vanya, bukan dirinya yang meminta


Dina menghela nafasnya "baiklah....Vanya memberiku cuti hari ini" Dina mengambil tasnya kemudian berdiri, Toni meraih tangan Dina dan menggandengnya.


Dina melirik pada tangannya yang digandeng oleh Toni. Sikap Toni kembali seperti sebelum-sebelumnya. Lembut dan begitu perhatian padanya, berbanding terbalik dengan sikapnya kemarin.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2