
Kuliah semester genap tinggal menghitung hari. Dina dihadapkan dengan ujian akhir semesternya. Dina meminta pada Toni untuk sementara waktu tak menemuinya.
Dina ingin konsentrasinya tidak terbagi dengan pacaran. Semester ini ia harus bisa mendapatkan nilai yang bagus agar semester depan ia bisa tenang mengerjakan skripsi.
Hal itu membuat Toni uring-uringan. Di kantor hanya kesalahan kecil saja ia akan marah besar. Bahkan Raya yang sudah hamil besar pun sering terkena omelan Toni.
"si bos kenapa lagi Ray?" tanya Yeni salah satu karyawan Toni
"entah...lagi dapet kali..." jawab Raya asal
"hampir seminggu uring-uringan nggak jelas....biasanya suamimu kan bisa bikin bos nggak uring-uringan"
"kamu lihat sendiri Ridwan dari tadi mondar-mandir keluar masuk ruangan bos dengan wajah kusut" ucap Raya
"sepertinya bos butuh pawang" Yeni tersenyum miring kemudian ia berjalan masuk ke dalam ruangan Toni
"hah... Mau apa kamu Yen?!" teriak Raya
"bikin bos tenang lah...!"
Raya berjalan menarik tangan Yeni "jangan macam-macam, bisa-bisa kamu dipecat!"
"kalian ini kenapa malah ngobrol...ayo kerja...kerja...!" ucap Ridwan tampak frustasi
"itu bosmu perlu dicarikan pawang biar jinak Wan..." celetuk Yeni
"Yeni...!" Raya menatap tajam pada Yeni
"pawang?" Ridwan bingung sedetik kemudian ia mengerti "oh...iya...itu karena pawangnya si bos sedang nggak mau ditemui makanya begitu...sudah...sudah...jangan macam-macam atau pekerjaan kita jai taruhannya" Ridwan meninggalkan kedua wanita itu
Di dalam ruangannya Toni berkali-kali melihat ponselnya namun tak ada pesan yang masuk dari Dina. Bahkan pesan singkat yang ia kirim tadi pagi belum juga di balas.
Ridwan masuk ke dalam ruangan Toni dengan membawa tumpukan dokumen yang harus ia periksa.
"Wan...kenapa Dina nggak balas pesanku?"
"mungkin sibuk bos..." jawab Ridwan asal
"sibuk....masak balas pesan saja nggak bisa" Toni kesal
"dulu si bos juga begitu kan? Dua bulan lebih malah, ini mbak Dina cuma minta 10 hari bos sudah begini" cibir Ridwan
__ADS_1
"kamu mau aku pindah ke cabang lain hah?!" Toni semakin kesal
"nggak masalah bos, tapi Raya juga ikut sayaa pindah" ucap Ridwan asal
"tugasmu bagaimana? Sudah selesai belum?"
"sudah...tinggal eksekusi saja, memangnya si bos mau melamar mbak Dina kapan?"
"besok waktu dia ulang tahun, tinggal satu setengah bulan lagi...kamu harus siapkan pesta kejutan buat dia, pokoknya aku mau yang spesial dan sempurna!"
"bos beli telor saja yang banyak" Ridwan kembali menguji kesabaran Toni
"kenapa beli telor banyak-banyak Wan?!" Toni semakin kesal
"yang spesial kan pakai telor bos" Ridwan buru-buru pergi meninggalkan ruangan Toni.
.
Di kampus Dina sedang duduk di lobi, ia bercanda dengan teman-temannya. Ia memang sengaja mengerjai Toni. Dina tidak membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh Toni, jikalau pun membalasnya Dina hanya membalas dengan singkat namun padat.
Ia tidak mengetahui jika perbuatannya itu membuat orang-orang di kantor Toni mendapat masalah. Yang ia pikirkan hanya membalas Toni, atas perbuatannya beberapa bulan yang lalu.
Dina masih kesal jika mengingat ia diabaikan oleh Toni. Dan setelah itu ia dicemburui padahal ia tak melakukan apapun. Dina ingin melihat apakah Toni akan bersabar seperti dirinya atau marah-marah kemudian mendatangi dirinya.
Dina ingin memberikan kejutan untuk Toni, ia mengendarai motornya pergi ke kantor Toni. Sampai di kantornya, meja resepsionis kosong, Dina langsung naik ke lantai 2 dimana kantor Toni berada.
"siang kak Raya...."sapa Dina ketika melewati meja Raya "Toni di dalam kan?"
"eh...mbak Dina" Raya terkejut "hmm...ada...tapi..." Raya ragu
"aku langsung saja, aku tidak akan mengganggunya..." ucap Dina tersenyum kemudian membuka pintu ruangan Toni pelan-pelan.
Namun bukan Toni yang terkejut, melainkan Dina. Ia melihat Toni duduk di kursi kerjanya dan di depannya ada seorang wanita berpakaian seperti kurang bahan duduk di atas meja kerja Toni.
Dina berusaha tenang, meski dalam dadanya bergemuruh ingin memaki Toni atau wanita itu. Tapi Dina tak mau terpancing emosinya begitu saja. Ia masih mencoba berpikiran positif, bahwa apa yang ia lihat tak seperti yang ia pikirkan.
Dengan langkah pelan ia berjalan ke meja kerja Toni, kemudian ia duduk di seberang Toni. Toni terkejut melihat Dina yang tiba-tiba duduk di depannya dengan senyum yang menakutkan baginya.
"sayang....kapan kami datang?" Toni gugup, wanita yang duduk di depan Toni pun menoleh ke Dina.
"baru saja..." ucap Dina santai
__ADS_1
"kenapa aku tidak tahu?" Toni terlihat panik kemudian ia beranjak dari duduknya.
"oh....kamu....mau apa kamu ke sini?" tanya wanita yang duduk di depan Toni dengan tatapan sinis
"mau apa? Aku ke sini mau memberi kejutan pacarku, ternyata aku yang terkejut" Dina terkekeh
Toni terlihat ketakutan, melihat sikap Dina yang santai. Ia belum pernah melihat Dina menghadapi situasi seperti ini dengan setenang itu.
"pacar? Toni pacarku! Bukan pacarmu!" ucap wanita itu ketus
"begitukah?....coba kita tanya Toni siapa pacarnya?" Dina tersenyum, namum senyum Dina semakin membuat Toni ketakutan.
"kamu..lah...siapa lagi pacarku?" Toni gugup
"kamu dengar?" Dina tersenyum mengejek
"kenapa kamu tidak mengakuinya Ton?! Aku pacarmu, aku sudah memberikan segalanya padamu! Kenapa kamu begini?" cewek itu histeris
"kita sudah lama putus An....!! Sebaiknya kamu pergi dari kantorku!!" ucap Toni
"harusnya dia yang pergi bukan aku!!" Andini menunjuk Dina
"kamu dengarkan Toni menyuruhmu pergi?" Dina masih menghadapi Andini dengan sikap tenang
"aku tidak mau, aku punya hak berada di sini!" Andini histeris
Dina tak menghiraukan ucapan Andini, ia meraih gagang telepon kemudian ia memencet tombol.
"tolong suruh satpam ke ruangannya Pak Toni" ucap Dina dingin
Toni hanya diam, ia tak berani membantah Dina. Ia memang tidak menginginkan kehadiran Andini namun hari ini karena ia terlalu kesal dengan Dina, ia membiarkan Andini berbuat sesukanya. Toni sebenarnya ingin melampiaskan kekesalannya pada Andini, namun Dina keburu datang.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Jangan lupa ritualnya ya bestie....like komen dan votenya ya
__ADS_1
Terima kasih