
Jam pulang kerja telah tiba, sampai Dina selesai bersiap Toni belum kembali ke kantor. Dina memutuskan untuk pulang tanpa menunggu Toni datang.
"hai Din...." Bagas mendatangi meja Dina "sudah mau pulang? Bareng aku yuk..."
"maaf Gas...aku bawa motor sendiri..." ucap Dina sopan tak ingin menyinggung Bagas
"kalau besok pagi aku jemput kamu gimana? Kos kamu dimana?" Bagas tak mau menerima penolakan
"nggak perlu Gas...aku naik motor sendiri saja" tolak Dina secara halus.
Dina merapikan meja kerjanya, ia mengambil tas dan jaketnya "aku pulang dulu ya..." Dina bergegas meninggalkan Bagas ia tak mau Bagas mengajaknya berbicara lagi.
Dina mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, di tengah jalan ia merasa ada yang mengikutinya. Dina pun membelokkan motornya di kos Caca.
Dina tak ingin Bagas mengetahui dimana kosnya. Dina merasa tidak nyaman, tatapan Bagas padanya seolah-olah menganggapnya cewek yang mudah didekati.
Dina juga tak ingin membuat hubungannya dengan Toni kembali rumit. Toni sangat pencemburu dan tempramental jika menyangkut Dina. Ia tak mau Toni kembali marah padanya hanya karena ia berteman dengan Bagas.
Dua hari Toni benar-benar sibuk, ia datang pagi ke kantor memeriksa dokumen sebentar setelah itu dirinya pergi keluar sampai sore hari. Dina merasa sedikit risih karena Bagas yang selalu saja ke mejanya jika ada waktu luang.
"kak Ridwan..." Dina masuk ke ruangan Ridwan
"iya Non..." Ridwan bangkit dari duduknya
"kak....aku mau ke kampus dulu ya...." ucap Dina
"nanti kalau si bos mencari Nona bagaimana?" ucap Ridwan sopan
"bilang saja...aku bimbingan...oo...iya...besok pagi aku datang terlambat...aku mau ke kampus dulu sebelum ke sini..."
"baik Non..." ucap Ridwan sopan
Dina meninggalkan ruangan Ridwan, dan berjalan keluar dari kantor Toni. Sebenarnya itu karena ia ingin menghindari Bagas saja karena Toni tak ada di kantor.
"Dina...mau kemana?" Dina tak sengaja bertemu Bagas di tempat parkir
"keluar sebentar....ada perlu..." ucap Dina
"aku antar ya..."
"nggak...nggak perlu...urusan permpuan..." kilah Dina
Dina buru-buru naik ke atas motornya dan meninggalkan kantor Toni. Dina ke kampusnya, menyelesaikan skripsinya yang sempat tertunda.
Dina menyusuri lorong kampus perkuliahan mahasiswa ekonomi yang sudah jarang sekali ia lalui. Setiap melalui lorong itu ia selalu merasa ada yang mengawasinya, entah siapa ia tidak tahu. Hanya saja itu membuat ia tidak percaya diri melewati lorong itu.
__ADS_1
Dina berjalan santai melewati lorong itu, dan diujung lorong dekat dengan lobi fakultasnya ia bertemu dengan orang yang selama ini menjaganya.
"Din....lama nggak kelihatan..."
"eh...Dod...." ucap Dina tersenyum ramah
"lama nggak kelihatan di kampus, kamu kemana saja?" ucap Dodi
"aku sekarang sudah skripsi...jadi ya...paling ke kampus buat ketemu dosen saja..."
"oh....begitu ya..." Dodi terkekeh "eh...sudah tahu belum Dendy kecelakaan?"
"hah....kecelakaan?" Dina membulatkan matanya
"iya..."
"terus keadaannya gimana?"
"masih di rumah sakit, aku belum ke sana lagi..." ucap Dodi
"di rumah sakit mana?" ucap Dina dengan nada kawatir
"di rumah sakit S, kamu mau ke sana?" tanya Dodi yang tahu Dina sangat kawatir pada Dendy
"mau sih Dod....tapi..."
"baiklah....tunggu sebentar ya....aku mau ke ketemu dosenku dulu..."
Dengan perasaan campur aduk, Dina masuk ke ruang dosen. Selama bimbingan pikirannya terus tertuju pada Dendy. Biar bagaimanapun Dendy pernah menjadi bagian masa lalunya, hingga kini ia masih menyimpan rasa itu.
Tapi ia jug takut jika Toni tahu, mereka akan terlibat perselisihan lagi. Dina bingung, sementara ia kawatir dengan kondisi Dendy, tapi ia juga kawatir akan kecemburuan Toni jika ia tahu Dina menjenguk Dendy.
Setengah jam berlalu, Dina keluar dari ruang Dosen pembimbingnya. Ia mendapati Dodi duduk di tangga di perbatasan antara fakultas ekonomi dan fakultasnya.
"Dod..." Dina duduk di sebelah Dodi
"sudah selesai?" Dodi menoleh ke arah Dina
"seberapa parah kondisi Dendy?"
"tidak terlalu parah, hanya luka biasa saja hanya saja...."
"kenapa Dod...?" Dina menatap Dodi penuh tanda tanya
"Dendy dirawat karena masalah di lambungnya"
__ADS_1
"oh..."
"Din...aku mau tanya sesuatu" ucap Dodi sambil menatap cincin yang melingkar di jari manis Dina
"apa Dod?" Dina menatap Dodi
"kamu masih cinta sama Dendy?" Dodi menatap Dina dengan rasa ingin tahunya
Dina menghela nafasnya "pertanyaan yang susah kujawab Dod...."
"kenapa?"
"rasa itu masih ada, tapi entahlah...mungkin hanya aku yang merasakan, biarlah semua jadi kenangan....kenangan indah yang nggak mungkin aku lupa"
"terus cincin di jari kamu itu?" Dodi semakin penasaran, ia tahu Dina tak begitu suka memakai perhiasan yang mewah, memakai barang-barang mahal
"ini?" Dina menunjukkan jari manisnya "ini kenyataan yang ada di depan mataku, bukan sekedar angan-angan atau kenangan"
"siapa Din?"
"seseorang yang telah lama memperjuangkan perasaannya, seseorang yang mau berjuang dan berkorban demi aku" Dina tersenyum menatap Dodi
"kamu mencintainya?"
Dina tersenyum "ayo...katanya mau ke rumah sakit?" Dina beranjak dari duduknya "naik motorku saja ya Dod..."
"baiklah..." ucap Dodi mengikuti Dina ke tempat parkir motornya. Dodi membonceng Dina ke rumah sakit menjenguk Dendy. Perasaan Dina campur aduk, antara berharap dan membuany jauh rasa yang ada.
Dua puluh menit mereka berkendara, akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang dimaksud Dodi. "Dod....kalau aku jenguk Dendy kira-kira ada yang marah nggak?"
"maksudmu?" Dodi melepas helmnya
"ya...maksudku mungkin kalau ada yang sedang dekat dengan Dendy..." jawab Dina ragu
"kamu ke sini hanya jenguk dia kan?"
"iya...."
"kalau kamu nggak yakin, cukup lihat sebentar saja....anggap saja kalian teman lama" Dodi dan Dina berjalan menyusuri ruang-ruang rawat inap di rumah sakit itu
Dina berusaha meyakinkan dirinya, jika ia dan Dendy hanya teman lama, ia menjenguk Dendy hanya karena kemanusiaan. Ia berusaha agar tak terbawa perasaan saat bertemu dengan Dendy nanti.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g