
Hari yang dinanti semua karyawan Wijaya Group telah tiba. Semua merasa senang karena di setiap acara ulang tahun perusahaan, mereka akan mendapatkan bonus atas hasil kerja mereka. Dan bagi yang kinerjanya bagus akan mendapatkan promosi jabatan dan tambahan bonus lagi.
Pukul tujuh malam, semua telah berkumpul di dalam ballroom hotel milik Wijaya Group tak terkecuali kedua orang tua Dina dan adik-adiknya mereka diundang secara khusus oleh Yanuar.
Papanya Dina sebenarnya tidak menyukai keramaian seperti itu, tapi demi menghargai calon besannya dan juga menjaga perasaan Dina akhirnya ia mau menghadiri acara tersebut.
Setelah mengucapkan selamat dan makan hidangan yang telah disediakan mereka pun berpamitan pulang. Padahal acara puncak belum juga dimulai, namun Yanuar tak bisa menahan lagi, ia tahu betul sifat calon besannya itu.
Dina malam ini memakai dress panjang berwarna biru tua, dengan belahan tinggi sampai pahanya dan berdada rendah, membuat ia terlihat sangat anggun dan seksi. Dina sedari tadi sibuk mengawasi para pekerja yang berlalu lalang menghidangkan makanan dan juga memasatikan semua pengisi acara sudah siap untuk tampil.
Para kolega, rekan bisnis Wijaya Group pun datang. Mereka ada yang membawa keluarga, anak-anak mereka ataupun membawa kekasih mereka. Tak sedikit yang memperkenalkan putri-putri mereka pada Tuan Yanuar dan juga Toni berharap bisa berbesan dengan pemilik Wijaya Group.
Dina mengamati dari jauh, Toni yang memakai jas dengan warna senada dengan dressnya nampak didekati beberapa wanita cantik dan tampak tak sedikitpun merasa terganggu. Namun ada yang berbeda pada malam ini, Toni tersenyum, biasanya ia selalu menampilkan wajah datar dan tegasnya pada setiap wanita yang mendekatinya, itu membuat dada Dina terbakar api cemburu.
Tibalah acara puncak, yaitu sambutan dari pemilik Wijaya Group. Tuan Yanuar naik ke atas podium untuk memberikan sambutan pada acara tersebut. Kemudian ia memperkenalkan Toni pada semua orang jika kini ia telah pensiun dan Toni yang menggantikannya.
Setelah acara sambutan dan juga pemberian penghargaan pada karyawan berprestasi kini saatnya acara hiburan. Dina telah mengundang artis ternama di negera ini. Namun sebelum itu, tiba-tiba Toni naik ke panggung dan mengambil mic penyanyi pembuka.
"maaf menyela sebentar..." ucap Toni dan semua langsung menatap ke arah Toni "malam ini saya ingin mengumumkan bahwa saya telah bertunangan dan akan segera menikah dalam waktu dekat" semua tamu riuh mereka bertanya-tanya siapakah tunangan Toni sang pewaris Wijaya Group
Tak sedikit para wanita mulai mencibir menghina siapa yang menjadi tunangan Toni. Selama ini Toni tak pernah mengumumkan secara resmi pertunangan mereka, hanya beberpa teman dekatnya dan juga para pemegang saham serta direksi yang tahu jika ia telah bertunangan dengan Dina. Bukan ada maksud lain, Toni hanya menghormati Dina yang tak ingin dikenal banyak orang.
Namun malam ini, ia sudah terlalu bersabar, ia ingin segera mengumumkan pada dunia jika dirinya akan segera menikah. Ia tak ingin ada yang mendekatinya ataupun mendekati Dina. Dan inilah saat yang ia rasa waktu yang tepat, di mana banyak kolega bisnis dan karyawannya berada di sana dan juga acara ini pun tak luput dari pemberitaan media.
"Tunangan saya adalah seseorang yang sudah saya kenal sejak di bangku SMA, cinta pertama saya dan juga pacar pertama saya, dia juga yang membuat acara malam ini berlangsung begitu meriah" Toni menjeda ucapannya dan mencari keberadaan Dina diantara kerumunan tamu undangan.
Toni memberi isyarat pada Rama untuk mencari keberadaan Dina. Ternyata ia duduk tak jauh dari panggung namun ia duduk di tempat yang gelap sehingga tak ada seorang pun yang menyadarinya. Setelah melihat Rama menemukan Dina ia pun melanjutkan lagi ucapannya.
"Namun karena kesalah pahaman hubungan kami sedikit renggang, pada kesempatan ini saya akan menyanyikan sebuah lagu khusus untuk tunangan saya, calon istri saya tercinta yang sedang duduk di sebelah sana" Toni menunjuk ke arah Rama berdiri karena Dina meminta Rama untuk menutupi keberadaan Dina.
Riuh ramai terdengar tatkala Toni menunjuk seseorang dan itu Rama, semua mengira jika Toni adalah punyak sesama jenis.
"Jocelyn Andina Prasetya, tolong maafkan semua salahku" ucap Toni menatap sendu pada Dina. Jika sudah begini Dina tak lagi bisa berkata-kata, Toni begitu romantis gengsinya telah runtuh saat itu juga.
Toni mengambil gitar, kemudian mulai memainkan sebuah lagu.
Kau begitu sempurna, dimata ku kau begitu indah
__ADS_1
Kau membuat diri ku, akan s'lalu memuja mu
Disetiap langkah ku, ku 'kan s'lalu memikirkan, diri mu
Tak bisa ku bayangkan hidup ku tanpa cinta mu
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Toni memberikan gitarnya pada pemain musik, dan mereka pun melanjutkan mengiringi Toni bernyanyi. Toni mengambil mic dan mulai berjalan menuruni panggung berjalan ke arah Dina berada. Sorot lampu pun mengikuti kemana langkah Toni
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Kau genggam tangan ku, saat diri ku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata, dan hapus semua sesal ku
Perlahan Toni menarik tangan Dina berjalan ke arah panggung, Dina tersenyum, sekali lagi mendapatkan perlakuan manis dari Toni, itulah yang membuatnya jatuh hati pada Toni.
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
__ADS_1
Sempurna, sempurna
Toni dan Dina sudah berada di atas panggung ia masih bernyanyi, menatap wajah cantik yang selama beberapa minggu ini selalu bersikap dingin padanya. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Ada yang senang ada pula yang mencibir dan mengolok-olok.
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
(Sempurna ~ Andra and the backbone)
Dina masih menggengam erat tangan Toni, ia begitu terbuai dengan apa yang Toni lakukan.
"sayang....maukah kamu memaafkan aku?" Tanya Toni dengan tatapan sendu
Air mata Dina luruh begitu saja, namun itu adalah air mata bahagia, ia menjawab dengan anggukan kemudian memeluk erat tubuh Toni. Sekali lagi, Dina jatuh dalam pesona seorang Louis Antoni Wijaya.
Toni mengurai pelukan mereka kemudian ia mencium lembut bibir Dina. Terdengar suara tepuk tangan yang menggema di seluru ruangan.
"perkenalkan, dialah Dina tunangan saya, mungkin beberapa kolega sudah mengetahui siapa dia, dia memang asisten saya, yang sengaja papa pilih untuk membantu saya mengurus perusahaan" Toni mengucapkannya dengan senyum yang mengembang kemudiaj kembali menatap Dina "terima kasih sayang, kamu selalu ada untukku" Toni mengecup tangan Dina mesra.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g